Oleh Tsamrotul Ulum, S.P.
Buku yang berjudul “Rahmatan Lil’aalamiin Akhlak Bertetangga” ini menceritakan tentang perilaku-perilaku yang sebaiknya diterapkan dalam kehidupan bertetangga. Penanaman akhlak kehidupan bertetangga sebaiknya diajarkan kepada anak di usia sedini mungkin. Karena akan lebih mudah untuk membentuk karakter anak di usia dini, seperti kata pepatah “belajar di waktu muda bagaikan mengukir di atas batu dan belajar di waktu tua bagai menulis di atas air” yang artinya bahwa seseorang yang belajar di waktu muda akan lebih mudah dan akan terus ingat tentang apa yang dipelajari, sedangkan belajar di waktu tua akan mudah lupa, bahkan akan menjadi sesuatu yang sia-sia.
Pembukaan pada buku ini juga sangat menarik karena disertai sebuah pengertian tetangga dan diperkuat oleh sebuah hadits. Tetangga adalah saudara kita yang paling dekat, kita diperintahkan untuk selalu berbuat baik dan adil pada mereka. Dengan begitu, hidup bertetangga akan terasa rukun dan tenteram. Begitulah ajaran Islam yang indah.
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hormatilah tetangga” (HR. Muslim).
Cerita yang pertama yaitu antara Aziza, Oma Tuti dan sebuah Mangga. Pada suatu hari, Aziza melihat mangga di pohon sambil bergumam “Mangga-mangga itu ranum sekali” dan beberapa saat kemudian ada sebuah mangga yang jatuh. Kemudian Aziza memungutnya dan berpikir jika mangga itu sangat enak dan manis, tetapi Aziza sadar bahwa mangga itu bukan miliknya sehingga ia menyerahkan mangga itu pada Oma Tuti. Melihat kejujuran Aziza, Oma Tuti memberikan hadiah berupa beberapa buah mangga dan buah-buah yang lain. Aziza merasa sangat senang. Hikmahnya ketika kita berbuat baik dan jujur maka akan mendapatkan balasan kebaikan pula.
Cerita yang kedua dari Fatih dan teman-teman yang ingin bermain sepak bola di lapangan yang ternyata sedang dijadikan tempat parkir mobil oleh beberapa tetangganya. Fatih dan teman-teman akhirnya pindah ke taman untuk bermain bola di sana. Alasannya karena Fatih takut mengganggu tetangganya dengan teriakannya saat bermain bola dan takut bola mengenai mobil yang terparkir. Akhirnya mereka bisa bermain bola dengan lebih leluasa tanpa mengganggu kenyamanan orang lain.
Hikmahnya ketika kita tidak ingin diganggu orang lain maka kita juga jangan mengganggu orang lain. Perilaku Fatih sesuai dengan hadits yaitu “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia mengganggu tetangganya”. (HR. Bukhari Muslim)
Cerita yang ketiga dari Azam, Masyita dan si Belang (Kucing). Pada suatu hari Azam dan ayah baru selesai memancing dan mendapatkan ikan yang besar-besar. Tiba-tiba si Belang mengambil salah satu ikan Azam dan berlari kencang. Meskipun ikan tersebut tidak sampai dimakan si Belang tetapi Masyita akhirnya meminta maaf pada Azam dan dia memaafkannya. Hikmah dari cerita ini yakni sesama tetangga harus saling memaafkan karena siapapun bisa berbuat salah.
Cerita selanjutnya dari Isna, Abyan dan tempe kriuk. Isna baru pulang dari rumah nenek di kampung. Nenek membawakan sekardus besar kripik tempe kesukaan Isna. Selang beberapa saat tetangganya yang bernama Abyan datang dan memberikan cemilan untuknya. Ternyata isinya kripik tempe juga. Tetapi isna tetap menghargai dan menerima pemberian Abyan dengan senang hati. Hikmah dari cerita ini yakni kita sebaiknya menghargai pemberian tetangga meskipun itu adalah hal kecil.
Cerita yang terakhir dari Alma dan mama. Suatu hari Alma ingin membuat sup dan membagikan kepada teman-temannya. Tetapi karena bahannya yang terbatas akhirnya sup itu diberi kuah yang banyak agar dapat dibagikan kepada Siti dan Doni. Mereka pun merasa senang dan hubungan bertetangga menjadi lebih erat dan rukun. Hikmah dari cerita ini yakni saling berbagi kepada tetangga dapat menjaga hubungan silaturahmi dan menjaga kerukunan.
Kelebihan buku :
Cerita-cerita di atas sangat menarik dan edukatif. Sehingga cocok untuk pendidikan karakter atau membangun akhlakul karimah anak-anak.
Disertai dengan gambar-gambar yang menarik, alur yang mudah dipahami dan cerita yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari sehingga ringan dibaca meskipun oleh anak-anak.
Karakternya banyak yang menggunakan hijab, ceritanya disertai dalil Al-quran dan Hadist nabi. Sehingga bernilai islami.
Kekurangan buku :
Bisa ditambahkan sikap yang sebaiknya kita miliki, jika ternyata kita menemukan tetangga yang bersikap kurang baik. Sehingga ada pemecahan dalam suatu masalah dikehidupan sehari-hari.
Identitas Buku
Judul : Seri “Rahmatan Lil’aalamiin Akhlak Bertetangga”
Penulis : Lia Herliana
Penyunting : Wirda Azizah
Penerbit : Bhuana Ilmu Populer
Tahun Dicetak : 2020
ISBN : 978-623-04-0001-8
Penulis adalah guru Kampung Ilmu Purwosari

