*Oleh Ainun Dyan Suttie P, S.Pd.
- Jera
Seorang anak yang bernama Agus adalah anak yang sering ikut-ikutan temannya untuk berlebihan dalam membelanjakan uang saku yang diberikan orang tua saat di sekolah. Hingga sering kali ia harus berjalan kaki pulang dari sekolahnya karena kehabisan uang dan tidak bisa membayar ongkos bus.
Sepulang sekolah, Pepen dan Rizal mengajak Agus untuk menumpang bus, namun Agus menolak dengan alasan takut pada kondekturnya karena dia sudah tidak punya uang.
Memang sudah menjadi kebiasaan dari anak sekolah, menaiki bus dengan gerombolan dan ketika ditanya bayaran selalu mengelak. Membuat kondektur bus kuwalahan karena banyaknya anak- anak. Kondektur sudah bosan berteriak dan memarahi anak- anak tapi tidak membuat mereka sadar akan perilakunya. Namun bagi Agus ketika ia tidak memiliki uang pantang untuk naik bus lebih baik berjalan kaki sampai rumah.
Sampai di rumah disambutnya Agus oleh sang ibu dan bertanya mengapa baru pulang, dengan berani Agus berkata jujur bahwa ia jalan kaki karena kehabisan uang. Ibunya sangat bangga memiliki anak yang jujur, dengan segera Sang Ibu menyuruh Agus berganti pakaian dan segera makan. Baru saja hendak makan datanglah ibu Pepen menanyakan anaknya kenapa belum pulang. Agus menjawab tidak tahu karena memang Pepen seharusnya sudah sampai rumah karena naik bus.
Dalam kecemasannya tak lama kemudian datanglah Pepen dipapah oleh kawan-kawanya. Ibunya kaget kenapa anaknya jadi pucat pasi, dipenuhi luka pada kaki. Setelah ditanya ternyata Pepen jatuh dari bus. Laju bus belum berhenti ia sudah melompat hingga dia terjatuh dan mengalami luka. Setelah kejadian itu Pepen jera dan tidak mau lagi ceroboh ketika naik bus.
- Akhirnya Ketahuan Juga
Seorang anak yang bernama Didin merupakan anak dari keluarga miskin. Hidupnya sangat prihatin namun dia merupakan anak yang rajin.
Karena terlalu miskin hingga membuat Didin seringkali meminjam mistar atau buku bacaan pada temannya yang bernama Prana. Hal itu membuat Prana jengkel dan menyebutnya sekolah tidak modal. Prana sering rusuh dan berkelahi dengan teman- temannya. Namun Didin tidak pernah takut dengan Prana sehingga membuat Prana semakin benci.
Suatu hari ketika pagi hari Didin sudah sampai di sekolah, Prana yang tidak mengerjakan tugas langsung meminta buku Didin agar ia bisa menyalin tugas. Namun dengan tegas Didin tidak mau meminjamkan meski ia merupakan anak yang selalu menolong temannya tapi Didin tidak mau menolong dalam hal kejelekan. Prana merasa terhina dan marah hingga direbutnya buku Didin dan segera menyalin di bukunya. Tak lama kemudian lonceng berbunyi, Pak Guru memeriksa tugas anak- anak. Ketika memeriksa buku Prana Pak Guru curiga dengan jawabannya. Pak Guru mengintrogasi Didin dan Prana siapa yang diantara kalian menyontek tugas temannya.
Dengan keras Didin membela dirinya sendiri yang tidak menyontek milik Prana. Sebaliknya Prana tidak mau mengaku dia juga tidak menyontek milik Didin.
Dengan tegas Pak Guru meminta kedua anak tersebut mengerjakan jawaban di papan tulis secara bersama-sama. Dengan mudah dan lancar Didin mengerjakan namun sebaliknya Prana bingung. Dengan begitu jelas siapa yang bersalah dan tidak. Itulah cara Pak Guru membuktikan setiap perkataan Prana dan Didin. Prana merasa bersalah dan meminta maaf kepada Didin dan juga Pak Guru.
- Kamar Angker
Oding sedang berlibur di rumah kakek dan neneknya. Rumah peninggalan keluarga besar mereka. Warisan dari nenek buyut. Rumah tersebut sangat besar dan memiliki banyak kamar.
Waktu Oding tidur di kamar yang sudah disiapkan oleh kakek nenenya, ia sering mendengar suara aneh seperti menggesek- gesek jendela. Segera Oding melompat dari ranjang dan berteriak ketakutan. Segera berlari ke kamar kakek dan menceritakan hal aneh yang di alaminya tadi namun dengan cekatan kakek menjelaskan bahwa itu hanya khayalan Oding saja.
Oding memutuskan untuk meminta kakek tidur bersamanya di kamar yang disebutnya angker tersebut. Sang Kakek menyetujui dan menemani Oding. Tak lama kemudian terdengar lagi bunyi yang sama yang diceritakan Oding. Dengan langkah pelan Sang Kakek membuka jendela karena merasa penasaran dan membawa lampu pijar menuju sumber suara.
Ternyata suara itu bukan hantu atau semacamnya karena suara aneh itu berasal dari gesekan daun pisang yang sudah kering dengan jendela kamar yang ditempati Oding.
Oding berdiri dan merasa girang karena penyelidikan telah berhasil. Ia tak takut lagi karena memang tidak ada hantu. Malam berikutnya ia tidur di kamar tersebut dengan nyenyak.
- Rindu
Pak Lambo adalah seorang pedagang kain. Sering berdagang keliling mengunjungi kota- kota. Sekarang Pak Lambo berada di Jakarta ia menumpang hidup di rumah temannya yang sama juga bekerja sebagai penjual kain. Namanya Pak Asri. Pak Asri memiliki seorang anak yang bernama Siti, Pak Lambo sangat sayang kepada Siti. Setiap malam sering membaca dongeng untuknya karena Pak Lambo menganggap Siti sebagai intang putrinya. Hal itu cukup mengobati kerinduan Pak Lambo kepada anaknya.
Sudah beberapa hari Pak Lambo tidak pulang ke rumah Pak Asri, tidak ada kabarnya juga. Tentu saja Siti merasa kehilangan. Setiap sore Siti sengaja menunggu Pak Lambo di beranda rumahnya barang kali nanti akan datang berkunjung lagi.
Kemurungan Siti dilihat oleh ayah dan ibunya, mereka khawatir dan takut Siti tidak bisa lepas dari Pak Lambo. Orang tua Siti berusaha hendak menjauhkan diri dari Pak Lambo karena takut akan Siti dibawa ke kampungnya.
Suatu hari ada pesta sunatan tetangganya, Siti yang sedih merasa terhibur dengan adanya hiburan ondel- ondel.
Ondel- ondel itu berjalan menjauh dan berputar- putar. Siti mengikuti langkah kemana ondel- ondel tersebut hingga jauh dari rumahnya. Ayah dan ibunya merasa khawatir akan hilangnya Siti dari rumah. Berita hilangnya Siti didengar oleh tetangga, mereka mengira Pak Lambo telah menculik Siti.
Pak Lambo kembali lebih cepat dari rencana semula, ia merasa kangen kepada Siti. Setelah agak lama perjalanan, alangkah kagetnya Pak Lambo melihat Siti seorang diri sedang di kerumuni banyak orang yang sedang menanyakan dimana rumahnya. Tapi belum sempat membawanya ke kantor polisi, Pak Lambo sudah datang menghampiri lalu mengajak Siti pulang ke rumahnya.
Namun sesampainya di rumah alangkah kagetnya Pak Lambo karena disangka menculik Siti. Hendak menerangkan apa yang terjadi tak ada kesempatan sebab orang- orang sudah naik pitam. Untung Pak RT dapat melerainya kalau tidak Pak Lambo sudah pasti babak belur. Setelah Siti segar kembali akhirnya ia bisa menjelaskan tentang apa yang terjadi. Dan Pak Asri beserta tetangga meminta maaf kepada Pak Lambo karena sudah berpikiran jelek. Setelah kejadian tersebut Pak Lambo memutuskan pulang ke kampung Bugis karena kangen dengan Itang .
- Gelandangan dan Dermawan
Seorang gelandangan yang tidur di pinggir jalan, emperan toko. Terkadang mau bekerja sebagai pemulung namun terkadang juga meminta- minta kepada orang lain. Pada suatu hari ada pembersihan oleh petugas. Emong baru datang dan menemui kawan- kawan yang sedang digiring naik ke dalam truk. Tinggallah Emong sendiri, tiada kawan. Dengan siapa lagi ia akan bermain kalau teman senasibnya sudah tak ada. Ia duduk sendiri sambil menangis teringat teman- temannya. Di seberang jalan sekelompok anak- anak yang memakai sepatu mengkilat dan tas bagus. Tak berapa lama ada seorang tuan turun dari mobil sedan, Emong sangat ketakutan dikiranya ia akan dibawa seperti teman- temanya. Namun dugaannya salah ternyata tuan itu sangat dermawan, ia ingin menyekolahkan Emong. Tinggal di rumah yang bagus, memiliki taman bunga yang luas. Namun ternyata itu hanya mimpi. Emong terbangun di sekitar alat kebersihan dan truk di depan matanya. Seorang petugas menjelaskan kepada Emong bahwa ia tak akan menangkapnya dan menyiksa melainkan mengajarkan sesuatu keahlian agar Emong mampu berkarya dan bisa sekolah bukan berada di jalanan.
- Mataku Buta
Dua anak sebaya duduk di bawah pohon rindang dan sedang menghitung uang hasil mengemisnya. Terlihat uangnya memang banyak tapi semuanya hanya lima perakan. Uang milik Mitra berjumlah Rp. 185.00 dan milik Dulo Rp.186.00
Kehidupan mereka hari demi hari menyeret kaki keliling dengan menengadahkan tangannya meminta belas kasihan orang sekitar yang berlalu lalang di jalanan dan berada di rumah yang mereka kunjungi. Uang hasil mengemis mereka gunakan untuk makan, namun sering kali mereka tidak mendapatkan hasil sama sekali sehingga mereka juga tidak bisa makan seharian.
Malam itu mereka tidur di emperan toko beralaskan karton dan berselimut koran. Meski di tengah keterbatasan tidur mereka sangat nyenyak.
Ketika matahari terbit mereka cepat bangkit dan merogoh saku, betapa kagetnya karena uang yang kemaren ia miliki lenyap. Dulo tak percaya namun apa yang dikatakan Mirta benar, uang mereka hilang.
Dulo malah curiga kepada Mirta, meski Mirta sudah menjelaskan. Kelepasan sudah Dulo menuduh Mirta sebagai pencuri, dengan kesal akhirnya Mirta menempeleng wajah Dulo. Namun penyesalan segera menghampiri karena mata Dulo buta. Mirta sedih dan meneteskan air mata sambil meminta maaf. Akhirnya dua sahabat itu pun berangkulan dan berdoa semoga mereka diberikan ketabahan dalam hidupnya.
- Menepati Janji
Nasib malang telah menimpa seekor tikus ketika sedang mencari makan di lumbung bertemu seekor kucing. Ternyata lumbung itu adalah tempat kucing berada. Ingin pergi dari sana namun apalah daya tikus tidak bisa.
Kucing tersebut ingin melahap tikus, tikus memohon ampunan agar bisa dilepaskan. Sang tikus memelas dan berkata bahwa anak- anaknya masih merah dan badannya pun masih lemah. Namun memiliki rasa sedikit percaya pada tikus. Akhirnya kucing melepaskan tikus, karena si tikus berkata bahwa nanti kalau anak- anaknya sudah besar ia akan datang pada kucing dengan sendirinya.
Setelah anak- anak tikus besar, ibu tikus tadi mengumpulkan semuanya dan berkata bahwa ia akan meninggalkan mereka dan memenuhi janji kepada sang kucing. Anak- anak tikus sangat sedih.
Ketika tikus sudah berada dihadapan kucing sang tikus berkata bahwa” ini aku sudah datang untuk memenuhi janji’. Kucing hanya melongo, tak sampai hati ia memakannya. Malah air mata sang kucing keluar dan mengatakan pulanglah kesarangmu. Belum lagi tikus mengucapkan terima kasih, tiba- tiba ular datang dan secepat kilat menyambar tikus. Dengan cepat kucing menggigit ular dan ular pun membelit kucing. Mereka sama- sama kuat, meskipun tikus sudah tak bernyawa. Tak ada yang mau mengalah, sampai ular mati dan si kucing masih bernapas satu- satu. Kejadian ini disaksikan anak- anak tikus. Kucing mengetahui bahwa anak-anak tikus melihat kejadian ini dari awal hingga akhir. Kucing berpesan bahwa tirulah ibumu yang selalu menepati janji sampai ajal menjemput.
- Karcis yang Hilang
Nandi merasa kesempitan berada di bus yang padat penumpang, ia diminta ayahnya menyampaikan surat kepada kepala sekolah. Sebenarnya ia sudah mendapatkan tempat duduk namun melihat seorang nenek berdiri maka terbitlah rasa kasihan dan mempersilahkan nenek itu duduk di tempatnya. Bus terus melaju, tiba- tiba Nandi melihat kantong bapak- bapak yang sedang dirogoh oleh seseorang. Cuma ia takut ingin berteriak. Sampai di terminal berikutnya bus berhenti dan naiklah petugas lalu lintas, rupanya ada pemeriksaan karcis.
Malang nasib bapak yang tadi kantongnya di rogoh seseorang, ia kehilangan karcis. Maka timbullah sengketa antara kondektur dan bapak tua tersebut. Bis berhenti dan tak mau jalan karena sengketa itu malah rusuh mereka tak ada yang mau mengalah. Akhirnya petugas lalu lintas tersebut mengambil kebijakan untuk menurunkan kondektur dan bapak tua tadi namun sebelum itu terjadi Nandi mendekati petugas dan menceritakan bahwa bapak tua itu kecopetan. Petugas dengan sigap menangkap kawanan pencopet dalam bus tersebut, mereka tidak bisa berkutik karena memang bukti juga ada di mereka. Petugas berterima kasih kepada Nandi karena keberaniannya menceritakan hal itu. Lalu Nandi dan kondektur segera naik bus lagi dan melanjutkan perjalanan.
- Aku Ingin Sekolah
Dirman seorang anak yang sudah seharusnya sekolah namun karena keterbatasan sang ibu ia terpaksa belum mendapatkan kesempatan itu. Dirman selalu dibacakan cerita sama teman- temanya ketika ada buku yang mereka bawa. Karena Dirman belum bisa baca tulis, ia masih buta huruf.
Untuk makan sehari- hari ibunya harus bekerja keras dan memang mereka serba kekurangan setelah ditinggal ayahnya.
Dirman merasakan kesedihan, namun ketika ia berada di luar bersama temannya Dirman merasa kesal karena mereka selalu menceritakan tentang sekolah dan sekitarnya. Ia iri dan ingin merasakan juga. Merasa rendah, hingga muncul ide ia harus mendapatkan uang untuk sekolah. Sang Ibu memberikan nasihat bahwa ketika bekerja harus jujur agar nasib baik selalu menyertainya. Dirman berjualan koran dan selalu menabung dari hasil bekerjanya itu. Kemiskinan yang dialami Dirman banyak juga dialami orang lain, di saat anak seusianya sekolah namun karena keadaan ia harus bekerja dan menabung guna bisa masuk sekolah.
Maka hati yang dinanti tiba dengan cukup tabungannya Dirman membeli sepatu, tas dan berangkat ke sekolah. Dirman diantar ibunya dihari pertamanya. Oh beginilah rasanya sekolah, kata Dirman. Dirman sangat senang berada di lingkungan sekolah bersama teman- teman dan guru. Meski ada yang menghina sebesar itu baru kelas 1, namun Dirman tidak sakit hati ia malah semangat sekolah karena di tengah keterbatasannya ia bisa merasakan hal yang smaa denga teman- temanya.
- Siapa Pembunuhnya
Pulang sekolah, Komar kaget mendapatkan ayamnya mati di halaman rumah. Tasnya pun belum ditaruh di tempatnya, pikirannya sudah berkelana kenapa ayamnya mati tiba- tiba. Dengan tergesa- gesa Komar memanggil ibunya dan berteriak, Bu…ibu si burik mati. Siapa yang tega membunuhnya. Anak si burik menangisi induknya Bu.
Lalu mereka bergegas pergi ke depan untuk melihat ayamnya namun ayam tersebut sudah tidak ada. Didin yang melihat Komar bingung lalu menghampirinya. Didin pun berkata bahwa ayam jagonya juga mati. Mereka berfikir siapa yang membunuh a,am dan mencuri bangkai.
Mereka sepakat untuk menyelidiki da mencari bersama. Dengan perasaan ingin tahu yang besar, mereka bersembunyi dibalik pohon besar. Mereka melihat seseorang dengan keranjang yang sudah dipenuhi bangkai ayam. Ternyata memang ia sengaja memberikan racun pada umpan ayam agar ayam tersebut mati dan mengambilnya serta menguliti bulunya agar bersih dan di jual dipasar. Tak berapa lama ada seorang polisi datang dan menangkap orang tersebut dan membawa semua bukti agar tidak meresahkan warga.
- Anak Tukang Minta- Minta
Anak bernama Ujang duduk bersila di pinggir jalan sambil bernyanyi dan menengadahkan kedua tangannya. Ia tumbuh menjadi kaum pengemis di ibu kota. Orang tuanya juga sering meminta- minta hingga ia pun mengikuti jejak mereka. Namun akhir- akhir ini ia sudah jarang menengadahkan tangannya, sering melamun ketika melihat teman sebayanya berlalu lalang menjual koran. Ujang merasa iri mengapa ia tak bisa seperti mereka yang bekerja sebagai tukang semir sepatu, tukang cuci mobil, penjual koran melainkan ia hanya sebagai pengemis. Dengan tekad yang bulat ia ingin menabung sebagai modal awal agar berhenti sebagai pengemis. Setelah cukup ia membeli kotak bekas sabun dibuatnya peti untuk dagang rokok. Dengan lincah dan gesit ia lari kesana kemati untuk melayani pembeli yang ingin membeli dagangannya. Semua itu dilakukan Ujang dengan sungguh- sungguh. Meskipun ia pernah mengalami ada sekelompok pemuda mengambil rokok dagangannya tanpa membayar, Ujang tetap semangat. Karena ia tak harus meminta belas kasihan orang lain. Ujang bangga akan usahanya sendiri.
- Si Garong
Seekor kucing yang Suak berkelahi, memiliki bulu yang hitam lebat mengkilat. Buntut panjang dan tebal hanya mukanya saja penuh cakaran. Si garong namanya, seekor kucing tidak ada pemiliknya yang sangat menyusahkan orang. Setiap malam hari ia memulai aksinya mencuri ikan, menangkap tikus, bahkan ia memakan anak kucing dari bangsanya sendiri.
Suatu hari kemalangan menimpanya, ketika ia masuk keep kandang ayam banyak orang ingin menangkapnya. Dengan tergesa ia lari tanpa melihat jalan Yang ia lewati sampai garong tidak tahu masuk ke sumur. Malang nasibnya garong tak dapat berbuat apa-apa hingga ia mati mengenaskan di dalam sumur.
- Sebatang Kara
Nana yang baru berumur 12 tahun sudah hidup sebatang Kara. Ia menyusuri jalanan guna mencari lowongan pekerjaan. Namun ia merasa rendah diri ingin memasuki rumah megah disekitar jalanan tersebut. Ia harus berebut nasi sisa dari warung-warung guna dimakan. Terkadang nana juga terpaksa mengemis untuk sesuap nasi.
Setelah memberanikan during dan menguatkan hating IA berhasil memasuki beberapa rumah dan menerangkan Maksud dan tujuannya. Ada yang menolak karena sudah mempunyai pembantu ada juga Yang tak mengindahkan kedatangannya. Akhirnya sampailah pada penghuni rumah mewan Yang msmiliki pekarangan luas Yang juga membutuhkan seseorang untuk mengurusnya. Nana Sangat senang, ia Bertha dengan rajin namun suatu hari nana dituduh mencuri celana dan kemeja milik majikannya, meskipun Ia tidak melakukan hal itu nana menjelaskan meskipun tidak merubah keadaan dimana ia harus meninggalkan rumah tersebut.
Nana mendapatkan sebuah pengalaman berharga bahwa dalam mendapatkan amanah seseorang Harus berhati-hati dan tak lupa selalu berdoa agar dijauhkan dari tuduhan keji karena sebaik- baik manusia adalah Yang bernaung dan berlindung pada Tuhan Yang Maha Kuasa.
- Salah Sangka
Sebuah kehidupan dari 2 orang anak gelandangan, Yang tua bernama Tono Dan Yang muda bernama MadI. Mereka bekerja sebagain tukang semir sepatu, tukang cuci kendaraan atau kerja apasaja Yang penting tidak mencuri dan tidak mengemis.
Pada suatu hari tak ada yang menyemir sepatu, mencuci kendaraan sehingga Toto dan Madi tidak mempunyai uang sepeserpun. Mereka bingung mau makan apa perut sudah terasa sakit karena lapar. Akhirnya mereka memutuskan mengemis dan mendapatkan roti Yang sudah kering namun masih layak dimakan. Mereka bagi berdua, karena memang lagi apes roti milik Toto hilang entah kemana. Toto memukul Madi dengan keras, namun madi tidak mencuri. Dengan rasa kesal madi memutar pandangannya dan mengetahui bahwa roti sudah dimakan anjing. Melihat seekor anjing sangat kurus, toto tak tega. Madi Yang sudah kesal di tuduh Toto dengan ganas memukuk anjing terabyte tampa ampun. Hingga toto melerai kelakuan Madi Yang menyiksa binatang. Toto juga sangat terpukul bahwansanya yang ia tuduhkan kepada Madi salah sangka. Toto meminta maaf dan mereka saling berpelukan.
- Darah si Miskin
Sobar yang mendapat tertawaan dari temannya karena pak Guru menagih uang pembayaran sekolah didepan temannya. Ayahnya memang tak ada uang, akhir-akhir ini sering sakit – sakitan. Sobar berjualan Koran sepulang sekolah dan uang hasil penjualan ditabung untuk keperluan sekolah dan melunasi ongkos tamasya.
Joni adalah salah satu teman sobar, ia anak Yang sombong. Joni merasa kesal karena selalu dikalahkan sobar dalam pelejaran. Meski joni anak orang kaya, sobar tidak menjadi lemah dan merasa rendah ketika dihina.
Akhirnya hari tamasya Yang dinanti tiba, mereka sangat senang. Namun Pada saat Yang bersamaan Joni mengalami kecelakaan ketika bermain. Ia terjatuh dan tergelincir kebawah. Joni segera dilarikan kerumah sakit terdekat. Ia kehilangan banyak darah. Dari sekian banyak teman hanya darah sobar yang cocok dan bisa menyumbangkan darah. Dengan ikhlas sobar menyumbangkan darahnya untuk joni. Tranfusi darah akhirnya bisa dilakukan. Joni merasa menyesal karena orang yang di hina, dibenci nya sekarang telah menolong nyawanya.
- Menang Jadi Arang Kalah Jadi Abu
Pepatah menang jadi arang kalah jadi abu itulah yang terjadi akibat perang antara dua kerajaan semut. Masing-masing kerajaan mempunyai seorang raja yang adil dan bijak. Namun suatu ketika di daerah perbatasan dua kerajaan terdapat satu bangkai cacing. Kali ini mereka tak bisa menangani persoalan. Perang pun tak terelakan saling menyerang dan berkelahi hingga banyak korban yang mati.
Melihat banyaknya korban yang mati mereka menyesal dengan adanya perang. Meski sudah tak dapat dielakan. Malam harinya prajurit dari kedua kerajaan saling memeriksa keadaan sekitar siapa tau masih ada Yang bisa ditolong.
Terdengar rintihan dari si merah…air… Air… Kata merah. Semut yang masih hidup mendekati dan menolong, hendak memeberi air minum Ada seekor semut lagi Yang merintih sangat kasihan. Si hitam dari kerajaan lawannya. Dengan keikhlasan si merah mau mengalah dan memberikan minum kepada si hitam. Belum juga dibawa ke si hitam Air tersebut, si hitam sudah mati. Akhirnya si pemberi air menuju si merah dan hendak memberi air, namun hal sama terjadi Si merah juga sudah mati.
- Si Belang Menembus Api
Minggu pagi udi dan si belang lari mengitari tanah lapang dekat rumahnya. Si belang adalah anjing kesayangan udi. Anjing pemberani dan patuh sekali pada udi. Udi membagi susu pemberian ibu menjadi 2.
Udi diminta ibu untuk membeli minyak tanah karena ingin memasak lebih cepat. Setelah membeli minyak tanah udi dan belang bermain dihalaman. Namun alangkah terperanjatnya ketika tiba-tiba terlihat api dari dinding dapur dan teriakan ibu menggema.
Ketika hendak menyelamatkan ibu,udi terjatuh dan tersungkur tertimpa balok tiang. Ayah sedang berada menemani ibu Yang sudah pingsan. Hingga kini tinggalah belang melihat sang majikan mengalami kesulitan, Dia berlari cepat dan menembus kobaran api. SI belang menarik kawat yang membelit balok. Akhirnya balok Yang menimpa udi bisa di angkat . Dengan tergopoh udi bangkit meskipun kakinya terasa sakit. Udi dan belang cepat lari menembus api, dan selamatlah mereka dari kebakaran.
Tak dapat dikatakan bagaimana besarnya terima kasih udi pada belang Yang telah menolongnya. Si belang merasakan kasih sayang dalam pelukan udi.
Kelebihan : Buku ini berisi tentang beberapa cerpen yang mempunyai judul berbeda-beda. Namun cerita yang di ambil sangat menginspirasi anak- anak agar mau mengambil pelajaran dari segi positifnya. (*/ykib).
Identitas buku:
Judul : Gelandangan dan Dermawan
Pengarang : Cecep M. Yuhyar
Penerbit : Balai Pustaka
Tebal buku : 66 halaman
*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Purwosari

