Asal – Usul Ikan Patin

*Oleh Eti Nurjanah, S.Pd.

Sore hari di rumah Ki Labih tengah santai bersama istrinya. Rumah tangga mereka belum juga dikaruniai keturunan. Mereka takut di usia yang kian bertambah tidak juga ada momongan untuk menemani mereka tua kelak. Keesokan harinya mereka pergi ke sungai untuk mencari ikan. Mereka bertemu dengan para gadis desa. Mereka membayangkan rasanya memiliki seorang anak. Ketika mereka tengah ke sungai untuk menyisir ikan, tiba – tiba istri Labih terpeleset dan ditolong oleh gadis itu. Kemudian mereka membawa Ni Labih untuk pulang. Sementara Ki Labih melanjutkan untuk mencari ikan. Dan kemudian pancing Labih menyangkut dua ikan dan langsung dibawa pulang untuk lauk mereka. Labih berjalan pulang dengan perasaan sangat gembira.

Beberapa saat kemudian, kondisi Ni Labih makin mengkhawatirkan dan semakin parah. Dan takdir berkata lain, Ni Labih menghembuskan napas terakhirnya. Sementara di saat Ki Labih tengah berduka para pemuda tengah mengejek dengan kata – kata yang tidak pantas. Kemudian mereka bertengkar dengan adu pukul. Namun tiba-tiba Ki Labih melihatnya dan menghentikannya. Akhirnya mereka berdamai dan mengucapkan turut bela sungkawa.

Setelah lima belas tahun ditinggal sang istri, Ki Labih masih tetap sendiri. Ki Labih tetap semangat menjalani kehidupan tanpa seorang istri. Hari itu sangat cerah Ki Labih hendak ke sungai untuk mencari ikan. Sesampainya di sungai, Ki Labih menunggu lama untuk kailnya dimakan ikan. Namun tak disangka ikan itu justru mendekati Ki Labih untuk sengaja. Itu adalah ikan patin. Ikan itu tampak gemuk dan banyak dagingnya. Kemudian Ki Labih membawanya pulang untuk dijadikan lauk. Ketika hendak membersihkan ikan, ternyata pisaunya tumpul sehingga Ki Labih harus mengasahnya dahulu. Beberapa menit berlalu setelah usai mengasah dan hendak memotong ikan itu, tiba – tiba ikan tersebut berubah menjadi seorang bayi. Betapa terkejutnya Ki Labih dan berniat untuk mengasuh bayi tersebut. Dan mulai saat itu bayi tersebut diberi nama Leniri.

Waktu terus berlalu, 20 tahun kemudian Leniri tumbuh menjadi gadis cantik. Ketika di sungai bersama sang ayah, ada anak muda tampan yang bernama Simbun mengintip Leniri. Sore harinya Simbun bertamu ke rumah Leniri. Dan ternyata mereka memiliki rasa yang sama. Kedatangan Simbun bermaksud untuk melamar Leniri. Ayahnya sangat terkejut karena ada suatu rahasia. Kemudian ayahnya memberitahu bahwa Leniri itu keturunan ikan. Pemuda tersebut sangat terkejut. Namun pemuda itu sudah terlanjur mencintainya dan berjanji akan menikahi apapun keadaanya. Namun Ki Labih memberi syarat kepada Simbun jika jangan pernah menyebutkan asal-usul dia. Kalau sampai melanggar, kalau sampai melanggar akan tahu akibatnya.

Kemudian mereka menikah. Lima bulan telah berlalu, Leniri dan Simbun mengarungi bahtera rumah tangga. Dan kini Leniri sedang mengandung tiga bulan. Pada suatu siang, Leniri berpamitan hendak menengok sang ayah karena lama tidak jumpa. Sesampainya di rumah sang ayah Leniri mengajak ayahnya untuk tinggal bersama supaya bisa mengurus di hari tuanya. Namun di usia yang sangat tua, sang ayah sering sakit-sakitan. Kemudian sang ayah menghembuskan napas terakhir di pangkuan Leniri.

Berselang empat bulan ditinggal oleh sang ayah, perut Leniri kian membesar. Tak terasa Leniri akan melahirkan tetapi sang suami tidak berada di rumah. Leniri meminta bantuan warga untuk proses persalinannya. Kemudian lahirlah seorang anak laki-laki. Anak itu diberi nama Ari. Mereka saling bahu membahu mengurus putranya.

Suatu hari, Leniri hendak pergi ke sungai untuk mencuci pakaian. Dan putranya diasuh sendirian oleh sang ayah. Setelah beberapa jam Leniri tak kunjung pulang sedangkan sang anak menangis terus tak henti – henti. Simbun sangat marah sampai mengucapkan perkataan yang tidak seharusnya diucapkan, “Bisa diam tidak?. Dasar keturunan ikan”. Ucapan itulah yang dilarang Ki Labih kepada Simbun. Mendengar perkataan tersebut Leniri tersentak dan sangat kecewa. Dan lari meninggalkan suami dan anaknya. Simbun terus mengejar untuk meminta maaf. Tetapi teriakan Simbun sia – sia. Istrinya sudah ke tengah sungai dan menghilang, kembali ke asalnya sebagai ikan patin.

Demikianlah akhir cerita asal usul ikan patin. Janji harus ditepati, mengingkari janji akan mengakibatkan kerugian. Ingkar janji adalah perbuatan yang tidak terpuji dan mengakibatkan kesengsaraan. (*/ykib).

*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Purwosari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *