Oleh Iin Vina Noviana, S.Pd.
Novel “Pagi Gerimis” karya Nurhasanah ini dipersembahkan untuk setiap orang yang kelak merindukan suasana kampung halaman. Novel yang ditulis oleh Nurhasanah yang lahir di Tegal yang sempat menempuh pendidikan Sastra Indonesia Fakultas Sastra dan Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran ini menceritakan mengenai kehidupan sebuah keluarga yang serba kekurangan yang tinggal di Desa Cemplong. Di dalam keluarga tersebut memiliki seorang anak laki-laki bernama Slamet Samsudin dan dua anak perempuan Srikandi Sembrada dan Bawon.
Sri dan Bawon, kakak beradik yang tumbuh dengan karakter yang berbeda, Sri tumbuh menjadi gadis yang begitu cantik dan centil tapi cenderung pemberontak atau tidak nurut dalam keluarga, selalu berani dan dengan keberanian itulah membuat Sri sering terlibat suatu masalah. Berbeda dari kakaknya, Bawon tumbuh menjadi anak yang malu, tidak percaya diri karena memiliki gigi yang tonggos, tumbuh sebagai anak kecil yang selalu menyendiri dan menciptakan teman khayalan sebab teman temannya selalu mengejeknya sehingga dia lebih memilih menyendiri dan menghabiskan waktunya dengan teman khayalannya, sejak kecil ia terbiasa berbicara dengan Gadis Kecil di Dasar Sumur, sosok yang dia temukan menatap balik ke arahnya dari dalam sumur. Bawon selalu menceritakan keluh kesahnya, hari harinya selalu ia utarakan di dalam sumur. Selain itu Bawon selalu bermain dengan teman khayalnya Bocah Ayu di Pekarangan,. Bawon dikenal oleh masyarakat anak orang gila yang dirawat oleh emak Rusmini dan suaminya sebab tidak ada satu orang pun yang mau merawatnya.
Hidup dengan serba kekurangan membuat Bawon dengan umur delapan tahun belum bisa daftar sekolah. Setiap pagi Emak selalu membangunkan Bawon dan berkata “Cepat bangun mandi katanya mau daftar SD”. Bawon yang melompat dari tempat tidur dan berlari mandi. Namun hal tersebut hanya untuk membangunkan Bawon. Hal tersebut membuat Bawon menangis, apalagi ketika melihat kakaknya Udin dan Sri yang memakai seragam sekolah, Bawon semakin menangis. Beberapa bulan kemudian Bawon daftar SD, saat masuk kelas ia merasa takut diledek tonggos dan pitak oleh teman sekolahnya sebagaimana ia diledek oleh anak anak Cemplong. Namun saat masuk kelas ada 1 temannya yang ingin berkawan baik dengannya dan ingin satu bangku dengan Bawon yaitu Endang anak Pak Lurah yang memiliki wajah cantik dan berambut panjang. Bawon yang setiap hari tidak membawa uang saku selalu dibelikan jajan oleh Endang dan selalu diajak bermain di rumahnya.
Hidup serba kekurangan membuat Sri selalu hutang jajan di masa sekolahnya dan merasa bosan akan masakan Emak yang selalu kangkung, tempe sehingga membuat Sri sering numpang makan di rumah Ningsih yang selalu menyediakan makanan yang enak. Dan di rumah Ningsih, dia selalu mendapatkan makanan dari kakak Ningsih yang bekerja di Jakarta sehingga hal tersebut membuat Sri bercita cita ingin menjadi pengasuh anak di Jakarta. Dalam angannya, di Jakarta ia akan menemukan lelaki yang bisa memberikan ia makanan enak bukan tempe goreng dan kangkung saja seperti apa yang ia temukan di bawah tudung saji tiap harinya.
Di usia yang relatif masih kecil, Bawon dan Sri sudah dihadapkan permasalahan yang datang silih berganti. Tidak hanya dari lingkungan sekitar, tapi konflik banyak datang dari keluarga mereka sendiri. Misalnya dengan sifat Sri yang centil, pemberontak dan percaya diri menjadi salah satu pembuat masalah dalam keluarga. Sifat yang bertindak ceroboh dianggap mempermalukan keluarga karena merusak hubungan rumah tangga orang, hal tersebut membuat Sri dan keluarga diusir dari Desa Cemplong dan akhirnya sewa kontrakan rumah di Desa Kedung Jambu. Beranjak dewasa Sri yang merupakan gadis cantik , ia sadar akan kecantikannya tersebut sehingga dia berpikir aset yang ia miliki ada pada fisiknya, oleh karena itu ia perlu merawat penampilannya agar nanti bisa melebur dengan orang Jakarta. Dalam novel Sri ingin membeli bedak dan gincu namun hal tersebut tidak mungkin karena keterbatasan biaya. Namun Sri tetap menjadi gadis yang cantik sehingga dijuluki sebagai kembang desa Kedung Jambu yang kemudian dilamar oleh anak Juragan Bawang. Namun lamaran tersebut tidak jadi karena adanya kisruh kampanye berbagai partai membuat Sri harus merelakan kegadisannya untuk seorang pemuda yang bernama Untung. Untung ini merupakan pemuda yang sudah lama mencintai Sri namun cintanya di tolak. Pada waktu itu Sri rela menyerahkan kegadisannya untuk menyelamatkan keluarganya dari kisruh kampanye sehingga Untung dan Sri pindah ke kota yang diimpikan oleh Sri yaitu Jakarta.
Sedangkan perempuan yang bernama Bawon di suruh Emak untuk menggantikan kakaknya menjadi istri anak juragan bawang yang bernama Bima. Namun Bawon yang masih kelas 5 tersebut lebih memutuskan untuk keluar rumah karena tidak mau hidup bersama lelaki pujaannya. Singkat cerita Bawon akhirnya menikah dengan pemuda bernama Kasum, pemuda ini mencintai dan menerima Bawon apa adanya meskipun wajah Kasum ini bertemperamen kasar. Sedangkan kakaknya yaitu Sri hidup di Jakarta memilih menikah dengan seorang pemilik toko.
Selang beberapa tahun, Sri memutuskan kembali ke kampung Kedung Jambu, Sri pergi dari rumah suaminya dan meninggalkan anaknya karena merasa sudah berbohong dan tidak pantas hidup dengan suaminya. Di kampung tersebut Sri melihat Bawon tinggal bersama mantan bandar Togel yang merupakan ibu kandung Bawon sendiri. Anggapan orang-orang terkait Bawon anak orang gila tersebut tidak benar. Ketika itu Sri mengajak Bawon untuk tinggal bersama namun Bawon menolak Sri. Di ceritakan dalam novel Bawon sudah tidak lagi bertempat tinggal dengan suaminya Kasum karena perilaku Kasum yang kasar terhadap Bawon. Bawon menyimpan cinta yang tulus dengan Bima anak juragan bawang yang dulu hendak dinikahinya untuk menggantikan Sri. “Jika dulu aku tidak minggat pasti aku sudah bersama Mas Bima bukan Mas Kasum yang juling itu” sesal bawon dalam hati.
Akhir dari cerita novel Pagi Gerimis ini menjadi akhir cerita yang menggantung, namun cenderung pada sad ending di mana keluarga Sri yang sudah cerai dan nasib Bawon yang hanya bisa menyimpan rasa kepada Mas Bima dan saudaranya yang tidak diceritakan menjadi penutup novel Pagi Gerimis.
Kelebihan
- Penulis mampu menggambarkan suasana kampung melalui budaya seperti adanya permainan gobak sodor.
- Penulis mampu menggambarkan kesederhanaan sebuah kampung yang membuat pembaca ingin mendengar bagaimana kabar kampung halamannya.
- Penulis mampu menyajikan gambaran kehidupan desa, sehingga dapat membuka cakrawala bahwa desa bisa di ramu menjadi ide cerita menarik.
- Tata bahasa dalam novel ini dikemas dengan rapi, misalnya kata baku bus ditulis dalam bentuk narasi, sedangkan dalam sebuah dialog berubah menjadi “bis”.
Kekurangan
- Penulis banyak memunculkan tokoh tokoh baru di dalam cerita sehingga membuat pembaca bingung. Dan cenderung menghilangkan atau tidak membahas sama sekali tokoh yang muncul saat awal cerita, sehingga terkesan tidak menyatu antara bab 1 dengan yang lainnya.
Identitas buku
Penulis : Nurhasanah
Penerbit : PT Elex Media Komputindo
Tahun : 2016

