Seni Merayu Tuhan

*Oleh Monica Aisyah, S.S.

Buku Seni Merayu Tuhan karya Habib Husein Ja’far Al Hadar merupakan buku yang membahas tentang hubungan manusia dengan Tuhan dengan cara yang berbeda dari buku agama pada umumnya. Biasanya buku keagamaan terkesan serius dan berat, tetapi buku ini justru menggunakan bahasa yang ringan dan mudah dipahami. Buku yang dikemas dengan bahasa Gen Z banget sehingga terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Kata “merayu” biasanya digunakan dalam hubungan antar manusia, tetapi dalam buku ini digunakan untuk menggambarkan cara manusia mendekatkan diri kepada Tuhan dengan penuh cinta, harapan, dan ketulusan.

Sejatinya, jarak terdekat kita dengan Tuhan adalah ketika kita merayu Dia, karena kata Nabi Muhammad SAW, “Tuhan adalah kekasih tertinggi kita, yang Mahaindah dan menyukai keindahan”. Kata para sufi, satu sujud saja yang betul-betul dalam keadaan penghambaan yang tinggi akan mengetuk rahmat-Nya, sehingga Dia akan memberi segalanya termasuk surga-Nya, bukan sekadar ritual belaka.

Tidak hanya membahas teori agama, tetapi juga mengajak pembaca untuk merenungkan kehidupan sehari-hari. Penulis menjelaskan bahwa mendekat kepada Tuhan sebenarnya tidak harus dengan cara yang rumit. Hal-hal sederhana seperti berbuat baik kepada orang lain, bersyukur atas hal kecil, dan terus berharap kepada Tuhan juga merupakan cara untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Habib Husein Ja’far juga menjelaskan bahwa manusia sering kali merasa tidak pantas untuk mendekat kepada Tuhan karena merasa  telah melakukan banyak dosa. Padahal, justru saat itulah manusia seharusnya kembali kepada Tuhan. Dalam buku ini dijelaskan bahwa Tuhan selalu membuka pintu ampunan bagi siapa saja yang ingin kembali. Selain itu, penulis juga menekankan bahwa doa merupakan salah satu cara manusia “merayu” Tuhan. Bukan berarti manusia memaksa Tuhan, tetapi menunjukkan bahwa manusia memiliki harapan, kerendahan hati, dan ketergantungan kepada-Nya.

Hal lain yang dapat dipelajari dari buku ini adalah bahwa agama seharusnya membawa kedamaian. Penulis mengajak pembaca untuk melihat agama dengan cara yang lebih penuh kasih, bukan dengan kemarahan atau kebencian terhadap orang lain.

Beberapa kutipan dalam buku ini menurut saya sangat menarik dan memberikan banyak pelajaran, antara lain:

“Tuhan tidak membutuhkan ibadah kita. Justru kitalah yang membutuhkan Tuhan.”

Kutipan ini mengingatkan bahwa ibadah sebenarnya bukan untuk kepentingan Tuhan, tetapi untuk kebaikan manusia sendiri. Kutipan ini juga dapat menjadi sebuah pengingat bahwa dengan ibadah atau tidaknya diri kita tidak akan mengubah kedudukan Allah sebagai Tuhan.

“Merayu Tuhan bukan dengan kata-kata yang indah, tetapi dengan hati yang tulus.”

Menurut saya, kutipan ini sangat bermakna karena menunjukkan bahwa yang paling penting dalam berdoa adalah ketulusan. Akan percuma jika kita selalu berdoa, tapi dengan keterpaksaan. Sama halnya dengan cara kita merayu seseorang, kita akan menggunakan kata yang indah walaupun tidak dengan hati yang tulus. Seseorang tidak akan mengetahui secara pasti. Namun, dalam sebuah doa, Allah mengetahui niat dan ketulusan kita.

“Sering kali manusia merasa jauh dari Tuhan, padahal Tuhan tidak pernah pergi.”

Kutipan ini membuat saya sadar bahwa kadang manusia sendirilah yang menjauh dari Tuhan. Ketika seseorang diberi ujian, ia akan berpikir bahwa Allah membencinya sehingga ia sendiri yang menjauh dari rahmat Tuhan. Karena semakin banyak cobaan seseorang, itu menandakan bahwa Allah ingin lebih dekat dengannya. Allah ingin mengetahui apakah di dalam kesulitan hanya Allah satu-satunya tempatnya berharap.

“Harapan kepada Tuhan tidak pernah sia-sia.”

Kalimat ini memberikan semangat bahwa manusia tidak boleh berhenti berharap kepada Tuhan dalam keadaan apa pun. Sekecil apa pun usaha kita, Allah maha mengetahui, jadi kalimat ini sebagai penegas bahwa tidak ada yang sia-sia di dunia ini.

Kelebihan buku:

Menurut saya, kelebihan buku ini adalah gaya bahasanya yang ringan dan mudah dimengerti. Bahasa yang digunakan sangat mudah dipahami. Penulis menggunakan bahasa seolah-olah berinteraksi secara langsung. Buku ini mungkin akan sangat digemari oleh muda-mudi yang ingin membaca buku dengan tema religi tanpa harus mencerna kalimat yang rumit dengan penyampaian yang relate dalam kehidupan sehari-hari.  Penulis juga menggunakan contoh-contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga pembaca bisa lebih mudah memahami pesan yang disampaikan.

Selain itu, buku ini juga memberikan pandangan yang lebih menenangkan tentang agama. Pembaca diajak untuk memahami bahwa Tuhan adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Kekurangan buku:      

Walaupun buku ini sangat menarik, menurut saya beberapa pembahasannya terasa cukup singkat. Ada beberapa bagian yang sebenarnya bisa dijelaskan lebih panjang agar pembaca dapat memahami lebih dalam. Namun secara keseluruhan, kekurangan tersebut tidak terlalu mengurangi pesan utama dari buku ini.

Kesimpulan

Setelah membaca buku Seni Merayu Tuhan, saya merasa mendapatkan banyak pelajaran tentang bagaimana seharusnya manusia membangun hubungan dengan Tuhan. Buku ini mengajarkan bahwa mendekat kepada Tuhan tidak harus selalu dengan cara yang rumit, tetapi bisa dimulai dari hal-hal sederhana seperti berbuat baik, bersyukur, dan berdoa dengan tulus. Menurut saya, buku ini sangat cocok dibaca oleh siapa saja, terutama anak muda yang ingin memahami agama dengan cara yang lebih sederhana dan menenangkan. Buku ini juga dapat membantu pembaca untuk lebih optimis dan tidak mudah putus asa dalam menjalani kehidupan. (ykib/monica).

Identitas Buku

Judul Buku       : Seni Merayu Tuhan

Penulis             : Husein Ja’far Al Hadar

Penerbit          : Mizan Publishing

Tebal               : 225 halaman

Tahun Terbit   : 2022

Genre              : Religi / Motivasi Spiritual

ISBN                 : 978-602-441-255-5

 

*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Purwosari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *