Oleh Qoniatul Qismah, S.Pd.
Novel karya Habiburrahman El Syirazi ini menceritakan kisah Syamsul Hadi pemuda Pekalongan yang nyantri di pesantren Al Furqon Kediri. Syamsul Hadi termasuk santri yang pandai. Sehingga ada teman yang iri terhadapnya. Burhanlah orangnya. Burhan menjebak Syamsul dengan menyuruh mengambil uang Burhan di lemari. Namun setelah itu Burhan malah memfitnahnya. Bahwa yang telah mengambil uangnya adalah Syamsul. Lalu Syamsul dihukum dengan digunduli dan dikeluarkan dari pesantren. Keluarga Syamsul pun sangat marah. Dia memutuskan untuk meninggalkan rumah karena di pesantren dia tidak diterima dan di rumah juga tidak diterima.
Di Semarang Syamsul mencoba mencari pekerjan tapi tak dapat juga, akhirnya ia memutuskan untuk mencopet, namun nahas nasib tidak berpihak padanya. Ia pun ketahuan dan dibawa ke penjara. Setelah keluar dari penjara Syamsul memutuskan hijrah ke Ibu Kota Jakarta dengan uang seadanya ia mengontrak rumah.
Sudah satu bulan Syamsul di Jakarta namun dia tak kunjung dapat pekerjaan. Dan dia memutuskan untuk mencopet. Suatu hari Syamsul mencopet dompet gadis cantik dalam dompetnya tertera identitas gadis tersebut. Gadis itu bernama Silvi. Namun Syamsul terkejut ketika mendapati foto Silvi dan Burhan, seseorang yang telah membuat hidupnya hancur. Ia kemudian mencari alamat rumah Silvi. Di saat dalam pencarian ia justru diminta menjadi guru ngaji pribadi seorang anak bernama Dela. Di situ pulalah dia menemukan Silvi yang kebetulan adalah guru les pribadi Dela. Tujuan utama Syamsul ke situ adalah untuk membongkar semua kejahatan Syamsul. Akhirnya kesempatan itu ada, Syamsul membongkar seluruh kejahatan Burhan terutama bahwa yang telah membuat ia dipenjara dan dia juga mengatakan bahwa Burhan telah memiliki kekasih di daerah Kediri. Silvi pun terkejut dengan semua perkataan Syamsul. Ia sulit mempercayai itu semua. Ia segera pergi meninggalkan Syamsul.
Syamsul akhirnya menjadi dai kondang. Dia sering diundang untuk mengisi pengajian baik di masjid atau di televisi. Perasaan simpati Silvi pada Syamsul kini berubah menjadi cinta. Orang tua Silvi melamar Syamsul. Kemudian dia meminta pertimbangan kepada ibunya hingga ibunya pun menerimanya. Mereka berdua akan segera menikah, namun tiba-tiba Silvi mengalami kecelakaan dan meninggal seketika itu. Syamsul sangat terpukul atas kejadian itu. Beberapa bulan kemudian datanglah Zizi. Mereka saling jatuh cinta dan akhirnya menikah.
Novel ini layak untuk dibaca karena ceritanya yang inspiratif. Novel ini mengajak pembaca untuk selalu menjalankan syariat Allah serta mengajari kita untuk selalu bersyukur dan sabar. Novel ini banyak mengandung nilai pendidikan dan moral. Banyak hikmah yang dapat dipetik dalam novel ini. Pesan dalam novel ini adalah “Setiap menanam kebaikan pasti akan menuai hasil yang baik pula. Setiap menebarkan benih keburukan pasti akan menikmati kesia-siaan dalam hidup ini.” (*/ykib).
Identitas buku:
Judul: Dalam Mihrab Cinta
Penulis: Habiburrahman El Syirazi
Penerbit: Republika Basmala
Tebal Buku: 266
Cetakan: Juli 2007
*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Padangan

