Gelandangan dan Dermawan

*Oleh Ainun Dyan Suttie P, S.Pd.

  1. Jera

Seorang anak yang bernama Agus adalah anak yang sering ikut-ikutan temannya untuk berlebihan dalam membelanjakan uang saku yang diberikan orang tua saat di sekolah. Hingga sering kali ia harus berjalan kaki pulang dari sekolahnya karena kehabisan uang dan tidak bisa membayar ongkos bus.

Sepulang sekolah, Pepen dan Rizal mengajak Agus untuk menumpang bus, namun Agus menolak dengan alasan takut pada kondekturnya karena dia sudah tidak punya uang.

Memang sudah menjadi kebiasaan dari anak sekolah, menaiki bus dengan gerombolan dan ketika ditanya bayaran selalu mengelak. Membuat kondektur bus kuwalahan karena banyaknya anak- anak. Kondektur sudah bosan berteriak dan memarahi anak- anak tapi tidak membuat mereka sadar akan perilakunya. Namun bagi Agus ketika ia tidak memiliki uang pantang untuk naik bus lebih baik berjalan kaki sampai rumah.

Sampai di rumah disambutnya Agus oleh sang ibu dan bertanya mengapa baru pulang, dengan berani Agus berkata jujur bahwa ia jalan kaki karena kehabisan uang. Ibunya sangat bangga memiliki anak yang jujur, dengan segera Sang Ibu menyuruh Agus berganti pakaian dan segera makan. Baru saja hendak makan datanglah ibu Pepen menanyakan anaknya kenapa belum pulang. Agus menjawab tidak tahu karena memang Pepen seharusnya sudah sampai rumah karena naik bus.

Dalam kecemasannya tak lama kemudian datanglah Pepen dipapah oleh kawan-kawanya. Ibunya kaget kenapa anaknya jadi pucat pasi, dipenuhi luka pada kaki. Setelah ditanya ternyata Pepen jatuh dari bus. Laju bus belum berhenti ia sudah melompat hingga dia terjatuh dan mengalami luka. Setelah kejadian itu Pepen jera dan tidak mau lagi ceroboh ketika naik bus.

  1. Akhirnya Ketahuan Juga

Seorang anak yang bernama Didin merupakan anak dari keluarga miskin. Hidupnya sangat prihatin namun dia merupakan anak yang rajin.

Karena terlalu miskin hingga membuat Didin seringkali meminjam mistar atau buku bacaan pada temannya yang bernama Prana. Hal itu membuat Prana jengkel dan menyebutnya sekolah tidak modal. Prana sering rusuh dan berkelahi dengan teman- temannya. Namun Didin tidak pernah takut dengan Prana sehingga membuat Prana semakin benci.

Suatu hari ketika pagi hari Didin sudah sampai di sekolah, Prana yang tidak mengerjakan tugas langsung meminta buku Didin agar ia bisa menyalin tugas. Namun dengan tegas Didin tidak mau meminjamkan meski ia merupakan anak yang selalu menolong temannya tapi Didin tidak mau menolong dalam hal kejelekan. Prana merasa terhina dan marah hingga direbutnya buku Didin dan segera menyalin di bukunya. Tak lama kemudian lonceng berbunyi, Pak Guru memeriksa tugas anak- anak. Ketika memeriksa buku Prana Pak Guru curiga dengan jawabannya. Pak Guru mengintrogasi Didin dan Prana siapa yang diantara kalian menyontek tugas temannya.

Dengan keras Didin membela dirinya sendiri yang tidak menyontek milik Prana. Sebaliknya Prana tidak mau mengaku dia juga tidak menyontek milik Didin.

Dengan tegas Pak Guru meminta kedua anak tersebut mengerjakan jawaban di papan tulis secara bersama-sama. Dengan mudah dan lancar Didin mengerjakan namun sebaliknya Prana bingung. Dengan begitu jelas siapa yang bersalah dan tidak. Itulah cara Pak Guru membuktikan setiap perkataan Prana dan Didin. Prana merasa bersalah dan meminta maaf kepada Didin dan juga Pak Guru.

  1. Kamar Angker

Oding sedang berlibur di rumah kakek dan neneknya. Rumah peninggalan keluarga besar mereka. Warisan dari nenek buyut. Rumah tersebut sangat besar dan memiliki banyak kamar.

Waktu Oding tidur di kamar yang sudah disiapkan oleh kakek nenenya, ia sering mendengar suara aneh seperti menggesek- gesek jendela. Segera Oding melompat dari ranjang dan berteriak ketakutan. Segera berlari ke kamar kakek dan menceritakan hal aneh yang di alaminya tadi namun dengan cekatan kakek menjelaskan bahwa itu hanya khayalan Oding saja.

Oding memutuskan untuk meminta kakek tidur bersamanya di kamar yang disebutnya angker tersebut. Sang Kakek menyetujui dan menemani Oding. Tak lama kemudian terdengar lagi bunyi yang sama yang diceritakan Oding. Dengan langkah pelan Sang Kakek membuka jendela karena merasa penasaran dan membawa lampu pijar menuju sumber suara.

Ternyata suara itu bukan hantu atau semacamnya karena suara aneh itu berasal dari gesekan daun pisang yang sudah kering dengan jendela kamar yang ditempati Oding.

Oding berdiri dan merasa girang karena penyelidikan telah berhasil. Ia tak takut lagi karena memang tidak ada hantu. Malam berikutnya ia tidur di kamar tersebut dengan nyenyak.

  1. Rindu

Pak Lambo adalah seorang pedagang kain. Sering berdagang keliling mengunjungi kota- kota. Sekarang Pak Lambo berada di Jakarta ia menumpang hidup di rumah temannya yang sama juga bekerja sebagai penjual kain. Namanya Pak Asri. Pak Asri memiliki seorang anak yang bernama Siti, Pak Lambo sangat sayang kepada Siti. Setiap malam sering membaca dongeng untuknya karena Pak Lambo menganggap Siti sebagai intang putrinya. Hal itu cukup mengobati kerinduan Pak Lambo kepada anaknya.

Sudah beberapa hari Pak Lambo tidak pulang ke rumah Pak Asri, tidak ada kabarnya juga. Tentu saja Siti merasa kehilangan. Setiap sore Siti sengaja menunggu Pak Lambo di beranda rumahnya barang kali nanti akan datang berkunjung lagi.

Kemurungan Siti dilihat oleh ayah dan ibunya, mereka khawatir dan takut Siti tidak bisa lepas dari Pak Lambo. Orang tua Siti berusaha hendak menjauhkan diri dari Pak Lambo karena takut akan Siti dibawa ke kampungnya.

Suatu hari ada pesta sunatan tetangganya, Siti yang sedih merasa terhibur dengan adanya hiburan ondel- ondel.

Ondel- ondel itu berjalan menjauh dan berputar- putar. Siti mengikuti langkah kemana ondel- ondel tersebut hingga jauh dari rumahnya. Ayah dan ibunya merasa khawatir akan hilangnya Siti dari rumah. Berita hilangnya Siti didengar oleh tetangga, mereka mengira Pak Lambo telah menculik Siti.

Pak Lambo kembali lebih cepat dari rencana semula, ia merasa kangen kepada Siti. Setelah agak lama perjalanan, alangkah kagetnya Pak Lambo melihat Siti seorang diri sedang di kerumuni banyak orang yang sedang menanyakan dimana rumahnya. Tapi belum sempat membawanya ke kantor polisi, Pak Lambo sudah datang menghampiri lalu mengajak Siti pulang ke rumahnya.

Namun sesampainya di rumah alangkah kagetnya Pak Lambo karena disangka menculik Siti. Hendak menerangkan apa yang terjadi tak ada kesempatan sebab orang- orang sudah naik pitam. Untung Pak RT dapat melerainya kalau tidak Pak Lambo sudah pasti babak belur. Setelah Siti segar kembali akhirnya ia bisa menjelaskan tentang apa yang terjadi. Dan Pak Asri beserta tetangga meminta maaf kepada Pak Lambo karena sudah berpikiran jelek. Setelah kejadian tersebut Pak Lambo memutuskan pulang ke kampung Bugis karena kangen dengan Itang .

  1. Gelandangan dan Dermawan

Seorang gelandangan yang tidur di pinggir jalan, emperan toko. Terkadang mau bekerja sebagai pemulung namun terkadang juga meminta- minta kepada orang lain. Pada suatu hari ada pembersihan oleh petugas. Emong baru datang dan menemui kawan- kawan yang sedang digiring naik ke dalam truk. Tinggallah Emong sendiri, tiada kawan. Dengan siapa lagi ia akan bermain kalau teman senasibnya sudah tak ada. Ia duduk sendiri sambil menangis teringat teman- temannya. Di seberang jalan sekelompok anak- anak yang memakai sepatu mengkilat dan tas bagus. Tak berapa lama ada seorang tuan turun dari mobil sedan, Emong sangat ketakutan dikiranya ia akan dibawa seperti teman- temanya. Namun dugaannya salah ternyata tuan itu sangat dermawan, ia ingin menyekolahkan Emong. Tinggal di rumah yang bagus, memiliki taman bunga yang luas. Namun ternyata itu hanya mimpi. Emong terbangun di sekitar alat kebersihan dan truk di depan matanya. Seorang petugas menjelaskan kepada Emong bahwa ia tak akan menangkapnya dan menyiksa melainkan mengajarkan sesuatu keahlian agar Emong mampu berkarya dan bisa sekolah bukan berada di jalanan.

  1. Mataku Buta

Dua anak sebaya duduk di bawah pohon rindang dan sedang menghitung uang hasil mengemisnya. Terlihat uangnya memang banyak tapi semuanya hanya lima perakan. Uang milik Mitra berjumlah Rp. 185.00 dan milik Dulo Rp.186.00

Kehidupan mereka hari demi hari menyeret kaki keliling dengan menengadahkan tangannya meminta belas kasihan orang sekitar yang berlalu lalang di jalanan dan berada di rumah yang mereka kunjungi. Uang hasil mengemis mereka gunakan untuk makan, namun sering kali mereka tidak mendapatkan hasil sama sekali sehingga mereka juga tidak bisa makan seharian.

Malam itu mereka tidur di emperan toko beralaskan karton dan berselimut koran. Meski di tengah keterbatasan tidur mereka sangat nyenyak.

Ketika matahari terbit mereka cepat bangkit dan merogoh saku, betapa kagetnya karena uang yang kemaren ia miliki lenyap. Dulo tak percaya namun apa yang dikatakan Mirta benar, uang mereka hilang.

Dulo malah curiga kepada Mirta, meski Mirta sudah menjelaskan. Kelepasan sudah Dulo menuduh Mirta sebagai pencuri, dengan kesal akhirnya Mirta menempeleng wajah Dulo. Namun penyesalan segera menghampiri karena mata Dulo buta. Mirta sedih dan meneteskan air mata sambil meminta maaf. Akhirnya dua sahabat itu pun berangkulan dan berdoa semoga mereka diberikan ketabahan dalam hidupnya.

  1. Menepati Janji

 Nasib malang telah menimpa seekor tikus ketika sedang mencari makan di lumbung bertemu seekor kucing. Ternyata lumbung itu adalah tempat kucing berada. Ingin pergi dari sana namun apalah daya tikus tidak bisa.

Kucing tersebut ingin melahap tikus, tikus memohon ampunan agar bisa dilepaskan. Sang tikus memelas dan berkata bahwa anak- anaknya masih merah dan badannya pun masih lemah. Namun memiliki rasa sedikit percaya pada tikus. Akhirnya kucing melepaskan tikus, karena si tikus berkata bahwa nanti kalau anak- anaknya sudah besar ia akan datang pada kucing dengan sendirinya.

Setelah anak- anak tikus besar, ibu tikus tadi mengumpulkan semuanya dan berkata bahwa ia akan meninggalkan mereka dan memenuhi janji kepada sang kucing. Anak- anak tikus sangat sedih.

Ketika tikus sudah berada dihadapan kucing sang tikus berkata bahwa” ini aku sudah datang untuk memenuhi janji’. Kucing hanya melongo, tak sampai hati ia memakannya. Malah air mata sang kucing keluar dan mengatakan pulanglah kesarangmu. Belum lagi tikus mengucapkan terima kasih, tiba- tiba ular datang dan secepat kilat menyambar tikus. Dengan cepat kucing menggigit ular dan ular pun membelit kucing. Mereka sama- sama kuat, meskipun tikus sudah tak bernyawa. Tak ada yang mau mengalah, sampai ular mati dan si kucing masih bernapas satu- satu. Kejadian ini disaksikan anak- anak tikus. Kucing mengetahui bahwa anak-anak tikus melihat kejadian ini dari awal hingga akhir. Kucing berpesan bahwa tirulah ibumu yang selalu menepati janji sampai ajal menjemput.

  1. Karcis yang Hilang

Nandi merasa kesempitan berada di bus yang padat penumpang, ia diminta ayahnya menyampaikan surat kepada kepala sekolah. Sebenarnya ia sudah mendapatkan tempat duduk namun melihat seorang nenek berdiri maka terbitlah rasa kasihan dan mempersilahkan nenek itu duduk di tempatnya. Bus terus melaju, tiba- tiba Nandi melihat kantong bapak- bapak yang sedang dirogoh oleh seseorang. Cuma ia takut ingin berteriak. Sampai di terminal berikutnya bus berhenti dan naiklah petugas lalu lintas, rupanya ada pemeriksaan karcis.

Malang nasib bapak yang tadi kantongnya di rogoh seseorang, ia kehilangan karcis. Maka timbullah sengketa antara kondektur dan bapak tua tersebut. Bis berhenti dan tak mau jalan karena sengketa itu malah rusuh mereka tak ada yang mau mengalah. Akhirnya petugas lalu lintas tersebut mengambil kebijakan untuk menurunkan kondektur dan bapak tua tadi namun sebelum itu terjadi Nandi mendekati petugas dan menceritakan bahwa bapak tua itu kecopetan. Petugas dengan sigap menangkap kawanan pencopet dalam bus tersebut, mereka tidak bisa berkutik karena memang bukti juga ada di mereka. Petugas berterima kasih kepada Nandi karena keberaniannya menceritakan hal itu. Lalu Nandi dan kondektur segera naik bus lagi dan melanjutkan perjalanan.

  1. Aku Ingin Sekolah

Dirman seorang anak yang sudah seharusnya sekolah namun karena keterbatasan sang ibu ia terpaksa belum mendapatkan kesempatan itu. Dirman selalu dibacakan cerita sama teman- temanya ketika ada buku yang mereka bawa. Karena Dirman belum bisa baca tulis, ia masih buta huruf.

Untuk makan sehari- hari ibunya harus bekerja keras dan memang mereka serba kekurangan setelah ditinggal ayahnya.

Dirman merasakan kesedihan, namun ketika ia berada di luar bersama temannya Dirman merasa kesal karena mereka selalu menceritakan tentang sekolah dan sekitarnya. Ia iri dan ingin merasakan juga. Merasa rendah, hingga muncul ide ia harus mendapatkan uang untuk sekolah. Sang Ibu memberikan nasihat bahwa ketika bekerja harus jujur agar nasib baik selalu menyertainya. Dirman berjualan koran dan selalu menabung dari hasil bekerjanya itu. Kemiskinan yang dialami Dirman banyak juga dialami orang lain, di saat anak seusianya sekolah namun karena keadaan ia harus bekerja dan menabung guna bisa masuk sekolah.

Maka hati yang dinanti tiba dengan cukup tabungannya Dirman membeli sepatu, tas dan berangkat ke sekolah. Dirman diantar ibunya dihari pertamanya. Oh beginilah rasanya sekolah, kata Dirman. Dirman sangat senang berada di lingkungan sekolah bersama teman- teman dan guru. Meski ada yang menghina sebesar itu baru kelas 1, namun Dirman tidak sakit hati ia malah semangat sekolah karena di tengah keterbatasannya ia bisa merasakan hal yang smaa denga teman- temanya.

  1. Siapa Pembunuhnya

Pulang sekolah, Komar kaget mendapatkan ayamnya mati di halaman rumah. Tasnya pun belum ditaruh di tempatnya, pikirannya sudah berkelana kenapa ayamnya mati tiba- tiba. Dengan tergesa- gesa Komar memanggil ibunya dan berteriak, Bu…ibu si burik mati. Siapa yang tega membunuhnya. Anak si burik menangisi induknya Bu.

Lalu mereka bergegas pergi ke depan untuk melihat ayamnya namun ayam tersebut sudah tidak ada. Didin yang melihat Komar bingung lalu menghampirinya. Didin pun berkata bahwa ayam jagonya juga mati. Mereka berfikir siapa yang membunuh a,am dan mencuri bangkai.

Mereka sepakat untuk menyelidiki da mencari bersama. Dengan perasaan ingin tahu yang besar, mereka bersembunyi dibalik pohon besar. Mereka melihat seseorang dengan keranjang yang sudah dipenuhi bangkai ayam. Ternyata memang ia sengaja memberikan racun pada umpan ayam agar ayam tersebut mati dan mengambilnya serta menguliti bulunya agar bersih dan di jual dipasar. Tak berapa lama ada seorang polisi datang dan menangkap orang tersebut dan membawa semua bukti agar tidak meresahkan warga.

  1. Anak Tukang Minta- Minta

Anak bernama Ujang duduk bersila di pinggir jalan sambil bernyanyi dan menengadahkan kedua tangannya. Ia tumbuh menjadi kaum pengemis di ibu kota. Orang tuanya juga sering meminta- minta hingga ia pun mengikuti jejak mereka. Namun akhir- akhir ini ia sudah jarang menengadahkan tangannya, sering melamun ketika melihat teman sebayanya berlalu lalang menjual koran. Ujang merasa iri mengapa ia tak bisa seperti mereka yang bekerja sebagai tukang semir sepatu, tukang cuci mobil, penjual koran melainkan ia hanya sebagai pengemis. Dengan tekad yang bulat ia ingin menabung sebagai modal awal agar berhenti sebagai pengemis. Setelah cukup ia membeli kotak bekas sabun dibuatnya peti untuk dagang rokok. Dengan lincah dan gesit ia lari kesana kemati untuk melayani pembeli yang ingin membeli dagangannya. Semua itu dilakukan Ujang dengan sungguh- sungguh. Meskipun ia pernah mengalami ada sekelompok pemuda mengambil rokok dagangannya tanpa membayar, Ujang tetap semangat. Karena ia tak harus meminta belas kasihan orang lain. Ujang bangga akan usahanya sendiri.

  1. Si Garong

Seekor kucing yang Suak berkelahi, memiliki bulu yang hitam lebat mengkilat. Buntut panjang dan tebal hanya mukanya saja penuh cakaran. Si garong namanya, seekor  kucing  tidak  ada  pemiliknya  yang sangat  menyusahkan  orang. Setiap  malam  hari  ia  memulai  aksinya  mencuri  ikan, menangkap  tikus, bahkan  ia  memakan  anak  kucing  dari  bangsanya  sendiri.

Suatu  hari  kemalangan  menimpanya, ketika  ia  masuk  keep kandang  ayam banyak  orang  ingin  menangkapnya.  Dengan  tergesa  ia  lari  tanpa  melihat  jalan  Yang  ia  lewati  sampai  garong  tidak tahu  masuk  ke sumur.  Malang  nasibnya  garong  tak  dapat  berbuat  apa-apa  hingga  ia  mati  mengenaskan  di  dalam  sumur.

  1. Sebatang Kara

Nana yang  baru  berumur  12 tahun  sudah  hidup  sebatang  Kara. Ia  menyusuri  jalanan  guna  mencari  lowongan  pekerjaan.   Namun  ia  merasa  rendah  diri  ingin  memasuki  rumah  megah  disekitar  jalanan  tersebut. Ia  harus  berebut  nasi  sisa  dari  warung-warung  guna  dimakan.  Terkadang  nana juga  terpaksa  mengemis  untuk  sesuap  nasi.

Setelah  memberanikan during dan  menguatkan hating IA berhasil memasuki  beberapa  rumah  dan  menerangkan  Maksud  dan  tujuannya. Ada yang menolak karena  sudah  mempunyai  pembantu  ada  juga  Yang  tak  mengindahkan  kedatangannya. Akhirnya  sampailah  pada  penghuni  rumah  mewan  Yang  msmiliki  pekarangan  luas  Yang  juga  membutuhkan  seseorang untuk  mengurusnya. Nana Sangat  senang, ia  Bertha dengan  rajin namun  suatu  hari  nana  dituduh  mencuri  celana  dan  kemeja  milik  majikannya, meskipun  Ia tidak  melakukan  hal  itu nana  menjelaskan  meskipun  tidak  merubah  keadaan  dimana  ia  harus  meninggalkan  rumah  tersebut.

Nana mendapatkan  sebuah  pengalaman  berharga  bahwa  dalam  mendapatkan  amanah  seseorang  Harus  berhati-hati  dan  tak  lupa  selalu  berdoa  agar  dijauhkan  dari  tuduhan keji  karena  sebaik- baik  manusia  adalah  Yang  bernaung  dan  berlindung  pada  Tuhan Yang  Maha  Kuasa.

  1. Salah Sangka

Sebuah  kehidupan  dari  2 orang  anak  gelandangan, Yang  tua  bernama  Tono  Dan Yang  muda  bernama MadI. Mereka  bekerja  sebagain  tukang  semir  sepatu, tukang  cuci  kendaraan atau  kerja  apasaja  Yang  penting  tidak  mencuri  dan  tidak  mengemis.

Pada  suatu  hari  tak  ada  yang  menyemir sepatu, mencuci  kendaraan sehingga  Toto  dan  Madi  tidak  mempunyai  uang  sepeserpun. Mereka  bingung  mau  makan  apa  perut  sudah  terasa  sakit  karena  lapar.  Akhirnya  mereka  memutuskan  mengemis  dan  mendapatkan  roti  Yang  sudah  kering  namun  masih  layak  dimakan. Mereka bagi  berdua, karena  memang  lagi  apes roti  milik  Toto  hilang  entah  kemana.  Toto  memukul  Madi  dengan  keras,  namun  madi  tidak  mencuri.  Dengan  rasa  kesal  madi  memutar  pandangannya  dan  mengetahui  bahwa  roti  sudah  dimakan  anjing.  Melihat  seekor  anjing  sangat  kurus,  toto  tak  tega.  Madi  Yang  sudah  kesal  di  tuduh  Toto dengan  ganas  memukuk  anjing  terabyte tampa  ampun.  Hingga  toto  melerai kelakuan  Madi  Yang  menyiksa  binatang.  Toto  juga  sangat  terpukul  bahwansanya  yang  ia  tuduhkan  kepada  Madi  salah  sangka.  Toto  meminta  maaf  dan  mereka  saling berpelukan.

  1. Darah si  Miskin

Sobar  yang  mendapat  tertawaan  dari  temannya  karena  pak  Guru  menagih  uang  pembayaran sekolah  didepan  temannya. Ayahnya  memang  tak  ada  uang, akhir-akhir  ini sering  sakit – sakitan. Sobar berjualan Koran sepulang sekolah  dan  uang  hasil  penjualan  ditabung untuk  keperluan  sekolah dan  melunasi  ongkos  tamasya. 

Joni  adalah  salah  satu  teman  sobar, ia  anak  Yang  sombong. Joni  merasa  kesal  karena  selalu  dikalahkan  sobar  dalam  pelejaran. Meski  joni  anak  orang  kaya, sobar  tidak  menjadi  lemah  dan  merasa  rendah  ketika  dihina.

Akhirnya  hari  tamasya  Yang  dinanti  tiba, mereka  sangat  senang.  Namun  Pada  saat  Yang bersamaan  Joni mengalami  kecelakaan ketika  bermain. Ia  terjatuh dan  tergelincir  kebawah.  Joni segera  dilarikan  kerumah  sakit  terdekat.  Ia kehilangan  banyak  darah. Dari  sekian  banyak  teman  hanya  darah  sobar  yang  cocok  dan  bisa  menyumbangkan  darah. Dengan  ikhlas  sobar  menyumbangkan  darahnya  untuk  joni. Tranfusi  darah  akhirnya  bisa  dilakukan.  Joni  merasa menyesal  karena  orang yang  di  hina,  dibenci nya  sekarang  telah  menolong  nyawanya.

