Negeri Senja

Oleh Eti Nurjanah, S.Pd.

Buku Negeri Senja ini ditulis oleh seorang penulis yang cukup terkenal yakni Seno Gumira Ajidarma atau biasa disapa SGA. Karya-karyanya mulai dari cerpen, novel, dan tulisan lainnya selalu menggelitik dan sering mengkritik kekuasaan dengan caranya yang khas. Seperti dalam novel Negeri Senja ini.

Dalam novel ini, SGA menggambarkan, aku adalah seorang pengembara yang dalam hidupku penuh dengan kesedihan. Aku mengira kalau melakukan perjalanan maka kesedihanku akan hilang karena tertinggal jauh di belakang. Aku telah menyeberangi lautan, mendaki gunung, menjelajahi gurun namun tidak pernah merasa bisa tinggal di suatu tempat agak lama. Suatu ketika dalam perjalananku tibalah di Negeri Senja. Negeri ini ada tapi tiada, negeri yang miskin di mana waktu seolah-olah tidak bergerak, karena selalu berada dalam keadaan senja, matahari tertahan terus di cakrawala, tidak ada pagi, tidak ada siang, tidak ada malam, yang ada hanya senja.

Negeri ini disebut Negeri Senja. Dari jauh, Negeri Senja hanya tampak sebagai bayangan hitam karena di latar belakangnya tampak lempengan bola matahari raksasa yang jingga dan membara memenuhi ruang, menyebabkan langit di atas semburat jingga dengan tepian mega – mega yang telah menjadi keemasan. Segalanya serba keemasan ketika aku memasuki kota itu. Sebenarnya aku tidak mengenal Negeri Senja sebelumnya, aku tidak pernah mendengar namanya. Matahari tidak pernah tenggelam di negeri senja. Kenapa begitu?. Bukankah matahari itu selalu tampak di setiap muka bumi ini.

            Ya, Negeri Senja adalah tempat yang berbahaya. Di Negeri Senja ini, konon, dan memang hanya konon negeri ini telah berdiri semenjak 500 tahun semenjak pengembara itu terdampar di negeri ini. Puan Tirana, seorang perempuan buta yang memimpin dengan kejam di mana semua hal yang berbau pengetahuan dan kebebasan berpendapat merupakan hal sangat tabu dilakukan. Selama kepemimpinan Tirana, pemberontakan, penentangan, dan percobaan pembunuhan pun sering kali dilakukan terhadapnya, tapi dengan kemampuannya membaca pikiran setiap orang yang terkena sinar senja dan pasukan khusus beserta mata-mata yang dipunyainya, dia dapat menghancurkan semuanya. Negeri Senja menjadi terbiasa hidup dalam kegelapan dan selalu menghindari cahaya. Memang itulah yang dikehendaki oleh Tirana agar rakyatnya selalu hidup dalam kegelapan.

            Seorang pemuda penunggang kuda dari selatan, dia adalah orang yang sudah ditentukan oleh takdir untuk membebaskannya, dan Puan Tirana pun mengetahuinya akhirnya pemuda tersebut dibunuh. Ya begitu kejam.

            Pada masa lalu, negeri senja adalah sebuah negeri yang dikunjungi oleh banyak orang dari negeri sekitar. Untuk berdagang maupun untuk menuntut ilmu. Karena memang pusat kebudayaan di tengah padang pasir yang kering kerontang. Sisa kejayaan masa lalu memang terlihat di kota ini. Mulai dari benteng yang runtuh, tempat ibadah yang kini sudah tidak terurus.

            Di Negeri Senja ini ada yang namanya komplotan pisau belati. Yaitu suatu organisasi rahasia yang pernah memegang peranan penting dalam sejarah Negeri Senja di kekuasaan Puan Tirana. Tugas mereka adalah di bawah tanah. Mulai dari penculikan dan  pembunuhan. Sebenanya mereka ingin sekali melepaskan diri dari komplotan tersebut sama halnya rakyat biasa. Sehingga muncul suatu usaha untuk membunuh Puan Tirana. Tidak pernah bisa dan tidak akan pernah bisa. Setiap usaha selalu gagal. Puan Tirana bisa hilang dalam sekejap. Entah dari mana Tirana berasal. Perempuan penguasa Negeri Senja yang berpakaian serba hitam menutupi seluruh tubuhnya. Di belakang tandu Tirana berbaris puluhan pasukan berkuda dengan busana siap tempur.

            Naiknya Tirana di puncak kekuasaan diselaputi misteri. Tidak ada satu pun orang yang menjadi saksi sejarah perempuan penguasa tersebut. Orang hanya tahu betapa ia sangat ditakuti. Tirana juga dikatakan mampu membaca pikiran dan inilah yang membuat siapa pun yang berusaha melawan dan meggulingkannya harus mengembangkan suatu cara menggalang kekuatan dengna cara mengecoh kemampuan itu. Sekarang aku mengerti mengapa orang Negeri Senja sangat jarang bicara, jadi pikiran pun bisa dibaca Tirana.

            Suatu ketika Tirana sedang membaca Kitab Terjadinya Kaidah mendadak dari jendela pintu masuk segerombolan manusia yang seperti sudah terlatih melakukan pembunuhan, merebahkanya di tempat tidur dan melakukan pemerkosaan. Tak kurang dari dua puluh orang berada di kamar itu. Gadis itu disayat – sayat wajahnya sehingga wajah yang semula anggun kini tak dapat dikenali lagi. Namun seketika lenyap seperti ditelan bumi. Angin tertiup dari luar, bunyi gemerisik di lantai batu dan terlambainya tirai melesat masuk pula cahaya keemasaan yang bersemu jingga kemerahan.

            Inilah penyebabnya Negeri Senja itu terjadi. Negeri Senja yang selalu berada dalam keremangan senja mempunyai nuansa tiada terkira banyaknya. Senja merupakan keadaan matahari terbenam yang terlihat indah namun di Negeri Senja semua seakan senja tidak akan ada matahari yang akan bersinar menerangi negeri ini. (*/ykib)

            Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Purwosari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *