*Oleh Muhammad Roqib
Senang sekali bisa bertemu lagi dengan bulan Puasa, bulan penuh hikmah. Setiap menjumpai bulan Puasa saya selalu teringat masa kecil. Bulan Puasa selalu dinanti karena akan banyak petualangan yang dilalui. Tinggal di kampung memang terasa indah saat memasuki bulan Ramadan seperti saat ini. Mungkin Anda juga merasakannya bukan?
Dulu saat masih duduk di bangku sekolah dasar saya dan teman teman di kampung lebih sering bermain di surau kecil yang terletak di tepi jalan kampung. Apalagi saat bulan Puasa bisa seharian bermain di surau dan jarang pulang. Paling-paling pulang pas beduk magrib karena ikut buka puasa di rumah meski saya masih puasa beduk dhuhur.
Bermain di surau sungguh menyenangkan. Setiap hari memakai sarung kumal dan membawa peci. Sarung itu multiguna. Kalau salat jamaah ya dipakai tetapi kalau tidur bareng-bareng di surau ya dipakai juga buat selimut, terkadang dipakai juga buat mengusap ingus. Padahal, sarung itu jarang dicuci, paling-paling dicuci seminggu sekali. Nah, begitu pula peci yang warnanya hitam kelabu. Di tepian peci itu sudah kusam dan berwarna agak sedikit kemerahan karena saking lamanya dipakai. Peci itu juga gunanya banyak selain dipakai penutup kepala saat salat jamaah sering juga dipakai buat bantal pas tidur bareng di musala.
Surau kecil tempat saya mengaji dan bermain itu berdinding dan berlantai kayu. Sungguh nyaman dan hangat kalau tidur di surau itu. Tetapi, selalu ada saja bocah bengal di antara kami. Namanya Nipon. Suatu ketika kami sekitar delapan anak tidur di surau. Setelah tarawih dan tadarus sampai larut malam, bocah-bocah itu kecapekan. Tertidur berselimut sarung di pojokan-pojokan surau. Tetapi Nipon bukannya tidur, ia menunggu teman-temannya tidur. Setelah semuanya terlelap, ia menjalankan aksinya. Udin dan Sodikin, dua bocah yang tubuhnya kerempeng yang tidur di sudut surau, ia angkat pelan-pelan sampai di luar surau di tepi jalan kampung. Dua bocah itu masih terlelap. Nipon begitu girangnya, tertawa cekikikan melihat dua bocah itu meringkuk di tepi jalan. Setelah itu, Nipon kembali ke surau dan pura-pura tidur. Tetapi lama kelamaan, Nipon akhirnya terlelap juga. Sampai tiba azan subuh berkumandang. Mbah Yai yang tinggal di dekat surau membangunkan bocah-bocah yang tidur di surau itu, tetapi betapa kagetnya ketika ia melihat dua bocah tidur di tepi jalan. Ia pun membangunkannya juga. Udin dan Sodikin tergeragap sambil mengusap mulut, belum sadar seratus persen. Setelah tengak-tengok sekeliling, mereka baru sadar ternyata tidur di tepi jalan. “Siapa yang memindah dua bocah itu, ayo mengaku?” hardik Mbah Yai pada bocah-bocah yang masih mengantuk itu. Tak ada jawaban. Nipon menyandarkan kepalanya di dinding surau. Tapi tiba-tiba ia nyeletuk,”Tidak ada yang memindah mereka berdua Mbah Yai, mereka pindah sendiri ke situ,” kata Nipon. Semua bocah menoleh pada Nipon, mereka sudah tahu ini pasti ulah Nipon lagi. Mbah Yai percaya begitu saja ucapan Nipon, dia lalu kembali ke rumah bersiap mengimami salat subuh.
