Wisanggeni Sang Buronan

*Oleh Puguh Prianggoro, S.Pd.

Wisanggeni Sang Buronan merupakan sebuah buku karya Seno Gumira Ajidarma yang mengisahkan tentang salah satu tokoh dalam dunia perwayangan. Wisanggeni adalah seorang buronan yang dikejar-kejar oleh dewa-dewa karena dianggap keberadaannya menentang takdir, dikatakan bahwa tidak seharusnya Wisanggeni terlahir di dunia ini. Wisanggeni adalah anak dari Arjuna dan Dewi Darsanala. Wisanggeni adalah seorang yang sakti mandraguna, memiliki ajian-ajian yang bisa mengalahkan dewa-dewa yang diutus untuk membunuhnya. Dalam novel ini dewa-dewa kayangan menjadi tokoh antagonis yang memusuhi Wisanggeni karena menganggap kelahiran Wisanggeni adalah sebuah kesalahan sebuah takdir, dimana takdir yang diterima oleh Arjuna yang berjasa mengalahkan Prabu Niwatakawaca mendapatkan seorang dewi dari kayangan tetapi dengan syarat sang dewi tidak boleh mengandung anak Arjuna. Karena merasa kecewa Arjuna yang seorang manusia dianggap lebih rendah dari dewa. Arjuna pun menjadikan Dewi Darsanala sebagai istrinya dan mengandung anaknya. Setelah kelahiran Wisanggeni dimulailah petualangannya di dunia manusia.

Saat baru lahir dari rahim ibunya Dewi Darsanala, bayinya diambil oleh Bathara Brahma yang merupakan kakeknya sendiri. Batara Brahma yang diliputi perasaan bersalah karena harus membunuh cucunya sendiri merasa tidak berdaya, sehingga memutuskan untuk menggigit bayi itu memberinya bisa yang kuat dan dijatuhkannya ke lautan. Bayi yang jatuh itu lenyap ke dalam lautan dan tampak bayi itu mengeluarkan cahaya merah panas yang mempengaruhi lingkungan di sekitar yang membuat banyak ikan mati. Peristiwa itu membuat Sahyang Antaboga dan Batara Baruna yang menjadi penguasa lautan menjadi marah karena laut yang mereka jaga kehilangan ketenangannya, setelah mereka melihat sumber petaka tersebut mereka terheran karena di pusatnya ada seorang bayi. Saat Sahyang Antaboga dan Batara Baruna membawa bayi itu ke permukaan mereka bertemu dengan Sri Kresna yang menjelaskan bagaimana bayi itu bisa berakhir di lautan. Sahyang Antaboga dan Batara Baruna memutuskan untuk merawat bayi tersebut dan memberinya nama Wisanggeni yang berasal dari kata bisa dan geni. Wisanggeni menjadi orang yang sangat sakti karena mendapat ajaran dan ajian yang diturunkan dari Hyang Antaboga dan Batara Baruna.

Setelah dewasa Wisanggeni keluar dari dasar laut untuk mencari asal-usulnya namun, saat dia keluar dari laut dia disambut oleh dewa yang berusaha untuk membunuhnya. Wisanggeni yang sakti berhasil mengalahkan dewa tersebut dan mulai menjelajahi dunia sebagai buronan dari dewa untuk mencari ayahnya Arjuna. Sudah sepuluh utusan dewa yang telah dikalahkan oleh Wisanggeni sampai dia bertemu dengan Hanuman. Terjadi pertarungan antara Wisanggeni dan Hanuman yang membuat bumi seakan terjadi bencana besar namun belum selesai pertarungan itu datanglah Sri Kresna yang melerai pertarungan mereka dan memberitahu Wisanggeni untuk membantu Arjuna menghadapi musuh yang tidak bisa mati. Melesatlah Wisanggeni menuju tempat Arjuna dan membantunya, di sisi lain Sri Kresna menjelaskan pada Hanuman kalau anak itu adalah anak dari Dewe Darsanala yang semasa bayi pernah digendong Hanuman. Wisanggeni berhasil membunuh lawan yang menyulitkan Arjuna dan dia memperkenalkan diri pada Arjuna bahwa dia dalah anaknya. Arjuna yang tidak percaya memberikan permusuhan kepada Wisanggeni dan mengarahkan anak panahnya kepada Wisanggeni, Wisanggeni hanya diam menerima anak panah yang akan dilesatkan kearahnya, namun Sri Kresna datang dan menghentikan Arjuna. Arjuna, Wisanggeni, dan Hanuman yang kebingungan bertanya kepada Sri Kresna tentang bagaimana kejadian ini bisa terjadi. Sri Kresna menjelaskan dengan kekuatannya membuat mereka bertiga seolah mengalami dan melihat kilas balik yang diketahui oleh Sri Kresna. Mengetahui semua itu Wisanggeni semakin marah terhadap para dewa kenapa dia disangkal di kehidupannya dan harus dimusnahkan. Terbanglah Wisanggeni ke kayangan untuk menuntut balas terhadap perlakuan dewa dan disusul oleh Hanuman. Selama perjalanan ke kayangan mereka dihadang banyak dewa tapi Wisanggeni tanpa gentar dengan kedigdayaannya mampu mengalahkan semua dewa yang menghadang. Maka sampailah Wisanggeni bertemu dengan Bathara Brahma untuk menuntut penjelasan. Terjadi kejar-kejaran dan adu kesaktian namun Wisanggeni selalu bisa mengejar dan menghalau segala serangan dari Bathara Brahma, sampai Bathara Brahma di sebuah sawah dan meminta pertolongan Semar dan menjelaskan semua perkara yang terjadi. Semar memberikan nasihat bijak kepada Bathara Brahma tentang keputusan yang telah dia ambil dan sesampainya Wisanggeni di sana Semar juga melerai perkelahian mereka. Semar menjadi penengah dan memberikan wejangan kepada mereka berdua sehingga Wisanggeni mundur dan meninggalkan mereka.

Wisanggeni yang diliputi rasa yang tidak bisa dijelaskan menenangkan diri di aliran sungai sampai suara lembut terdengar di telinganya memintanya untuk datang bertemu. Setelah mengikuti suara itu Wisanggeni bertemu dengan sesosok perempuan yang sangat cantik dan suara yang merdu. Dewi Darsanala, dia adalah ibu sekaligus orang yang ditemui Wisanggeni saat itu. Percakapan terjadi di antara mereka berdua. Seperti reuni yang mempertemukan mereka yang terpisahkan dari bayi Wisanggeni duduk dan merasakan kehangatan dari ibunya. Sejak saat itu Wisanggeni memutuskan untuk pergi muksa tanpa meninggalkan jejak di dunia supaya bisa menjaga takdir dunia berjalan semestinya yang telah ditentukan.

Buku novel Wisanggeni Sang Buronan ini memiliki alur cerita dan bahasa yang mudah dipahami membuat sebuah kisah pewayangan menjadi bacaan yang menyenangkan tidak terasa kisah yang berat untuk dibaca. Namun untuk beberapa pembaca yang belum pernah membaca kisah pewayangan mungkin akan dibuat bingung tentang tokoh dan latar tempatnya. Buku ini juga berisikan ilustrasi yang menarik yang membuat semakin menyenangkan untuk dibaca.  Seperti kutipan di akhir buku ini memanglah sebuah buku yang seru seperti cerita silat, bijak seperti buku filsafat, dan ringan seperti hiburan. (ykib/puguh).

Identitas Buku

Judul Buku                      : Wisanggeni Sang Buronan

Penulis                             : Seno Gumira Ajidarma

Penerbit                          : Diva Press

Tahun Terbit                  : 2023

Jumlah Halaman           : 105 halaman

Genre                               : Sastra Fiksi

 

*Penulis resensi buku adalah Kepala Kampung Ilmu Kota Bojonegoro

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *