*Oleh Tsamrotul Ulum, S.P.
Pada kesempatan kali ini penulis akan meresensi buku dengan judul “Asyiknya Membantu Bunda” yang merupakan kumpulan cerpen seri pendidikan akhlak untuk anak. Dalam buku ini terdapat cerita-cerita dengan berbagai judul yang sesuai dengan kehidupan sehari-hari yang mengandung pesan moral bagi para pembacanya.
- Asyiknya Membantu Bunda
Cerita yang pertama yaitu dengan judul “Asyiknya Membantu Bunda” yang menceritakan tentang pengalaman liburan seorang anak bernama Davin. Ketika waktu libur telah tiba Davin merengut karena belum apa-apa ia sudah merasa bosan. Ayah dan bundanya tidak bisa mengantarnya ke rumah Eyang yang di Jakarta, sementara Davin juga enggan berlibur ke rumah nenek yang di desa karena ia merasa tidak ada enaknya liburan di desa. Akhirnya Davin tidak pergi kemana-mana dan setiap harinya hanya bermain sepeda bersama teman-temannya yaitu Arif, Tyo dan Andra. Dan sesekali mereka pergi berenang di dekat rumah.
Pada suatu hari cuaca sangat terik. Bunda melarangnya pergi bermain sepeda. Dan Bunda memintanya untuk membantu menjaga toko, karena Bunda akan menidurkan adik. Toko kecil itu berada di halaman depan. Di toko Bunda tersedia berbagai macam barang, mulai dari mainan, makanan, minuman, jepit rambut, alat tulis hingga melayani isi ulang pulsa. Bunda sudah menempeli harga di setiap barang dengan label kecil. Sehingga Davin akan dengan mudah ketika akan melayani pembeli. Bunda menata toko dengan sangat rapi. Alat tulis di sebelah kiri, jepit rambut di gantung di tempat khusus, makanan dan minuman diletakkan di etalase. Sebagian minuman diletakkan di dalam kulkas yang ada di sudut. Dalam hati Davin berkata “Bunda apa tidak capek ya nempeli harga?. Padahal jumlah barangnya banyak banget.”
Tak lama kemudian, Arif datang membeli permen. Uangnya Rp 10 ribu padahal harga permennya hanya 500 rupiah. Setelah berkomat-kamit menghitung uang kembalian, akhirnya Davin memberikan uang kembalian untuk Arif yaitu 1 lembar lima ribuan, 4 lembar seribuan dan uang logam lima ratus rupiah. Davin sangat cekatan melayani para pembeli. Ia pun juga mendapatkan pujian dari Pak Marjo yang membeli minuman dingin dan Bu Sani yang membeli minyak goreng. Tak terasa hari sudah sore pembeli pun semakin ramai, tetapi wajah Davin tidak menunjukkan rasa bosan. Ketika ayah pulang ia bergegas menghampiri ayah yang datang dengan membawa buah tangan berupa nasi padang, tanpa berpikir panjang Davin langsung melahap nasi padang itu dengan bersemangat. Davin merasa ternyata liburan di rumah juga mengasikkan, bisa berlibur, belajar sambil membantu Bunda.
- Rumah Nomor Tiga Puluh
Rumah kuno besar dengan atap melengkung itu begitu seram, ditandai dengan sebuah angka 30 dari logam yang sudah berkarat terpampang di pagar besarnya. Debu tebal dan sarang laba-laba menghiasi seluruh bagian rumah, ditambah sulur-sulur tanaman rambat serta sebuah pohon beringin besar yang terletak di halaman rumah menjadikan rumah itu tampak angker dan seram.
Setiap hari ketika berangkat dan pulang sekolah Yoga melewati rumah tua tersebut, dia adalah warga baru di kampung tersebut. Sehingga ia tidak begitu tahu akan cerita tentang rumah nomor 30 tersebut.
“Lima bulan lalu, Tuan Smith pemilik rumah itu tiba-tiba saja menghilang, sejak saat itu rumah itu tampak sepi dan tidak ada yang berani mendekat lagi. Karena setiap kali ada yang mendekat mereka akan mendengar suara aneh dan jendelanya tiba-tiba terbuka sendiri. Rumah itu berhantu, hantu Tuan Smith yang penasaran karena mayatnya belum ditemukan,” kata Ranu.
Pada suatu hari, Ranu tidak masuk sekolah karena sakit. Akhirnya Yoga berangkat sekolah sendirian, ketika melewati rumah nomor 30 tiba-tiba ada suatu sosok melesat cepat berlari ke arah halaman belakang rumah. Dan tiba-tiba terdengar bunyi blam yang artinya salah satu jendela rumah terbuka. Bukannya takut, Yoga justru semakin penasaran, dia melihat ke dalam rumah melalui jendela itu dan mendengar suara-suara aneh. Yoga tetap tidak takut, dia sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Yoga mengamati sekitarnya, dan ia menyadari bagaimana jendela itu bisa membuka dan menutup dengan sendirinya, yaitu ada tali panjang yang terikat di daun jendela dan menyambung hingga ke dalam rumah yang gelap. Yoga menarik tali itu, dan betapa terkejutnya dia ternyata tali itu menarik seorang laki-laki tua yang sangat kurus dengan tubuh dan mulut terikat. Akhirnya Yoga membantu melepaskan tali yang mengikat tubuh dan mulut laki-laki tua itu. Ternyata Tuan Smith selama ini disekap oleh kawanan perampok, mereka harus segera lapor polisi.
Merasa ada yang aneh dan membingungkan, Yoga pun meminta bantuan warga sekitar. Ternyata selama ini Tuan Smith disekap oleh para perampok, dan perampok menjadikan rumahnya sebagai markas. Perampok juga membuat surat wasiat palsu, agar tidak ada orang yang berani datang ke rumahnya lagi. Para perampok mengikat tuan Smith dan ikatannya disambungkan ke salah satu jendela. Sehingga ketika tuan Smith menggerakkan tubuhnya, jendela akan membuka dan menutup dengan sendirinya. Orang-orang yang melihat akan mengira bahwa itu hantu, dan suara aneh yang sering terdengar itu adalah suara tuan Smith yang ingin meminta tolong, tetapi mulutnya dibungkam.
Setelah kejadian itu, polisi berhasil menjebak dan menangkap kawanan perampok yang memang buron itu. Akhirnya tuan Smith bisa kembali menempati rumahnya dengan aman dan nyaman. Yoga mendapat banyak hadiah dari tuan Smith karena telah menyelamatkannya. Dan rumah nomor 30 itu sekarang sudah tidak lagi terlihat angker.
Kelebihan :
- Di beberapa cerita juga dilengkapi gambar yang menggambarkan suasana yang sedang terjadi.
- Mengandung pesan moral yang baik untuk para pembaca.
- Bahasa dan alurnya mudah dipahami dan ringan untuk dibaca anak-anak.
*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Purwosari

