Oleh Reza Umami Khoirunisa’, S.Si.
Buku The Naked Traveler berisi tentang perjalanan seorang backpacker perempuan bernama Trinity yang mengelilingi dunia. Buku ini dibagi menjadi 7 bagian di antaranya Airport, Alat Transportasi, Life Sucks!, Tip, Sok Beranalisis, Adrenalins, dan Ups. Setiap bagian terdiri dari bab-bab pendek yang menyimpan cerita-cerita yang menarik dan diselipi beberapa cerita lucu.
Dalam cerita-ceritanya pula, tak jarang Trinity membandingkan kondisi luar negeri dengan negeri sendiri. Namun ia mengaku lebih menyukai Indonesia ketimbang luar negeri. Indonesia telah dianugerahi pemandangan alam yang luar biasa, hanya saja pengelolaannya yang mungkin masih perlu perbaikan. Sehingga bentuk kritik dari Trinity merupakan tanda kepeduliannya dengan negara.
Ada cerita lucu dari sub bagian ‘Berkelana di Toilet’. Saat Trinity berada di airport Schippol (Amsterdam Belanda) kemudian ingin buang angin besar. Setelah selesai, niat hati mencari tungkai untuk flush. Tetapi tidak ada dan ia pun mulai panik. Alhasil, ia menarik banyak tisu gulung dan membuangnya di kakus, berharap bau dan bentuknya tidak begitu kelihatan, sehingga ia bisa kabur tanpa dipelototin orang yang mengantre. Setelah berlama di toilet, ia memberanikan diri ke luar kemudian ia membuka kunci pintu. Seketika itu, byurr, flush menyala dan membasuh kotoran dengan bersihnya. Ternyata flush baru keluar secara otomatis kalo kita membuka kunci pintu.
Gaya bercerita Trinity yang blak-blakan diungkapkan seperti pada sub bagian ‘Tidak Semua Pramugari Seksi’. Sejak duduk di bangku TK, Trinity bercita-cita menjadi pramugari. Ia berpikir rasanya enak bisa jalan-jalan kemana-mana. Namun, sejak SD ia sudah memakai kacamata, jadi gagallah cita-citanya itu. Fungsi utama pramugara dan pramugari di pesawat terbang adalah flight safety, sedangkan service adalah nomor dua. Masalah good looking, usia, ukuran tubuh, dan kacamata adalah relatif, tergantung dari kebijakan masing-masing perusahaan penerbangan. Pramugara-pramugari dari penerbangan asal negara Asia Tenggara adalah yang paling terbaik. Mungkin karena budaya kita yang gila hormat dan senang dilayani sehingga servis pramugara-pramugari dibuat paling oke. Pramugarinya langsing-langsing, bahkan ukuran pinggangnya mungkin selebar satu paha Trinity saking kecilnya. Pramugaranya ganteng-ganteng, mukanya seperti penyanyi F4. Sedangkan pramugara-pramugari negara non-Asia Tenggara. Misalnya Sri Lankan Airlines, pramugarinya mengenakan seragam kain Sari seperti baju kebangsaan India yang bagian perut dan pinggangnya terbuka. Tapi orang Sri Lankan berkulit hitam, turunan Tamil, dan mereka badannya tidak tipis seperti orang Singapura. Jadilah daging berlebih di bagian perut dan pinggangnya mencelat ke luar dan berwarna hitam, berbintik-bintik pula. “Hii” celetuk Trinity.
Tidak hanya berbagi cerita lucu, ada juga teori-teori yang disimpulkan olehTrinity mengenai kehidupan orang Indonesia dibandingkan dengan penduduk negara lain. Seperti sub bagian yang berjudul ‘Banyak Matahari, Sedikit Jalan Kaki’. Trinity menyimpulkan bahwa semakin jauh letak suatu negara dari garis khatulistiwa, semakin cepat orang di negara tersebut berjalan. Logikanya, semakin jauh dari khatulistiwa maka negara tersebut pasti dingin sehingga orang akan berjalan lebih cepat supaya tidak kedinginan. Ia pula beranggapan bahwa semakin dekat suatu negara ke garis khatulistiwa, semakin malas pula orang-orangnya. Mereka jalannya slow, very laid-back, sering tidak tepat waktu, dan kurang disiplin. Di Indonesia sendiri yang merupakan negara yang terlintasi oleh garis Khatulistiwa, bisa dibuktikan bahwa penduduknya jarang sekali pergi kemana-mana dengan berjalan kaki. Mereka akan lebih memilih untuk menggunakan kendaraan pribadi. Namun, sisi positifnya adalah semakin dekat orang tinggal ke garis khatulistiwa maka akan semakin ramah orangnya. Mungkin karena berjalan lambat, mereka lebih punya banyak waktu untuk saling sapa satu sama lain.
Selain cerita lucu dan juga teori-teori yang diberikan melalui buku ini, Trinity juga banyak memberikan tips-tips yang sangat-sangat bermanfaat bagi siapa saja yang mau menganut madzab travellingnya. Seperti cara memilih hostel bukan hotel, menghemat biaya untuk makan, menghemat biaya dalam melakukan perjalanan di suatu kota, cara belanja barang bermerek dengan harga miring, dan tips-tips sepele lainnya yang juga bermanfaat bagi traveller pemula. Seperti selain membawa dokumen, pakaian, alas kaki, alat mandi, alat tulis, kamera, dan obat-obatan, ada benda-benda lain yang penting dibawa saat traveling. Misalnya tas badan, bentuknya seperti tas pinggang kecil tapi sangat tipis, terbuat dari kain mirip blacu, gunanya sebagai tempat menaruh dokumen penting, seperti paspor, kartu kredit, tiket, dan uang kertas. Karena tipis dan fleksibel, kita serasa tidak memakainya, dari luar pun tidak kelihatan gembung. Selanjutnya ada pepper spray, cairan ini bisa membuat mata perih dan bengkak juga membuat orang sesak napas. Harus selalu ditaruh di dalam saku celana. Ada lagi yaitu pisau lipat, dalam satu genggaman ada pisau, gunting, kaca pembesar, bukaan botol, gergaji mini, obeng, pinset, kikiran kuku, bahkan tusuk gigi. Tapi jangan ditaruh di dalam tas tangan kalau mau terbang naik pesawat, bisa-bisa dikepung petugas. Kemudian sarung bali, bisa untuk alas duduk, selimut/syal, sprei atau sarung bantal. Yang terakhir yang disebutkan dalam buku ini yaitu, celana dalam disposable, ini adalah cara praktis dan higienis, karena habis pakai tinggal dibuang, juga tidak harus berpikir untuk dijemur dimana.
Tidak hanya itu, Trinity juga menceritakan pengalaman seramnya. Trinity selalu menyempatkan diri pergi ke museum kalau sedang traveling ke suatu tempat. Menurutnya dengan pergi ke museum ia telah membaca puluhan bahkan ratusan buku sekaligus. Museum yang paling seram menurutnya adalah Genocide Museum Tuol Sleng di Phom Penh, Kamboja. Bangunan itu dulunya adalah gedung sekolah SMP yang dimodifikasi menjadi penjara-penjara kecil, ruang interogasi, ruang penyiksaan, dengan jendela-jendela yang telah teralis besi dan pagar yang dikelilingi kawat berduri. Cerita seram lain adalah ketika Trinity mengunjungi Belau National Museum dalam rangka ingin mengetahui sejarah Republik Palau. Karena pada saat itu sedang mati lampu, Trinity meminta diskon entrance fee dari US$5 menjadi US$2. Dengan berjalan sambil meraba-raba agar bisa naik ke ruangan selanjutnya, tidak sengaja ia meraih sebuah patung. Seperti rambut…halus…panjang…, dan hangat. Kemudian ia menyenter kepala patung dan patung itu menoleh ke arahnya. Ia berteriak kemudian patung itu pun berteriak dan berlari sambil menangis jejeritan. Rupanya, dia anak bule pengunjung museum juga.
Kelebihan
Buku ini menyampaikan cerita dengan asyik, apa adanya cocok untuk para traveler pemula yang ingin menjelajahi dunia. Cocok juga untuk menstimulus para pemuda agar lebih produktif. Kisah-kisah yang disajikan pun bukan kisah atau cerita pada umumnya. Penulis adalah traveler yang antimainstream. Ia menyuguhkan fakta-fakta baru mengenai suatu daerah.
Kekurangan
Dibutuhkan pikiran terbuka untuk dapat sepenuhnya menikmati buku ini sebab bisa jadi ada beberapa bagian dalam buku ini yang akan membuat pembaca tak nyaman. Misalnya kebiasaan merokok, dugem, atau perkataan yang kurang pantas. (*/ykib)
Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Kalitidu

