Oleh Muhammad Roqib
Apakah anda pernah membaca buku Eat, Pray, and Love (Makan, Doa, dan Cinta) karya Elizabert Gilbert?. Buku itu pernah menjadi topik perbincangan yang hangat di Amerika dan juga bahkan di Indonesia. Mengapa?. Karena buku itu bercerita tentang perjalanan si penulis buku, Elizabert Gilbert di Italia, India, dan Indonesia.
Buku Eat, Pray, and Love itu juga difilmkan. Pemain utamanya Julia Robert, artis kondang yang pernah main film apik Pretty Woman beradu acting dengan aktor ganteng Richard Geer. Tentu saja yang menarik perhatian kita adalah saat pengambilan film Eat, Pray, and Love itu di Pulau Bali. Saat film itu selesai syuting dan diputar di sejumlah bioskop di Tanah Air, banyak orang yang penasaran dan menontonnya.
Sebenarnya buku Eat, Pray, and Love adalah kisah perjalanan pencarian jati diri si penulis, Elizabert Gilbert. Ia biasa disapa Liz oleh teman-temannya. Saat memasuki usia tiga puluh tahun, Liz memiliki semua impian yang diinginkan oleh seorang wanita Amerika modern. Ia seorang terpelajar, ambisius, punya suami, rumah, dan karir yang cemerlang. Tetapi, perjalanan hidupnya tidak seindah yang dia bayangkan. Ia mengalami perceraian, depresi, kegagalan cinta, dan kehilangan pegangan arah hidupnya.
Liz hampir saja putus asa. Untuk memulihkan hidupnya, Liz mengambil pilihan yang radikal. Ia memilih keliling dunia. Ia mau mencari jati dirinya. Liz menjual semua miliknya, meninggalkan pekerjaannya, meninggalkan orang-orang yang disayanginya, dan memulai perjalanan hidup seorang diri keliling dunia. Negara yang dikunjunginya pertama kali adalah Italia. Di negeri pizza ini Liz belajar seni menikmati hidup, belajar bahasa Italia dan merajut kegembiraan. Ia suka makan-makanan Italia yang dikenal lezat itu. Berat badannya langsung naik drastis.
Setelah bersuka-suka di Italia, Liz melanjutkan perjalanannya ke India. Di negeri ini ia mengeksplorasi spiritualnya. Ia belajar menenangkan diri dan bermeditasi. Ia dan beberapa temannya belajar pada seorang guru spiritual di India ini. Ia empat bulan tinggal di India.
Perjalanan terakhirnya adalah Indonesia. Di sini ia menemukan tujuan hidupnya, membangun hidup yang seimbang antara kegembiraan duniawi dan kebahagiaan surgawi. Ia tinggal di Pulau Bali. Ia suka bersepeda keliling kampung dan melewati pematang sawah yang hijau. Ia benar-benar menikmati hidupnya. Kisah hidupnya semakin lengkap ketika ia menemukan seorang kekasih di Pulau Bali ini. Liz pada akhirnya bisa memulihkan hidupnya yang sempat kehilangan arah.
Nah, kalau Elizabert Gilbert itu memulai kisah perjalanan untuk mencari jati diri dan memulihkan diri, berbeda dengan seorang perempuan yang juga dari Amerika ini. Namanya Bridget Ginty. Umurnya 25 tahun. Ia anak kedua dari dua bersaudara asal New Hampshire, salah satu negara bagian kecil di Amerika Serikat. Kakaknya merantau di Turki.
Bridget Ginty seorang terpelajar dan cerdas. Ia lulusan Hubungan Internasional George Washington University, Amerika Serikat. Selepas lulus kuliah, Bri, panggilannya sempat berkarir di Negeri Paman Sam itu. Tetapi, hatinya lebih tergerak menjadi sukarelawan. Ia ingin bermanfaat bagi yang lain. Bridget sempat tinggal di Spanyol. Tetapi kemudian ia memilih ingin menjadi relawan pendidikan dan bergabung dengan sebuah lembaga pemerintah yang disebut Peace Corps. Bridget lalu ditempatkan di Indonesia.
Sejak setahun terakhir Bridget tinggal di Indonesia, bukan untuk bersenang-senang atau melupakan masa lalu seperti halnya Elizabert Gilbert, tetapi ia mengabdikan diri menjadi guru di SMK Negeri Purwosari. Ia tinggal di kampung yang jauh dari perkotaan. Sungguh sangat berbeda dengan di negerinya.
Bridget rupanya sudah bertekad bulat ingin menjadi seorang guru di sekolah menengah kejuruan di pedesaan. Ia mampu beradaptasi dengan cepat, meski diakuinya agak berat. Ia harus membiasakan diri dengan makanannya, lingkungannya, kebudayaannya, dan lainnya. Setelah setahun tinggal di Desa Pojok, Kecamatan Purwosari, ia mulai menikmati pengalaman hidupnya yang baru.
Bridget tinggal di rumah ibu angkatnya, Bu Sutinah. Rumahnya tak jauh dari SMK Negeri Purwosari. Kalau lagi bosan, Bridget suka bersepeda melewati pematang sawah atau jalanan di pedesaan. Ia sekarang juga mengaku suka sekali makan nasi pecel. “Saya sekarang suka sekali makan nasi pecel,” ujar Bridget suatu ketika.
Bridget memang kelihatan bule banget. Tidak heran kalau pas jalan-jalan atau bersepeda di kampung, banyak orang yang memperhatikannya. Namun, ia yang sudah belajar memahami kebudayan lokal, bisa bersikap sopan dan menghormati mereka.
Tidak hanya mengajar di sekolah, setiap sore Bridget juga membuka les belajar bahasa Inggris gratis di rumahnya. Anak-anak usia sekolah pun setiap sore ramai belajar di rumah ibu angkatnya di tepi jalan Purwosari-Ngambon itu.
Suatu ketika ia diminta oleh komunitas penggerak baca dan karya, Langit Tobo, menjadi pembicara mengenai kebudayaan Amerika. Kebetulan Bridget ini pernah ikut kajian Langit Tobo yang sebelumnya diadakan di Desa Ngraho. Bridget juga suka membaca karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Ia pernah membaca salah satu buku Tetralogi Buru karya Pram. Ia juga suka sekali membaca karya-karya novel klasik Amerika seperti karya Mark Twain. Bridget juga pernah berkunjung ke Perpustakaan Anak Semua Bangsa (Pataba) milik Soesilo Toer, adik Pramoedya, di Blora. “Saya suka sekali baca bukunya Pram. Bagus sekali,” ucap Bridget usai berkunjung di perpustakaan keluarga itu.
Saat berbagi pengetahuan tentang kebudayaan Amerika di acara Kenduri Langit Tobo, Bridget bercerita tentang kebudayaan Amerika dan sisi-sisi terdalamnya. Ia bercerita tentang keberagaman ras di Amerika, ekonominya, politiknya, dan kebudayaannya. Ia juga bercerita tentang hal hal yang sederhanya seperti misalnya di Amerika kalau menyapa orang yang belum dikenal itu biasanya hanya bilang, “Hi, how are you?.”. Tetapi, cukup itu saja dan tidak sampai menanyakan dari mana asalnya, tinggalnya di mana, dan seterusnya. “Tetapi kalau di sini (Indonesia, red) ketemu dengan orang yang belum dikenal boleh menanyakan di mana rumahmu, asalmu dari mana, dan sudah menikah atau belum, ha ha ha,” ucap Bridget sambil tertawa.
Ada lain lagi yang ia ceritakan soal menghargai waktu. Di Amerika, kata dia, seseorang yang sudah janjian untuk bertemu akan berusaha maksimal menepati waktu. Sebab, kata dia, kalau datang terlambat akan dianggap kurang menghargai orang yang sudah menepati waktu. Tetapi, kata dia, di Indonesia kebiasaan untuk menghargai waktu belum sepenuhnya dilakukan.
“Saya sekarang sudah terbiasa dengan jam karet. Kalau saya kembali ke Amerika, saya akan buat teman-teman bingung karena jam karet saya ha ha,” selorohnya.
Kebiasan lain lagi misalnya, kata dia, kalau di Amerika orang yang bertamu atau berkunjung ke rumah orang lain itu harus ada perjanjian sebelumnya. Karena kalau tiba-tiba berkunjung ke rumah orang lain tanpa janjian lebih dulu dianggap kurang sopan. Tetapi di Purwosari, kata dia, ia lihat orang biasa berkunjung atau bertamu ke rumah tetangga, keluarga, atau teman tanpa perjanjian terlebih dahulu dianggap biasa dan dianggap sopan. Malah baik karena menyambung silaturahmi. Kalau ada tamu malah sebisa mungkin disuguhi makanan dan minuman yang ada.
Setelah setahun tinggal di Indonesia dan sudah menjadi bagian dari masyarakat pedesaan, Bridget tentu nantinya akan merindukan suasana di pedesaan yang jauh dari peradaban kota. Apalagi kota besar seperti New York atau Washington. Setelah dari Indonesia, Bridget mengaku ingin tinggal di Boston, salah satu kota yang cukup ramai di Amerika. Ia ingin menempuh pendidikan jenjang strata dua dan ingin menjadi seorang pengajar di Boston. Kebetulan Boston ini dekat dengan kampung halamannya, New Hamsphire. Jadi ketika ingin pulang bertemu dengan ayah ibunya, ia bisa setiap waktu pulang.
Selama di Indonesia, Bridget juga ingin menimba ilmu sebanyak-banyaknya mengenai kebudayaan dan apa saja tentang Indonesia. Ia juga ingin menjajal mendaki gunung-gunung tinggi di Indonesia. Ia memang suka mendaki gunung. Ia juga ingin belajar beladiri pencak silat. Tetapi sayang, ia belum menemukan teman yang bisa melatihnya belajar pencak silat. Bridget menyukai olah raga beladiri juga.
Bridget tipikal perempuan yang mandiri. Ia terbiasa kemana-mana naik bus atau angkutan umum melewati jalanan Purwosari-Bojonegoro yang jalannya banyak berlubang dan bergelombang itu atau melewati jalanan Bojonegoro-Ngawi. Setelah lama memendam rasa rindunya bertemu dengan ayah-ibunya, akhirnya pada liburan sekolah nanti akhirnya Bridget bisa bertemu mereka. Rencananya Bridget dan ayah ibunya akan bertemu dan liburan di Pulau Bali. Selamat berlibur Bridget.
*Penulis adalah pegiat di Kampung Ilmu Bojonegoro

