Putri Tandampalik

Oleh Arum Nila Nadiya, S.Pd.

Buku cerita Komik Seri Legenda Nusantara yang ditulis oleh G.Wu yang bertujuan untuk memperkaya wawasan dan pengetahuan anak-anak tentang cerita rakyat yang tumbuh di tengah masyarakat Indonesia yang diciptakan dengan 33 judul, salah satunya akan saya resensi yaitu mengenai Putri Tandampalik dari Sulawesi Selatan.

Berdiri sebuah kerajaan bernama kerajaan Luwu, yang dipimpin oleh Raja LA Bustana Datu Maongge atau biasa disebut Raja Luwu atau Datu Luwu, yang mempunyai putri yang berparas sangat cantik dan baik hati, dan mempunyai rakyat yang hidup makmur, damai, dan sentosa.

Di suatu hari Raja Luwu termenung memikirkan putrinya karena takut jika dipinang oleh pemuda negeri lain karena jika diterima bisa melanggar hukum adat yaitu Putri Luwu harus menikah dengan pemuda dari negeri sendiri.

Sementara itu di Kerajaan Bone sedang berkumpul makan malam merayakan hari jadi Putra Mahkota Kerajaan Bone yang telah menginjak dewasa. Dan Raja Bone memikirkan untuk pendamping Putra Mahkota supaya bisa meneruskan tahta kerajaanya, Raja Bone memutuskan untuk calon putranya yaitu Putri Tandampalik karena mengingat perangainya yang baik, rendah hati dan dan kecantikannya sudah termasyhur di seluruh negeri.

Ke esokan harinya Raja menyuruh pengawal untuk menyampaikan lamaran kepada Putri Tandampalik ke Kerajaan Luwu, Raja Luwu kebingungan untuk menjawab lamaran dari Raja Bone karena jika ia menerima lamarannya ia akan melanggar adat  dari leluhur, akan tetapi jika menolak khawatir akan terjadi peperangan besar antar dua kerajaan yang akan membuat rakyat menderita. Sang Raja berdoa kepada Tuhan agar diberi jawaban keesokan harinya.

Tak terduga esok harinya Putri Tandampalik terkena penyakit kusta/kulit yang dapat menular dengan cepat, “itu mungkin jawaban doa dari Tuhan” kata sang Raja Wulu, tak lama kabar mengenai penyakit Putri Tandampalik begitu cepat tersebar di sekitar Daerah luwu, membuat rakyatnya bersedih atas penderitaan yang dialami Putri Kerajaan yang sangat mereka cintai, semua tabib di seluruh Negeri pun tidak bisa menyembuhkan,  dengan terpaksa Raja Luwu mengasingkan Putri Tandampalik ke daerah lain, supaya penyakitnya tidak menular ke masyarakat,

Putri Tandampalik pergi berlayar ke daerah lain bersama 3 pengawal kerajaan, dengan pemberian keris pusaka dari raja yang melambangkan bahwa Raja tidak mengusirnya ataupun melupakannya,.

Berbulan-bulan berlayar tanpa arah dan tujuan yang pasti, akhirnya mereka sampai ke suatu pulau yang dinamakan oleh Putri Tandampalik Pulau Wojo karena banyak terdapat buah wojonya.

Setahun kemudian di tepi Danau Putri berkaca di air dan berdoa agar diberi petunjuk untuk kelangsungan hidup dan terbaik, datanglah kerbau putih menjilati tubuhnya sehingga penyakit kusta itu hilang seketika, dan mulai saat itu kerbau putih tidak boleh disembelih ataupun dimakan,

Pulau Wojo kedatangan pemburu dari rombongan kerajaan Bone termasuk Putra Mahkota, saking asyiknya berburu Putra Mahkota tidak sadar kalau ia sudah terpisah dari rombongannya hingga tersesat di hutan, tak lama sang Raja menemukan perkampungan penduduk tak sengaja ia menghampiri gadis cantik bak Bidadari memasak air di dalam rumah itu ternyata ia adalah Putri Tandampalik.

Satu malam menginap Putra Mahkota menginap di rumah dengan tiga pengawal Putri Tandampalik, dalam waktu singkat mereka semakin akrab dan kedua Putra Putri kerajaan itu sama-sama menaruh hati satu sama lain.

Sinar matahari pagi muncul, Putra Mahkota pun beranjak kembali ke kerajaan dengan dipinjami perahu Putri, setelah kembali di kerajaan Putra Raja setiap malam  termenung di tepi hingga akhirnya ditanya oleh Anreguru dan sang Putra Mahkota pun menceritakan kejadian di Pulau Wojo, terdengar oleh Raja Bone dan akhirnya memutuskan untuk kembali melamar Putri Tandampalik.

Keesokan paginya Putra Mahkota kembali ke Pulau Wojo untuk melamar Putri dan mengembalikan perahu yang dipinjam, sang Putri menjawab belum bisa menerima lamaran dengan seizin ayah dengan syarat Putra Mahkota membawa keris ke Raja Luwu, “jika Ayah handaku menerima keris ini maka lamarannya diterima”.

Sesampai di Kerajaan Luwu Putra Mahkota memohon restu kepada Raja Luwu dengan membawa keris yang dibawakan Putri, Raja Luwu merestui lamaran terhadap putri semayangnya, karena Raja Luwu mengetahui bahwa Putra Mahkota adalah seorang pemuda yang gigih, bertutur kata lembut, sopan dan penuh semangat, maka siang itu mereka berangkat ke Pulau Wojo untuk menemui Putri Tandampalik.

Pertemuan Raja dan Ratu Luwu dengan Putri Tandampalik di Pulau Wojo sangat mengharukan,  beberap hari kemudian mereka menikah di Pulau Wojo, dan bertahun kemudian Putra Mahkota naik tahta, ia menjadi Raja yang arif dan bijaksana. (*/ykib).

Kelebihan buku : Buku ini bagus untuk mendampinggi pertumbuhan karakter anak dengan tokoh yang bagus untuk ditiru, dan bergambar penuh warna untuk anak tidak bosan juga menambah wawasan tentang adat suatu daerah.

Kekurangan : Alurnya tidak beruntut.

Identitas buku:

Judul buku      : Seri Legenda Nusantara (Putri Tandampalik)

Penulis             : G.Wu

Penerbit           : Balai Pustaka, Jakarta

Tebal               : 61 halaman

Peresensi         : Arum Nila nadiya

Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Kalitidu