*Oleh Lina Arinta Dwi, S.Pd.
Raden Ajeng Kartini merupakan seorang tokoh perempuan yang memelopori pendidikan bagi perempuan di Indonesia. Ia adalah perempuan ningrat Jawa yang mendobrak kungkungan adat dan melawan penjajahan melalui pemikiran serta tindakan nyata. Kartini ingin mengubah tradisi ini demi kemajuan kaumnya, mengangkat derajat perempuan menuju masa depan yang lebih cerdas, bebas, cemerlang, dan merdeka. Maka dari itu ia berusaha mengangkat derajat perempuan melalui pendidikan secara tidak langsung akan meningkatkan martabat bangsa. Itulah sebabnya, ia menjadi contoh tentang perjuangan yang mencerahkan banyak orang dan mengilhami kalangan luas.
Raden Ajeng Kartini lahir pada tanggal 28 Rabiul awal Akhir tahun Jawa 1808, bertepatan pada tanggal 21 April 1879, di Mayong. Ia lahir dari keturunan ningrat, ayahnya seorang Bupati Jepara yang bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat. Sedangkan ibunya bernama M. A Ngasirah. Ayahanda beliau sangat pandai menulis dan berbahasa Belanda, sehingga beliau dijuluki sebagai “One of the most enlightened of Java’s bupatis ” (Salah satu Bupati yang berpikiran maju di Jawa).
Pada waktu itu pemerintah mengharuskan seorang Bupati memperistri perempuan yang berlatar belakang bangsawan. Sedangkan, ibunda Kartini (Ngasirah) bukan dari golongan bangsawan, sehingga ayahanda Kartini menikah lagi dengan Raden Ayu Muryam yang merupakan keturunan dari Raja Madura. Istri kedua inilah yang menjadi garwo padmi (istri pertama) dan Ngasirah menjadi garwa ampil. Keadaan seperti inilah yang mengharuskan Kartini menerima kehadiran Ibu tiri dan saudara- saudara tirinya.
Raden Ajeng Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara. Berbeda dengan kebanyakan anak pribumi saat itu, Kartini berkesempatan untuk sekolah di Europeesche Lagere School (ELS). Ini merupakan sekolah yang diperuntukkan bagi orang Belanda dan orang Jawa yang kaya. Di ELS Kartini belajar Bahasa Belanda. Sayangnya Kartini hanya bersekolah sampai usia 12 tahun, karena sudah memasuki masa pingitan. Di Jawa dulu ada tradisi wanita jika sudah memasuki usia remaja mereka harus dipingit dan tinggal di rumah.
Empat tahun lamanya Kartini tidak diizinkan keluar rumah, setiap hari matanya selalu berkaca-kaca ketika melihat kedua adiknya berangkat sekolah. Kartini selalu merasa kesepian. Kemudian Kartini mempunyai sahabat pena untuk pertama kalinya yakni “Stella” dia adalah seorang aktivis feminis dari Belanda. Kartini selalu bercerita kepadanya tentang betapa mengerikannya menjalani pingitan, ia selalu membenturkan tubuhnya ke dinding batu tebal, perlahan- lahan Kartini menyadari bahwa tangisannya sangat tidak berguna. Sejak saat itulah ia bangkit dan belajar tanpa guru, ia membaca buku-buku modern kiriman dari Raden Mas Panji Sosrokartono, kakak kandungnya yang lebih beruntung bisa melanjutkan sekolahnya di HBS Semarang hingga Universitas Leiden, Belanda.
Kartini juga membaca surat kabar dari Semarang De Locomotief yang diasuh oleh Pieter Broos Hooft, ia juga membaca majalah kebudayaan dan pengetahuan yang cukup berat dan juga majalah Perempuan Belanda De Hollandsche Lelie. Semua bacaan itu menjadikan Kartini berwawasan luas. Pada tahun 1896, Kartini mendapatkan kebebasannya lagi, ia terlepas dari pingitannya, semangat Kartini pun untuk belajar semakin kuat, ia berniat untuk belajar ke Belanda dan ia juga rajin mempelajari Al-Qur’an. Kartini belajar agama Islam kepada Kiai Sholeh Darat.
Kartini memberikan banyak inspirasi kepada semua orang, khususnya kaum wanita. Ia mempunyai sikap yang mudah berbaur, mengasihi sesama, menghormati orangtua, rajin membaca dan belajar, pantang menyerah, sederhana dan bersahaja, kesetaraan gender, mempunyai keterampilan lain, lebih berani, sosok mandiri, tanggung jawab dan bijaksana, ramah dan sopan, luas bergaul.
Kartini berperan penting dalam mewujudkan kaum perempuannya, serta bangsa dan negara Indonesia. Ia merupakan inspirasi bagi setiap orang pada masa sekarang. Berikut bukti tindakannya yang positif: Bertindak nyata, berani bermimpi, berani menyampaikan opini, patuh dan berani, perempuan tangguh, berwawasan luas.
Kemudiaan Kartini juga memaknai emansipasi yaitu perempuan modern dan independen, yang melangkah dengan percaya diri dalam hidupnya, ceria dan kuat, antusias dan punya komitmen, bekerja tidak hanya untuk kepuasan dirinya, namun juga memberikan dirinya untuk masyarakat luas, bekerja untuk kebaikan sesama.
Pada tahun 1903, Kartini berusia 24 tahun. Tiba tiba Ayahandanya menerima utusan dari Bupati Djojo Adminingrat dari Rembang yang membawa surat lamaran untuk Kartini. Kartini tak berdaya menghadapi cobaan ini. Ia harus menyetujui saran ayahnya untuk menikah karena kedua Bupati ini sangat mengenal baik, karena pada waktu itu ayahnya juga sudah sakit-sakitan, jadi Kartini mempertimbangkan untuk menerima calon suaminya tersebut meskipun calon suaminya (Bupati Rembang) tersebut sudah memiliki 3 istri dan 7 anak. Istri pertamanya sudah meninggal dunia yakni Raden Ayu, sementara 2 istrinya bukan dari kalangan bangsawan, karena itu ia ingin menikahi Kartini untuk menggantikan posisi istri pertamanya.
Pada tanggal 12 November 1903 Kartini melangsungkan pernikahannya dengan Djojoadiningrat. Setelah menikahi Bupati Rembang, setiap harinya ia mengurus suami dan anak tirinya. Djojodiningrat termasuk Bupati yang sangat berpikiran modern, ia mengizinkan Kartini untuk tetap menulis, mengajar, dan berhubungan dengan teman-temannya dari Belanda. Ia juga mendukung Kartini untuk memajukan kaum Bumiputera, khususnya perempuan. Ia juga mendukung istrinya untuk mendirikan sekolah perempuan di sebelah timur pintu gerbang kompleks pendopo Kadipaten Rembang.
Pada tanggal 13 September 1904 ia melahirkan anak yang dinamai Soesalit. Empat hari kemudian pada tanggal 17 September 1904, Kartini menghembuskan napas terakhirnya karena sakit. Pada waktu itu Kartini masih berumur dua puluh lima tahun. Adapun surat-surat yang dibukukan setelah ia wafat yaitu: Habis Gelap Terbitlah Terang, Renungan tentang dan untuk Bangsanya, Letters from Kartini, an Indonesia Feminist 1900-1904, Panggil Aku Kartini Saja, Surat-surat kepada Ny. RM Abendanon-Mandri dan Suaminya, Aku Mau… Feminisme dan Nasionalisme.
Keunggulan:
Buku ini menceritakan sosok Kartini sejak kecil hingga akhir hayat. Melalui surat-suratnya kepada teman-teman Belandanya, terpapar sisi kehidupan Kartini yang penuh aturan, mulai dari tatakrama keningratan, larangan sekolah lebih tinggi, pingitan, perjodohan, hingga perjuangan untuk mewujudkan sesuatu yang tampak tidak mungkin pada zamannya. Selain itu buku ini juga menceritakan hubungan Kartini dengan orang-orang disekitarnya, diantara orangtuanya, saudara-saudarinya, dan teman-teman Belandanya. Buku ini akan membawa pembaca pada kehidupan masa lalu yang penuh perjuangan, tetapi sangat menginspirasi. Buku ini penyajiannya sederhana tetapi mampu memberikan gambaran yang mudah dipahami tentang sosok Kartini dan konteks zamannya. Ilustrasinya juga sangat menarik, memberikan keindahan visual dan dapat membantu pembaca untuk lebih memahami cerita yang di sampaikan.
Kelemahan:
Gaya bahasa yang standar dan sederhana dalam penyampaiannya. Buku juga sudah lumayan mendalam penjelasannya, jika masih kurang detail bisa mencari informasi yang lebih komprehensif tentang kehidupan Kartini dari berbagai sumber- sumber lainnya. (*ykib/lina).
Identitas buku
Judul buku : Kartini : Kisah Hidup Seorang Perempuan Inspiratif
Penulis :Anom Whani Wicaksana
Penerbit : Cemerlang Publishing
Tebal halaman : 258 halaman
*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Cepu

