*Oleh Tsamrotul Ulum, S.P.
Buku seri Legenda Nusantara yang ditulis oleh G. Wu (Gatot Wuryadi) dan memiliki hak cipta dari PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Persero Tbk merupakan buku yang menceritakan tentang Legenda Nusantara dari berbagai provinsi yang ada di Indonesia. Buku ini diterbitkan sebagai wujud komitmen (PGN) terhadap kemajuan dunia pendidikan karena PGN memiliki misi yaitu “Membaca Cerdaskan Bangsa”. Buku ini disajikan sebanyak 33 judul yang diambil dari 33 Provinsi yang ada di Indonesia. Buku ini dibuat dalam bentuk cerita bergambar dan penuh warna agar menarik minat baca anak-anak sehingga lebih mudah dalam mempelajari dan memahami budaya dan legenda Indonesia.
Pada kesempatan kali ini, penulis akan meresensi cerita dari provinsi Maluku yang berjudul “Empat Kapiten”. Pulau Maluku terkenal dengan keindahan pantai-pantainya, salah satunya yaitu Pantai Seram yang terletak di ujung utara Pulau Maluku. Sebagian besar penduduk di sana bermatapencaharian sebagai nelayan.
Pulau Maluku terkenal dengan hasil tangkapan ikannya yang melimpah dan beraneka ragam jenis ikan. Tetapi pada suatu hari beberapa nelayan hanya mendapat sedikit hasil tangkapan, sehingga untuk dijual dan membeli beras saja tidak cukup, bahkan ada dua orang nelayan yang bersaing agar ikan dagangannya laku terlebih dulu agar tidak keburu busuk.
Diceritakan perjalanan empat orang sahabat yaitu Kapten Watimena, Nanlohy, Talakua dan Watimurry, yang akan berkelana mengarungi Sungai Tala di daerah Maluku yang terkenal memiliki kekayaan alam melimpah tetapi memiliki arus sungai yang deras sehingga sangat berbahaya, Mereka melakukan perjalanan ke daerah-daerah pelosok untuk membuka daerah baru. Mereka memulai perjalanan dengan berjalan kaki, tetapi di tengah jalan Talakua memiliki prasangka buruk, karena ia bermimpi bahwa akan terjadi sesuatu di antara mereka berempat, mimpi itu menggambarkan bahwa mereka akan terbawa arus sungai, tenggelam dan berpisah satu sama lain. Kapten Watimena mencoba menenangkan dengan mengatakan bahwa mimpi hanyalah bunga tidur yang belum tentu menjadi kenyataan. Kemudian mereka tetap melanjutkan perjalanan dan mulai mengarungi sungai dengan rakit dan bahan-bahan lain yang sudah “disediakan alam” seolah alam merestui perjalanan mereka. Kapten Watimena ini memiliki sahabat seekor burung nuri yang cerdik, pandai dan mampu memberikan informasi tentang suatu kejadian.
Burung Nuri itu dilepas dengan harapan akan memberikan informasi tentang keadaan di depan yang akan dilalui empat Kapiten ini, setelah berhari-hari burung nuri baru kembali ke tuannya. Nuri berkicau sangat nyaring menandakan bahwa akan ada hal buruk yang terjadi, tetapi yang mengetahui maksud kicauannya hanya Kapten Watimena. Benar saja, tidak lama kemuadian langit cerah seketika berubah menjadi awan hitam yang menandakan akan turun hujan lebat. Hujan deras disertai badai dan petir membuat empat sahabat itu panik, arus sungai yang tenang berubah menjadi deras sehingga mereka tidak dapat mengendalikan laju rakit. Di depan ada bebatuan yang besar, rakit menabrak bebatuan tersebut membuat mereka terjatuh dan terseret arus sungai yang deras. Mereka saling terpisah, berusaha menyelamatkan diri dan berusaha saling menyelamatkan satu sama lain dengan bersusah payah, tetapi keberuntungan masih memihak mereka. Mereka akhirnya selamat dan berhasil menepi di Pulau Tala tempat tujuan mereka. Mereka beristirahat sejenak sambil memulihkan tenaga.
Keempat sahabat itu kemudian membuat ikrar di atas sebuah batu sebagai tanda persahabatan, persaudaraan yang erat dan tidak akan terpisahkan. Lalu Kapten Watimena dan Watimury beristirahat di Pulau Tala, sedangkan Talakua dan Nanlohy memilih beristirahat di atas rakit. Setelah mereka tertidur ternyata cuaca kembali tidak bersahabat membuat arus sungai kembali deras, rakit yang bersandar tiba-tiba berjalan mengikuti arus sungai membuat Talakua dan Nanlohy terseret arus, mereka terjatuh ke sungai dan terbawa arus. Nanlohy akhirnya terdampar di Pulau Nanuluhu dan Talakua terdampar di Pulau Portho. Keempat Kapiten tersebut akhirnya saling terpisah hanya Kapten Watimena dan Watimury yang masih bersama. Mereka berusaha bertahan hidup di Pulau mereka terdampar.
Watimena dan Watimury melanjutkan perjalanan, ternyata bekal air minum sudah habis akhirnya Kapten Watimena menancapkan sebuah tongkat di daerah yang kekeringan itu sambil berdoa, alhasil keluarlah sumber air yang segar yang mana air tersebut sangat dibutuhkan penduduk sekitar. Penduduk di sana sangat senang dan berterima kasih kepada kedua Kapiten itu. Mereka juga dijamu dengan baik dan diberikan sebuah rumah agar mereka tinggal di sana.
Di tempat lain, Nanlohy mendengar kabar tentang Talakua yang telah berhasil membangun dan memajukan Pulau Portho. Akhirnya ia bergegas berangkat untuk menemui sahabatnya tersebut. Nanlohy dan Talakua akhirnya bertemu lagi. Sedangkan Watimena dan Watimury masih melanjutkan perjalanan mereka ke tempat lain, mereka tiba di daerah Mahakiri mulai membangun rumah dan daerah di sana sehingga daerah tersebut lebih baik lagi. Karena merasa tidak betah akhirnya Watimury memilih melanjutkan perjalanan dan ingin membangun daerah lain sendiri. Dengan berat hati mereka akhirnya sepakat untuk berpisah demi membangun daerah-daerah pelosok itu menjadi daerah yang lebih baik dan maju. Watimury memilih daerah Amahai dan mulai mengembangkan daerah tersebut. Akhirnya keempat Kapiten Maluku tersebut saling berpisah untuk membangun daerah masing-masing, meskipun berpisah hubungan persahabatan di antara mereka akan terus terjalin seperti yang telah mereka ikrarkan. (*/ykib)
Kelebihan buku:
- Ceritanya sangat menarik dan edukatif. Sehingga cocok untuk pendidikan karakter anak-anak.
- Disertai dengan gambar-gambar yang menarik, alur yang mudah dipahami dan bahasa yang ringan. Disertai tentang informasi daerah dari legenda tersebut berasal.
- Disertai pesan-pesan moral dalam cerita : pesan pantang menyerah, arti persahabatan, kerja keras dan semangat menularkan kebaikan.
Kelemahan buku :
Pada cerita, ada percakapan yang salah dalam menyebutkan nama tokoh.
Identitas buku
Judul : Seri Legenda Nusantara “Empat Kapiten”
Penulis : G. Wu
Editor : Kum Soe, Soebagiono, Khum, Talha, Andie.
Penerbit : Balai Pustaka
Tahun Dicetak : 2016 (cetakan kedua, Desember 2016)
Hak Cipta : PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk
ISBN : 979-690-730-5
EAN : 978-979-690-730-4
*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Purwosari

