*Oleh Tsamrotul Ulum, S.P.
Buku karangan Emha Ainun Najib atau biasa dikenal dengan nama Cak Nun ini menceritakan tentang filosofi kehidupan yang dikaitkan dengan ilmu agama. Pada bab pertama buku ini mengisahkan tentang seorang “Siti Jenar” yang dianggap berbeda dan bertentangan dengan ajaran Islam pada umumnya yang berkembang di masyarakat. Pemahamannya tentang ketauhidan tidak bisa serta merta bisa dipahami dan diterima oleh masyarakat awam. Pemahamannya membutuhkan penafsiran yang lebih lanjut dan detail, karena pendapat yang disampaikannya begitu teoritis dan ideologis.
Siti Jenar mengatakan “Siti Jenar tidak ada, yang ada hanya Tuhan” kalimat tersebut tidak sedikitpun mengindikasikan bahwa dirinya sedang “menuhankan diri” tetapi justru bentuk kepasrahan diri bahwa sesungguhnya hanya Tuhan-lah yang benar-benar ada, sedangkan manusia hanya seakan-akan ada dan diadakan. Orang yang menuhankan diri ialah orang yang memiliki ambisi tinggi, maniak harta benda, gila kekuasaan, mengumbar nafsu, merancang segala sesuatu dan mengeksploitasi apa saja yang bisa dijangkau untuk kepentingan karier dan masa depan pribadi.
Pada pembahasan yang lain, ada pertanyaan tentang “lho, mana diriku?” yang artinya apakah kita sudah benar-benar mengenali diri kita sendiri secara mendalam? atau hanya sekadar tahu nama diri kita sendiri? atau bahkan kita tidak kenal dengan diri kita sebenarnya?. Umumnya, manusia hidup tanpa pertanyaan mendasar tentang dirinya, yang terpenting adalah apa yang dimilikinya saat ini dan bagaimana eksistensi dirinya di lingkungannya. Eksistensi diri yang dimaksud adalah bagian umum dari biografi seseorang, misalnya identitas diri, profesi yang dijalankan, gelar yang didapat, jabatan yang diemban dan sebagainya. Untuk bisa menjawab pertanyaan tersebut, sebaiknya kita memahami konsep nafkah. Nafkah dibagi menjadi 2, yaitu nafkah lahir dan nafkah batin. Kalau nafkah lahir dipenuhi maka nafkah batin juga memintanya, sehingga keduanya diusahakan semaksimal mungkin untuk berjalan seimbang. Nafkah lahir contohnya materi, finansial, pekerjaan, harta dan benda. Sedangkan nafkah batin sifatnya tidak kasat mata, dan tidak cukup dengan hanya melaksanakan salat ataupun pergi haji. Nafkah batin bisa didapat dengan gratis atau bahkan dengan bayaran yang mahal. Misalnya dengan mensyukuri apa yang sudah kita terima dan mengusahakan apa yang kita ingin capai, mengakui kehadiran seorang Nabi pembawa mukjizat kitab suci dari sang Khaliq atau perasaan damai tanpa dendam dalam hati, atau mempersembahkan 50% pendapatan kita untuk aksi sosial. Sekali lagi, nafkah batin adalah rasa kepuasan, kenyamanan, tenang dan damai pada seseorang sehingga hidupnya merasa lebih baik, berguna dan tentram. Nafkah lahir dan batin pada diri setiap orang berbeda-beda dan tidak bisa dipaksakan.
Pembahasan selanjutnya yaitu tentang kutipan “Cahaya Allah tidak berhenti memancar, ilmu Tuhan terus-menerus muncul dan berkembang. Muhammad tidak mati, sungguh tidak mati. Hanya tubuh beliau yang dikuburkan dan tubuh beliau adalah bagian paling remeh dari eksistensi kepribadiannya yang menyuluhi alam semesta. Wahyu itu sudah sempurna, tetapi belum selesai karena ia akan menemukan kelahiran. Dan kelahirannya kembali di dalam iman dan kesadaran umatnya”.
Menurut penulis penafsiran dari kutipan di atas adalah bahwa wafatnya Nabi Agung Muhammad tidak serta merta mematikan ilmu, ajaran, tuntunan, akhlak, dan kepribadian yang telah beliau syiarkan kepada umat manusia. Cahaya dan ilmu itu terus berjalan, mengalir dan mengiringi segala sisi kehidupan manusia. Mukjizat Kitab Alquran dan segala bentuk ucapan, ajaran dan perilaku Nabi yang sering kita sebut sebagai hadis Nabi, tetap menjadi teman dan pedoman hidup umat manusia. Nabi Muhammad tidak benar-benar wafat, justru beliau ada dan berada di dekat umatnya, tinggal bagaimana kita mau belajar, menyadari dan mengamalkan ilmu yang beliau ajarkan atau tidak.
Kelebihan buku :
Ada catatan kaki untuk menerjemahkan kata-kata sulit dan asing pada setiap halamannya
Kelemahan :
Buku ini lebih cocok untuk orang yang memiliki wawasan luas dan ideologis, karena pembahasan pada buku ini menggunakan kata-kata yang sulit, teoritis, dan beberapa diselingi kutipan ayat Alquran. Sehingga membutuhkan konsentrasi penuh dan kurang cocok untuk orang awam atau pembaca pemula. (*ykib/ulum).
Identitas buku :
Penulis : Emha Ainun Nadjib
Editor : Arif Koes Hernawan
Penerbit : PT Bentang Pustaka
Edisi : cetakan pertama, januari 2017.
Tebal buku : 248 halaman ( 20,5 cm)
ISBN : 978 – 602 – 291 – 297 – 2
*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Purwosari

