Leaders Eat Last

*Oleh Frensi Agustina, S.Pd., M.Pd.

Maju mundurnya suatu organisasi salah satunya tergantung pada pemimpinnya. Memang benar faktanya demikian. Para pemimpin adalah mereka yang maju lebih dulu menghadapai mara bahaya yang ada di depan. Mereka rela makan terakhir setelah memastikan semua anggotanya kenyang. Mereka mengesampingkan kepentingan pribadi dan mengutamakan kepentingan bersama untuk meraih tujuan demi masa depan. Pemimpin yang sesungguhnya rela mengorbankan harta bahkan nyawa mereka untuk menyelamatkan anggotanya. Pemimpin yang baik mampu menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman. Mereka layak disebut pemimpin jika mampu menciptakan, membangun dan memelihara lingkaran keselamatan ketika anggotanya sedang bekerja dan bagi orang-orang yang ada di sekelilingnya. Jika kita memiliki pemimpin yang hebat seperti di atas maka sangat memungkinkan kita untuk loyal, bekerja sama dengan sepenuh hati, tidak mengenal lelah, mampu menciptakan karya yang luar biasa, sehingga tim akan berhasil meraih tujuan. Anggota bangga menjadi bagian dari mereka dan mampu mewujudkan apa yang dicita-citakan organisasi.

Ketika menjadi pemimpin pastinya sering terjadi konflik kepentingan. Mana dulu antara mendahulukan kepentingan bersama atau kelompok atau kepentingan pribadi atau individu. Kadang kala mendahulukan kepentingan bersama akan merugikan kepentingan pribadi namun jika kita tidak peduli kelompok maka kita akan terkesan individualis dan tidak diperhatikan kelompok. Jika kita mendahulukan kepentingan pribadi kita akan menjadi pribadi yang maju dan kepentingan kelompok akan tertinggal, hal ini juga benar karena di saat kepentingan pribadi belum selesai kita tidak akan bisa membantu kepentingan orang lain atau kelompok. Di sinilah kita harus bijaksana dalam mengambil keputusan sesuai dengan hati nurani kita.

Di dalam hati nurani manusia terdapat empat senyawa kimia utama yang akan membantu kita dalam menyelesaikan masalah secara pribadi atau kelompok. Senyawa kimia yang ada dalam tubuh kita disingkat EDSO yaitu endorfin, dopamin, serotonin dan oksitosin. Dua senyawa kimia yang membantu masalah pribadi kita disebut senyawa individual yaitu endorfin dan dopamin. Disebut senyawa individual karena senyawa ini yang memenuhi kebutuhan utama kita sebagai manusia yaitu untuk memenuhi rasa lapar dan haus, bertahan hidup, membangun tempat tinggal, dan menyelesaikan masalah pribadi. Dua senyawa lain yang membantu kita dalam berkelompok disebut senyawa komunal yaitu serotonin dan oksitosin. Disebut senyawa komunal karena kedua senyawa tersebut membantu kita dalam bersosialisasi, bekerja sama dengan orang lain dan terus melanjutkan kehidupan.

Kita akan menjelaskan satu persatu senyawa kimia dalam tubuh kita. Dimulai dari senyawa kimia individual. Senyawa kimia endorfin digunakan untuk satu tujuan yaitu menyembuhkan atau menyamarkan rasa sakit fisik tubuh kita seperti candu atau ketagihan sehingga menimbulkan rasa nyaman. Contoh sederhana yaitu kita tertawa dengan melepaskan endorfin sehingga bisa menyamarkan rasa sakit yang disebabkan saat organ tubuh kita tegang, setelah tertawa hati kita akan merasa nyaman. Senyawa dopamin digunakan untuk menyelesaikan tugas penting dalam perjalanan mencapai tujuan besar yaitu keberhasilan dan kemajuan diri sebagai pribadi sehingga menimbulkan perasaan senang dan puas. Contohnya kita akan berusaha keras untuk menyelesaikan skripsi. Tubuh kita akan mengeluarkan dopamin agar kita terus berusaha, rela lembur hingga tuntas. Sehingga  kita akan merasa senang dan puas atas kemajuan diri yang berhasil kita raih.

Senyawa kimia komunal serotonin adalah perasaan berharga atau bangga atas penghargaan yang diberikan orang lain atau kelompok sehingga kita merasa kuat dan percaya diri. Contohnya kita barhasil menjadi juara olimpiade Mipa nasional dan diberi penghargaan maju dan memberikan sambutan di atas panggung. Pastinya kita akan bangga dan luar biasa percaya diri, senyawa serotonin inilah yang sedang bekerja dan membentuk ikatan kuat antara kita, orang tua, guru, kelompok yang telah memberi dukungan kepada kita. Senyawa oksitosin adalah senyawa favorit semua orang yaitu perasaan cinta, kasih sayang, murah hati, empati, persahabatan, rasa kemanusiaan dan saling percaya. Senyawa ini muncul ketika kita melakukan kebaikan untuk orang lain, dan orang lain melakukan kebaikan kepada kita. Contohnya dalam organisasi antara pemimpin dan anggotanya senyawa kimia ini sangat diperlukan untuk dapat bekerja sama, saling percaya, saling menjaga, perlindungan pemimpin dapat menimbulkan energi bekerja dengan baik, nyaman, profesional untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