  1. Menang Jadi  Arang Kalah  Jadi  Abu

Pepatah  menang  jadi  arang  kalah  jadi  abu  itulah  yang  terjadi  akibat  perang  antara  dua  kerajaan  semut. Masing-masing  kerajaan  mempunyai  seorang  raja  yang  adil  dan  bijak. Namun  suatu  ketika  di  daerah  perbatasan  dua  kerajaan  terdapat  satu  bangkai  cacing. Kali  ini mereka  tak  bisa  menangani  persoalan. Perang pun  tak  terelakan saling  menyerang  dan  berkelahi hingga  banyak  korban  yang  mati.

Melihat  banyaknya  korban  yang  mati  mereka  menyesal  dengan  adanya  perang. Meski  sudah  tak  dapat  dielakan.  Malam  harinya  prajurit  dari  kedua  kerajaan saling  memeriksa  keadaan  sekitar  siapa  tau  masih  ada  Yang  bisa  ditolong.

Terdengar  rintihan dari  si  merah…air… Air… Kata  merah.  Semut  yang  masih  hidup  mendekati  dan  menolong, hendak  memeberi  air  minum Ada seekor  semut  lagi  Yang  merintih  sangat  kasihan.  Si  hitam  dari  kerajaan  lawannya.  Dengan  keikhlasan  si  merah  mau  mengalah  dan  memberikan  minum  kepada  si  hitam. Belum  juga  dibawa  ke  si  hitam  Air  tersebut, si  hitam  sudah  mati.  Akhirnya  si  pemberi  air  menuju  si  merah  dan  hendak  memberi  air, namun  hal  sama  terjadi  Si  merah  juga  sudah  mati.

  1. Si Belang  Menembus Api

Minggu  pagi  udi  dan  si  belang  lari  mengitari  tanah  lapang  dekat  rumahnya.  Si  belang  adalah  anjing  kesayangan  udi. Anjing  pemberani dan patuh  sekali  pada  udi. Udi  membagi  susu  pemberian  ibu  menjadi  2.

Udi  diminta  ibu  untuk  membeli  minyak  tanah karena  ingin  memasak  lebih  cepat.  Setelah  membeli  minyak  tanah  udi  dan  belang  bermain  dihalaman. Namun  alangkah  terperanjatnya ketika  tiba-tiba  terlihat  api  dari  dinding  dapur  dan  teriakan  ibu  menggema.

Ketika  hendak  menyelamatkan  ibu,udi terjatuh  dan  tersungkur tertimpa  balok  tiang. Ayah  sedang  berada  menemani  ibu  Yang  sudah  pingsan. Hingga  kini  tinggalah belang  melihat  sang  majikan  mengalami  kesulitan, Dia berlari  cepat  dan  menembus  kobaran  api.  SI belang  menarik  kawat  yang  membelit  balok. Akhirnya  balok  Yang menimpa  udi  bisa  di  angkat . Dengan  tergopoh  udi  bangkit  meskipun  kakinya  terasa  sakit.  Udi  dan  belang  cepat  lari  menembus  api,  dan  selamatlah  mereka  dari  kebakaran. 

Tak  dapat  dikatakan  bagaimana  besarnya  terima  kasih  udi  pada  belang  Yang  telah  menolongnya. Si  belang  merasakan  kasih  sayang  dalam  pelukan  udi.

Kelebihan  : Buku ini berisi tentang beberapa cerpen yang mempunyai judul berbeda-beda. Namun cerita yang di ambil sangat menginspirasi anak- anak agar mau mengambil pelajaran dari segi positifnya. (*/ykib).

Identitas buku:

Judul : Gelandangan dan Dermawan

Pengarang : Cecep M. Yuhyar

Penerbit : Balai Pustaka

Tebal buku : 66 halaman

*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Purwosari

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *