*Oleh Iin Vina Noviana, S.Pd.
Buku “2 Menit Membaca Pikiran Orang” ditulis oleh Bayu W. Ayogya yang berisi terkait berbagai cara untuk membaca pikiran orang yang diawali dengan kemampuan berempati atau meresapi diri dalam berbicara dengan orang lain, dengan cara melihat berbagai gerakan atau bahasa tubuh. Mungkin banyak orang yang tidak menyadari bahwa bahasa yang disampaikan oleh bahasa nonverbal justru mengisyaratkan makna yang sebenarnya terjadi dalam pembicaraan. Hal tersebut disebabkan karena adanya sifat gerakan atau perubahan pada tubuh yang tidak bisa direkayasa. Gerakan yang dilakukan secara spontan yang muncul pada diri sendiri mengandung informasi dengan akurasi yang jauh lebih baik daripada yang diucapkan.
Dalam buku ini dibagi menjadi lima bagian, bagian pertama membahas tipe-tipe seseorang dan sikap yang berkaitan dengan diri sendiri. Tipe perfeksionis yang selalu perfect dalam hal apapun, idealis, disiplin dan teratur, namun ada sisi negatif seperti gemar mengkritik orang lain, terlalu serius dan cenderung menguasai. Sehingga jika menghadapi orang tersebut kita sebaiknya segera menyelesaikan tanggung jawab yang diberikan sebelum berhadapan dengan tipe orang seperti itu. Tipe pemburu prestasi dengan cirinya yang produktif, rajin, optimistis, selain itu memiliki sifat kerap memperdayakan, pamer, over-akting, dan bersikap kompetitif. Sedangkan sikap yang berkaitan dengan citra diri, di mana sikap dan citra diri biasanya berjalan beriringan karena sikap merupakan cerminan dari karakter seseorang. Sikap orang pandai yang argumentatif, cenderung memperlihatkan pengetahuan yang didapat, dan selalu menentang informasi yang diberikan. Orang rasional yang berpikir jernih, dan menerima pendapat orang lain tanpa perdebatan, tanpa adanya perasaan atau nilai sehingga tidak bisa dijadikan sebagai dasar pengambilan keputusan. Selain itu terdapat sikap yang penggertak atau menantang yang memiliki raut muka ekspresif, selalu mencela apapun pendapat orang lain.
Bagian kedua yang membahas terkait tujuan dan manfaat memahami bahasa tubuh, kita dapat mengenali keadaan seseorang, dapat mengamati dan memahami gerak tubuh orang lain sehingga kita dapat mengetahui karakter orang lain dan ketika berbicara kita harus berhati-hati sehingga tidak menyinggung perasaan orang tersebut. Dengan begitu manfaat untuk memahami bahasa tubuh terjalin hubungan antarpribadi yang baik dalam kehidupan sehari-hari, dapat menyelamatkan diri dari bahaya dimanipulasi seseorang, dan dapat mendatangkan rezeki atau kebahagian. Dalam mempelajari bahasa tubuh perlu latihan , pengamatan, dan kepekaan.
Bagian ketiga yang membahas berbagai macam bahasa tubuh seseorang sebagai isyarat. Dalam buku dijelaskan bahasa tubuh orang yang berbohong ditandai dengan menutup mulut atau sekedar menaruh tangan di mulut yang dilakukan secara refleks tanpa disadari, selain itu gerakan mengusap hidung, memalingkan pandangan, dan terjadinya perubahan nada suara. Bahasa tubuh orang yang tertarik biasanya ditandai dengan merapikan baju atau rambut, terlihat dari tatapan dan perubahan pupil mata yang lebih lama menatap dari biasanya. Bahasa tubuh orang yang menolak atau marah ditandai dengan menyilangkan tangan di dada, menyilangkan kaki menujukkan sikap menutup diri, menantang dan siap untuk bersaing, selain itu ditandai dengan gerakan menyeka yang seolah-olah sedang membersihkan pakaian dan mengalihkan tatapan yang biasanya terjadi ketika seseorang tidak mempunyai keberanian untuk mengemukakan pendapat. Selain itu tanda-tanda orang yang merasa berkuasa bisa dilihat dari bahasa tubuh seperti meletakkan kaki di atas meja yang merupakan salah satu perilaku yang tidak sopan di negara kita, namun karena adanya globalisasi dan informasi yang menyebabkan hal tersebut menjadi bukan sesuatu yang tabu lagi. Tangan dilipat di belakang badan, sering kali orang yang menunjukkan kekuasaan dengan cara menghembuskan asap rokok ke atas yang biasanya terjadi saat merayakan kemenangan.
Bagian keempat membahas agar tidak dimanfaatkan oleh orang lain. Menjadi orang baik jangan mau untuk dimanfaatkan atau dimanipulasi orang lain sehingga perlu adanya taktik untuk mengetahui apakah teman kita tulus dengan kita atau hanya memanfaatkan kebaikan kita. Untuk mengetahui apakah teman kita tulus atau tidak ditandai dengan perhatiaan atau selalu menghubungi kita bukan menghubungi ketika dia butuh saja, kesetiaan dalam menjaga rahasia, kejujuran, selalu berkorban, selalu bangga ketika kita berprestasi bukan iri atau menyepelekan.
Bagian kelima menceritakan tentang menjadi orang yang mempunyai rasa empati atau peduli. Sebagian orang saat ini mungkin jarang memikirkan keadaan orang lain. Rasa empati memang sulit bagi orang yang tumbuh dalam keluarga yang orangtuanya tidak memiliki rasa empati. Seharusnya sebagai orang tua memberikan pendidikan terkait kepedulian terhadap orang lain, karena lebih mudah untuk menerapkan empati kepada anak-anak dalam kesehariannya dengan menyaksikan praktik dari orang tuanya. Di dalam kehidupan sehari-hari empati menjadi unsur penting, hubungan kita dengan teman, pasangan, murid, orang lain akan menjadi terhambat jika tanpa rasa empati. Empati dapat melatih rasa kasihan dan cara mengatasi konflik antarpribadi secara efektif dan konstruktif. Sehingga kita harus membentengi dan berusaha memperbaiki diri dengan sikap empati. Jika kita mempunyai rasa empati dan berhasil menerapkannya kita tidak hanya dapat memperkaya kehidupan kita saja melainkan juga memperkaya dan membantu kehidupan orang lain. Karena dengan empati dan komunikasi akan mempererat suatu hubungan.
Kelebihan buku ini:
- Buku ini sangat bagus sebagai sarana pembelajaran psikologi dalam kehidupan sehari-hari.
- Bahasa dalam buku ini mudah untuk dipahami.
- Penulis kreatif dalam mencantumkan kosa kata yang membuat pembaca mendapatkan ilmu baru.
- Dilengkapi dengan bingkai yang berwarna sehingga dapat menarik pembaca.
Kelemahan buku ini:
- Dalam cover buku tertulis dilengkapi gambar dan ilustrasi, namun di dalam isi hanya ada sedikit gambar yang disajikan.
Identitas buku:
Judul Novel : 2 Menit Mambaca Pikiran Orang
Pengarang : Bayu W. Ayogya
Penerbit : Psikologi Corner
Tahun Terbit : 2018
Cetakan : Ke 1
Jumlah Halaman : 286 Halaman
ISBN : 978-602-6673-07-7
*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Purwosari