Saat siang maupun malam pada bulan Puasa memang terasa indah. Permainan saat siang dengan malam hari berbeda. Biasanya saat siang selama puasa kami biasa bermain mercon bumbung yaitu mercon dari bambu. Sebatang bambu berukuran besar dipotong dengan ukuran tertentu lalu bagian sekat di dalamnya dihancurkan. Tinggal sekat bambu yang paling ujung dibiarkan tetap. Kemudian, bambu itu dilubangi untuk menyulut api. Mercon bumbung itu memakai karbit sebagai bahan bakar untuk meledakkannya.
Kami biasa perang-perangan memakai mercon bumbung itu. Bambu itu diletakkan di tanah dan moncongnya dihadapkan pada musuh kami. Kemudian, sepotong batu karbit dimasukkan di lubang bambu dan diberi air sedikit. Kemudian, terdengar suara gemerisik dari dalam bambu itu karena karbitnya menguap. Tak berapa lama kemudian, sambil menutup kedua telinga dengan satu tangan, tangan lainnya memegang kayu yang di ujungnya diberi kain dicelupkan gas dan dinyalakan. Setelah itu, persis seperti menyalakan meriam, ujung kayu yang menyala itu ditempelkan di lubang bambu dan tak berapa lama terdengar suara ledakan keras”bummmmmm,”. Orang-orang di kampung yang sedang tidur siang kaget bukan kepalang, tetapi mereka biasanya hanya mengelus dada dan bilang,”Bocah-bocah itu kurang ajar, mengagetkan saja,”.
Kalau tidak main mercon bumbung biasanya kami bermain mercon kaleng atau mercon umplung. Cara bikinnya juga mudah. Buat lubang di tanah lalu diberi air secukupnya. Lalu taruh batu karbit di situ. Tutup lubang itu dengan kaleng yang bolong di ujung bawahnya. Di bagian kaleng buat lubang kecil untuk menyalakan. Setelah agak lama, nyalakan mercon kaleng itu dan terdengarlah suara,”bummmmm,” dan kaleng akan terlempar ke udara. Tetapi suara ledakannya memang tidak semerdu mercon bumbung. Pernah suatu ketika kaleng itu sudah saya sulut bagian atasnya tetapi tidak meledak. Karena jengkel saya mendekat dan meniup bagian lubang di atasnya itu, tetapi tiba-tiba kaleng itu terlempar dan mengenai wajah. Aduuuh, bekas lingkaran kaleng membekas merah di wajah. Sakit sekali, tetapi ya itu tidak kapok.
Ada juga mercon busi. Mercon itu dari busi, salah satu onderdil sepeda motor. Bentuknya bulat panjang dan di ujungnya ada rongga. Bagian buntut busi itu dipasangi tali rafia yang sudah dihaluskan. Kemudian, rongga di busi itu diisi pentol korek api yang sudah dihancurkan lalu ditutup dengan sekrup yang ditalikan di busi. Cara meledakkannya, busi itu di lempar ke udara dan ketika jatuh ke tanah akan terdengar suara letusan keras,”dorrrrr,”. Biasanya kami bermain mercon busi itu di tepi jalan kampung.
Nah, bocah-bocah yang sudah agak besar biasanya main mercon kertas. Ini agak berbahaya. Cara membuatnya kertas berukuran tertentu digulung berbentuk bulat panjang dan ditengahnya ada rongganya. Kemudian, rongga itu diberi bubuk petasan lalu kedua ujungnya diberi penutup. Terakhir di salah satu ujungnya diberi sumbu. Untuk menyalakannya sumbu dinyalakan dan tak berapa lama akan terdengar suara ledakan,”blarrrr,” dan pecahan kertas berhamburan di udara.
