Sisi Lain Diponegoro

Oleh Ainun Dyan Suttie, S.Pd

Seseorang dikatakan sebagai pahlawan adalah ketika manusia itu memiliki sebuah keunggulan, berani berkorban demi nusa dan bangsa. Namun seorang pahlawan juga memiliki kelemahan. Belum lagi cara pandang yang berbeda dari berbagai orang yang menilainya.

Seseorang yang dianggap pahlawan oleh satu pihak, bisa saja dianggap pengkhianat di pihak lainnya.

Demikian pun Diponegoro. Pangeran Diponegoro telah diakui sebagai salah satu pahlawan Indonesia karena kegigihannya melawan Belanda. Namun, Diponegoro adalah manusia biasa yang juga memiliki kelemahan.

Peter Carey mengupas Babad Kedung Kebo dan Babad Surakarta sebagai pembanding kisah Diponegoro yang dituliskan sendiri saat Diponegoro diasingkan di Manado. Karya biografi Diponegoro dikenal sebagai Babad Diponegoro. Yang isinya membandingkan tiga babad yang mana memuat kisah Diponegoro menjadi sangat menarik.

Kita menjadi tahu berbagai pandangan dari pihak- pihak yang saat itu hidup sejaman.

Pertama Carey membahas pentingnya babad dalam penulisan sejarah. Meski babad dianggap kurang penting sebagai sumber sejarah oleh Sartono Kartodirjo- sejarahwan Indonesia, Carey menunjukkan bahwa bagaimana pun babad, khususnya yang ditulis oleh orang- orang yang sejaman dengan peristiwanya.

Babad Diponegoro ditulis oleh Pangeran Diponegoro saat diasingkan di Manado sedangkan Babad Kedong Kebo ditulis oleh Bupati pertama Purworejo yaitu Raden Adipati Cokronegoro, yang adalah lawan dari Diponegoro saat perang Jawa dan Basa Abdullatip Kertodirjo. (*/ykib)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *