Oleh Muhammad Roqib
Bojonegoro – Yayasan Kampung Ilmu Bojonegoro (YKIB) mengadakan kajian bertema “Generasi Milenial dan Sumpah Pemuda” di Rumah Belajar Kampung Ilmu di Desa/Kecamatan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro, pada Minggu (27/10/2019). Kajian ini dihelat dalam rangka refleksi Hari Sumpah Pemuda yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober.
Sebagai penyaji dalam kajian ini yaitu Muhammad Imam Gusthomi, alumnus Fakultas Hukum Universitas Trunojoyo Madura dan kandidat penerima beasiswa strata dua dari LPDP. Ia juga pengajar di lembaga Bimbel Gugusan Bintang YKIB. Sedangkan, peserta dalam kajian ini yaitu pelajar SMK yang mengikuti program magang di Lapangan Banyu Urip yang dikelola oleh ExxonMobil Cepu Limited, dan para guru YKIB.
Muhammad Imam Gusthomi mengatakan, peran pemuda dalam membangun kesadaran berbangsa dan bernegara pada masa perjuangan kemerdekaan sangat penting. Pada awalnya, kata dia, perjuangan melawan penjajahan Belanda dilakukan oleh bangsa Indonesia secara kedaerahan, belum bersatu sehingga mudah dikalahkan oleh Belanda. Kemudian, kata dia, para pemuda menggelar kongres pemuda I pada 30 April sampai 02 Mei 1926, kongres pemuda II pada 27 Oktober 1928, dan kongres pemuda III pada 28 Oktober 1928.
“Pada kongres pemuda III ini lahir ikrar sumpah pemuda yaitu bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu yaitu Indonesia. Kesadaran ini yang kemudian menjadi pondasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945,” ujarnya.
Menurutnya, dalam sejarah pemuda selalu mempunyai peranan penting dalam mengubah sejarah. Sehingga wajar, kata dia, apabila Soekarno pernah berucap beri sepuluh pemuda maka ia akan mengguncang dunia. Peran pemuda dalam kemerdekaan Indonesia dan juga dalam perubahan rezim mulai orde lama, orde baru, dan reformasi sudah tidak bisa diragukan lagi. Akan tetapi, kata dia, bagaimana dengan peran pemuda dalam masa digital sekarang ini.
“Pemuda dan pelajar pada masa milenial sekarang ini bisa berkontribusi membangun bangsa dan negaranya dengan cara tekun belajar, bekerja keras, terus berinovasi, dan peduli dan berbakti kepada bangsa dan negaranya. Selama kita terus melakukan hal yang positif, misalnya menjalani magang dengan baik, maka sebenarnya sudah membangun bangsa ini,” ujarnya.
Menurut Danis Handika, siswa SMKN 4 Bojonegoro, salah satu siswa magang di Lapangan Banyu Urip, mengatakan, pemuda di masa sekarang ini harus melanjutkan perjuangan para pemuda di masa perjuangan kemerdekaan. Salah satu caranya yakni menggunakan waktu secara produktif, melakukan hal yang positif, dan berusaha meraih prestasi baik di sekolah maupun luar sekolah.
“Pemuda di era digital ini juga harus peduli dengan bangsa dan negaranya, berbakti kepada bangsa dan negaranya. Kemajuan bangsa dan negara ini juga ditentukan oleh peran para pemudanya,” ujarnya.
Danis Handika adalah satu siswa peserta program magang siswa SMK di Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu yang dioperatori oleh EMCL. Program bagi pelajar SMK ini telah digelar sejak tahun 2016 hingga 2017. Pada tahun 2016 diikuti 19 siswa, pada tahun 2017 diikuti 21 siswa, pada tahun 2018 diikuti 37 siswa, dan pada tahun 2019 ini telah diikuti 51 siswa. (ykib)