Malam bulan puasa lebih menyenangkan lagi. Bocah-bocah yang tidur di surau sering mengajak oklek, istilah kami saat itu yakni berkeliling kampung menyampaikan pada warga kampung saat waktunya sahur. Masing-masing kami membawa sepotong bambu yang telah dibuat menjadi oklek atau tektur. Ketika dipukul bambu itu terdengar suara nyaring. Sekitar jam 02.00 kami sambil membawa sarung yang dikalungkan di badan, membawa bambu oklek atau tektor itu. Biasanya kami membuat irama tersendiri agar suara oklek itu enak didengar. Nipon juga seringkali ikut keliling kampung itu. Tetapi, bocah itu memang terkenal bengal. Suatu ketika kami berkeliling kampung sambil menabuh oklek itu dengan rancaknya. Tiba di depan salah satu rumah warga, Nipon mengajak berhenti. Ia lalu mengendap-endap mendekati rumah itu hingga wajahnya hampir menempel di dinding rumah berdinding kayu itu. Orang yang tinggal di rumah itu memang baru saja menikah, ya pengantin baru. Sambil memberi aba-aba, Nipon memukul bambu oklek yang dipegangnya dengan sangat keras sambil ia berteriak,”sahuuuuur, sahuuuur,”. Sontak, orang di dalam rumah itu terbangun. “Hai siapa itu, bocah kurang ajar. Jam segini sudah membangunkan orang,”. Seketika itu, Nipon lari tunggang langgang. Kami pun lari sekuat tenaga. Napas pun ngos-ngosan. Orang di dalam rumah itu keluar, tetapi tidak sampai mengejar gerombolan kecil ini. Kami deg-degan nggak karuan, tetapi Nipon tertawa lebar seolah dia sudah merasa sangat puas bisa ngerjain pengantin baru itu.
Setelah capek berkeliling kampung membangunkan orang-orang untuk sahur, kami pulang ke rumah masing-masing. Sahur dengan menu seadanya terasa sungguh nikmat bersama keluarga. Setelah salat subuh, biasanya langsung tidur hingga siang. Selama Ramadan biasanya sekolah diliburkan sehingga kami bisa puas bermain di rumah.
Terkadang, saya dan teman-teman segerombolan suka bermain di sawah. Musim kering membuat persawahan terlihat tandus. Tetapi kami senang sekali bermain di sawah. Terkadang bermain layang-layang, mencari jangkrik, atau bermain perang-perangan. Segala makanan juga ada di sawah. Singkong, kacang tanah, kedelai, pisang, ketela, sampai semangka. Biasanya teman kami yang mempunyai sawah dengan baik hati memberi singkong atau kacang tanah pada saat panen. Saat sedang puasa rasanya segala makanan dan buah-buahan yang kami kumpulkan dari sawah itu terasa lezaat sekali. Singkong rebus saya simpan di bawah lemari. Nanti saat berbuka mau saya makan sampai habis. Tetapi, setelah makan nasi dengan lauk tempe atau pindang dan minum kolak pisang rasanya peruh sudah penuh. Singkong rebus pun tak sampai dijamah.
Bulan puasa memang terasa sangat indah semasa anak-anak itu. Sekarang berbagai permainan itu sudah mulai hilang. Bocah-bocah yang dulu sepermainan itu sekarang sudah dewasa dan berkeluarga. Tetapi, kenangan semasa kecil yang indah itu tidak mudah dilupakan. Akan melekat selamanya.
Berbeda tempat, berbeda pula kebudayaannya. Penulis buku Mark Twain, sebenarnya ini nama pena dan nama aslinya Samuel Langhorne Clemens (1835-1910) juga menuliskan kisah petualangan bocah yang mengesankan lewat buku berjudul,”The Adventures of Tom Sawyer,”. Boleh dibilang Tom Sawyer merupakan buah karya kegeniusan Mark Twain. Buku novel dari Mark Twain yang dikenal sebagai bapak sastra Amerika ini juga pernah difilmkan 18 kali. Sungguh luar biasa.
Tom Sawyer yang biasa dipanggil Tom oleh teman-temannya dikenal sebagai bocah bengal, nakal, tetapi pemberani dan jujur. Sejak kecil ia diasuh oleh bibinya, Bibi Polly. Tom dan teman sepermainannya itu tinggal di kampung kecil bernama St Petersburg, sebuah kampung yang miskin.
Tom suka sekali bermain, berkelahi dan mempunyai imajinasi yang tinggi. Ada saja ulahnya yang membuat teman-temannya menjadi kesal. Tetapi, Tom juga mempunyai kesetiakawanan yang tinggi dengan teman-temannya.
Tom dan teman-temannya sekolah di kota kecil yang berada di dekat kampungnya. Tetapi saat di sekolah, ia sering kena hukuman lantaran berbuat ulah yang mengjengkelkan gurunya. Suatu ketika, ada anak gadis dari luar kota yang sekolah di kota itu namanya Becky Thatcher. Gadis itu menarik perhatian Tom Sawyer. Dengan gayanya yang sok jagoan, Tom berusaha menarik simpati dan perhatian Becky. Tetapi Becky mengacuhkannya. Tetapi Tom akhirnya bisa berteman dengan Becky, anak seorang hakim di kota kecil itu.
Suatu malam Tom dan temannya, Huck Finn, menyaksikan tragedi pembunuhan. Tom dan Huck hendak menguburkan bangkai kucing di sebuah makam. Namun, ketika itu di makam ada Injun Joe, seorang bajingan peranakan Indian, Potter, dan seorang dokter. Injun Joe dan Potter hendak membongkar makam dan mengambil perhiasan yang ada di dalamnya. Namun, Potter dalam keadaan mabuk. Sedangkan, si dokter dipaksa dibawa ke makam itu untuk menunjukkan lokasi makam yang diinginkan. Dalam keadaan mabuk, Potter bertengkar dengan si dokter. Potter membawa sepilah pisau. Namun, dalam pertengkaran itu Potter terjatuh dan pingsan. Injun Joe lalu mengambil pisau di tangan Potter itu lalu menusukkannya ke tubuh si dokter. Dokter pun lunglai dan bersimbah darah hingga meninggal. Tom dan Huck Finn melihat kejadian itu dari balik pohon elm tanpa diketahui Injun Joe. Tak lama kemudian, Injun Joe melarikan diri dan membiarkan tubuh dokter menggeletak di makam.
Pagi harinya, orang-orang kampung berdatangan ke lokasi makam. Mereka menangkap Potter bersama pisau yang ada di tangannya. Sementara, jasad si dokter diperiksa oleh sherif. Potter lalu dituduh telah membunuh si dokter tersebut. Tom dan Huck yang menyaksikan pembunuhan itu berjanji tidak akan membuka mulut.
Tom dan Huck juga berpetualang menjadi kawanan bajak laut. Mereka meninggalkan rumah mereka lalu menuju ke sebuah hutan di tengah pulau terpencil. Berhari-hari mereka berkemah di tengah hutan, memancing ikan lalu membakarnya, dan berlagak seperti seorang bajak laut. Bibi Polly dan orang-orang di kampung mencari Tom. Tetapi setelah dicari beberapa hari tidak ketemu, orang-orang mengira Tom dan Huck tenggelam di sungai. Hingga akhirnya, diadakan upacara pemakaman di gereja yang ada di kampung itu. Orang-orang sudah berkumpul termasuk Bibi Polly. Namun, Tom punya rencana lain. Malam sebelumnya ia dan Huck telah keluar dari hutan dan bersembunyi di balkon gereja itu. Ketika orang-orang berdoa, Tom dan Huck muncul dalam keadaan lusuh dan compang-camping. Seketika orang-orang kaget tetapi bercampur haru. Bibi Polly memeluk Tom sambil berlinang air mata. Keponakannya yang nakal itu ketemu.
Sidang pembunuhan dokter digelar di pengadilan. Potter dituduh membunuh si dokter. Tom dan Huck Finn mengikuti jalannya persidangan itu dengan perasaan tersiksa. Sebab, ia mengetahui bukan Potter yang membunuh dokter tetapi Injun Joe. Akhirnya, pada saat sidang penentuan di hadapan juri, Tom membuka mulut menjadi saksi hingga akhirnya Potter terlepas dari tuduhan itu. Tetapi, Injun Joe yang berada di ruang persidangan seketika itu melompat dari jendela dan melarikan diri. Injun Joe, pembunuh berdarah dingin itu kini mengincar Tom.
Tom dan Huck kini ingin mencari harta karun yang disimpan oleh para penjahat seperti Injun Joe di kota kecil itu. Tom dan Huck mengetahui kalau Injun Joe menginap di sebuah kamar hotel bernomor dua. Tiap malam Huck mengamati gerak-gerik Injun Joe di kamar itu. Sebuah peti harta karun ia kira disimpan di kamar itu. Ketika Injun Joe pergi, Tom dan Huck ingin mengambilnya. Tetapi ternyata Injun Joe menyimpan harta karunnya di tempat lain.
Saat liburan sekolah, Tom dan Becky serta teman-teman sekolahnya liburan ke pantai di dekat kota. Ada sebuah gua yang sangat indah dan menarik untuk dimasuki. Semula Tom dan Becky masuk gua itu di permukaan tetapi karena penasaran keduanya masuk ke lorong yang agak dalam. Mereka membawa lilin untuk penerangan di gua itu. Tom dan Becky semakin dalam masuk di gua itu dan akhirnya tersesat. Berhari-hari mereka tersesat di dalam gua itu dan lilinnya sudah habis. Keduanya kelaparan. Orang-orang di kampung pun berhari-hari mencari Tom dan Becky yang tersesat di gua itu.
Namun saat di dalam gua yang gelap itu, Tom bertemu dengan Injun Joe. Rupanya Injun Joe menyimpan harta karunnya itu di dalam gua. Tetapi, Injun Joe mengira bukan Tom yang ada di gua itu dan ia bersembunyi. Setelah beberapa hari, akhirnya orang-orang menemukan Tom dan Becky yang dalam keadaan lemas karena kelaparan dan kelelahan.
Setelah kejadian itu, hakim Thatcher ayah Becky menutup gua itu dengan lempengan besi dan batu besar. Tetapi, beberapa hari setelah istirahat Tom baru sadar dan ingat kalau Injun Joe juga tinggal di gua itu. Warga kemudian membuka kembali pintu gua itu tetapi menyaksikan tubuh Injun Joe sudah tergeletak tak bernyawa di mulut gua.
Tetapi, warga tidak mengetahui kalau ada peti harta karun di gua itu. Tom dan Huck beberapa hari kemudian masuk ke gua itu dan mengambil peti karta karun yang berisi koin emas itu. Orang-orang tak percaya kalau Tom dan Huck menemukan harta karun itu, tetapi Tom memang membawa peti harta karun itu.
Dua bocah itu, Tom dan Huck menjadi kaya raya berkat penemuan harta karun itu. Mereka mempunyai simpanan uang di bank. Namun, Huck ternyata tidak nyaman menjadi orang yang kaya, ia memilih menjadi bocah kumuh dan miskin seperti dulu. Sementara Tom kini bisa menyenangkan Bibi Polly yang telah merawatnya sejak kecil.
Mark Twain menulis kisah petualangan Tom Sawyer ini dengan begitu apik. Gaya berceritanya menarik dan lincah. Mark Twain tumbuh besar di Hannibal, Missouri. Tempat kelahirannya ini menjadi seting pada novel The Adventures of Tom Sawyer (1876) dan The Adventures of Huckleberry Finn (1884). Setelah kematian putra pertamanya, Mark Twain membawa istrinya, Olivia Langdon, pindah ke Hartford Conecticut. Karya besar Mark Twain lainnya yakni The Prince and the Pauper (1881), Life on The Missisipi (1883) dan A Connecticut Yankee in King Arthur’s Court (1889).
*Penulis adalah pegiat di Kampung Ilmu Bojonegoro