Pemimpin selalu mendahulukan kepentingan kelompoknya sehingga diibaratkan mereka rela makan paling akhir yang nantinya akan dibalas dengan loyalitas atau kesetiaan, kerja keras anggotanya, dan mereka siap melakukan apa saja yang mereka bisa untuk membantu organisasi. Pemimpin yang memberikan keamanan kepada anggotanya akan membuat kelompoknya lebih kuat dan lebih siap menghadapi bahaya dan ketidakpastian dari dunia luar. Para pemimpin rela bekerja keras di masa-masa senang terlebih lagi di masa sulit, kesejahteraan dan keamanan anggota menjadi nomor satu tujuannya. Mereka rela menomorduakan keuntungan demi menomorsatukan kesejahteraan anggota. Dengan memiliki pemimpin seperti ini anggota akan rela berkorban dengan darah, keringat dan air mata untuk kemajuan organisasi. Anggota melakukannya bukan karena mereka harus melakukannya melainkan karena kesadaran dan keinginan mereka sendiri. Hasilnya dapat dilihat bahwa anggota yang kuat menghasilkan organisasi yang kuat, pemimpin mampu menciptakan rasa aman dan perlindungan yang lebih besar kepada banyak orang untuk waktu yang lebih lama. Sehingga inovasi dan kemajuan organisasi akan terus berlanjut selamanya.

Ada lima pelajaran penting dalam buku ini. Pertama kultur lemah maka organisasi sakit artinya kultur buruk menghasilkan pemimpin yang buruk. Kedua pemimpin kuat maka kultur sehat, sebaliknya semua kendali yang terfokus pada pimpinan puncak saja hanya memikirkan kekuasaan dan kekayaan pimpinan saja maka lambat laun akan terjadi kekuasaan tirani yang akhirnya membuat anggota ingin memberontak dan meruntuhkan organisasi. Sebaiknya ada transfer energi dari pimpinan puncak ke anggota di bawahnya, semakin besar energi yang diberikan maka akan semakin memperkuat organisasi. Ketiga pentingnya integritas sebagai pondasi dan kultur organisasi. Kultur yang kuat membuat orang berkomitmen satu sama lain dan mendahulukan kepentingan bersama. Visi yang dipilih pimpinan diyakini oleh anggota, anggota bekerja keras mencapai visi, timbal baliknya pimpinan akan memberikan perlindungan, penilaian dan masukan yang jujur.

Pelajaran keempat yaitu pentingnya pertemanan. Pertemanan mengarah ke kerja sama. Bekerja sama untuk memajukan kepentingan umum dan melayani orang-orang yang mengandalkan perlindungan kita. Mengenal lebih dekat orang yang bekerja sama setiap hari bersama kita pastinya lebih menyenangkan. Pelajaran kelima yaitu mementingkan para karyawan daripada keuntungan. Pemimpin lebih mendahulukan perlindungan lingkaran keselamatan agar tetap utuh dan kuat daripada mengejar keuntungan semata, sehingga akan tercipta loyalitas anggota yang sangat kuat. Pelanggan tidak akan pernah mencintai sebuah perusahaan sampai karyawannya mencintai perusahaan itu terlebih dahulu.

Makna yang mendalam dalam buku Leaders Eat Last yaitu pemimpin yang berfokus pada kesejahteraan anggotanya, menginspirasi orang-orang yang dipimpinnya, anggotanya berani bermimpi untuk masa depan yang lebih baik, lebih rajin belajar, lebih giat bekerja, meluangkan waktu yang banyak untuk organisasi, berbuat lebih banyak untuk organisasi dan akhirnya mereka sendiri berkesempatan menjadi pemimpin dan pemenang. Kepemimpinan sejati sama dengan menjadi orang tua yang berkomitmen untuk kesejahteraan anggotanya dan bersedia berkorban untuk memajukan kepentingan anggota sehingga anggota akan berintegritas, loyal dan bekerja sama menerapkan prinsip kepemimpinan selamanya bahkan ketika kita telah tiada.

Kelebihan Buku Leaders Eat Last

Buku ini memberikan banyak contoh gaya kepemimpinan korporasi, lembaga pemerintah dan non pemerintah, perusahaan, organisasi dan gaya kepemimpinan kepala negara. Buku ini menginspirasi pemimpin yang belum bisa memberikan perlindungan untuk anggotanya dan lebih memantapkan langkah gaya kepemimpinan yang sudah memberikan lingkaran keselamatan. Banyak referensi ilmiah dan praktis dalam buku ini sehingga akan menambah cakrawala berpikir pembaca untuk masuk dalam cerita yang disungguhkan dalam peristiwa masa lampau maupun yang update saat ini.

Kekurangan Buku Leaders Eat Last

Buku ini aslinya berbahasa Inggris yang diterjemahkan oleh Raviyanto Rahmad dalam bahasa Indonesia. Ada beberapa kalimat terjemahan yang dirasa kurang pas karena terlalu diterjemahkan saklek sesuai katanya. Sehingga terkesan padunan katanya kurang harmonis dan terkesan rumpang ketika dibaca.

Rekomendasi Buku Leaders Eat Last

Para pemimpin baik kepala rumah tangga, kepala desa, kepala daerah, kepala pemerintahan dan kepala organisasi apapun wajib membaca buku ini untuk membangun lingkaran keselamatan sehingga organisasi akan terus berlangsung selamanya.

Identitas buku :

Judul Buku                  : Leaders Eat Last

Pengarang Buku          : Simon Sinek

Penerbit Buku                        : PT Gramedia Pustaka Utama

Kota Terbit                  : Jakarta

Tahun Terbit                : 2020

Tebal Buku                  : 370 halaman

*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Purwosari

           

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *