*Oleh Iin Vina Noviana, S.Pd.
The Story Girl adalah buku pertama dalam sekuel The Golden Road oleh penulis klasik Kanada yaitu Lucy Maud Montgomery. Lucy Maud Montgomery lahir pada tahun 1874 di Cryphon, Pulau Pangeran Edward. Sejak kecil, Lucy tinggal bersama kakeknya. Kakeknya membesarkannya dengan didikan keras di Cavendish. Pada tahun 1890-an, Lucy mengajar di Biddeford dan Lower Bedek di pulau yang sama. Sejak kecil, dia suka menulis. Karya pertamanya, sebuah puisi, diterbitkan di sebuah surat kabar lokal. Dia terkenal karena serial novel Anne of Green Gables, lalu oleh Story Girl dan sekuelnya, The Golden Road.
Novel Story Girl dikisahkan dari sudut pandang seorang tokoh bernama Beverly dan adiknya, Felix King. Novel ini menceritakan awal musim semi ketika keluarga Beverly pindah ke tanah pertanian keluarga King di Pulau Pangeran Edward. Butuh waktu lama sebelum akhirnya mendapat kesempatan untuk pergi ke sana. Ayahnya dibesarkan di tanah pertanian King, sehingga ada banyak cerita yang kemudian diturunkan ke Beverly dan saudara perempuannya. Seperti banyak cerita yang diceritakan oleh orang tuanya, cerita itu seolah melibatkan sihir, sehingga mereka sangat tertarik dengan tempat itu.
Ketika Beverly tiba di pertanian, ia bisa berkenalan dengan anak-anak lain dari keluarga King lainnya, termasuk Felicity yang sedikit arogan tetapi sangat cantik, Cecily yang baik dan mulia, dan Dan yang baik hati, tetapi sarkastik. Selain ketiga anak tersebut, ada Peter pelayan di keluarga tersebut yang cerdas dan sering bermain bersama, Sara Ray, sahabat Cecily yang mudah menangis, dan Sarah Stanley, yang sering dikenal sebagai gadis pendongeng.
Tidak terbilang betapa luar biasanya hari-hari yang mereka lalui bersama, terutama karena keberadaan Gadis Pendongeng yang menceritakan banyak kisah. Suaranya, gerakannya, mimik wajah serta cara bicaranya selalu mampu menyesuaikan dengan cerita yang ia bawakan, sehingga para pendengarnya seakan benar-benar larut dan menyaksikan kejadian dalam cerita tersebut. Baik itu misteri, humor yang kocak, kisah yang penuh kesedihan, petualangan, legenda, atau sejarah keluarga, Gadis Pendongeng selalu dapat menceritakan kisah-kisah tersebut dengan sangat baik sampai pendengarnya terkesan, dan tidak hanya anak-anak, orang dewasa juga tenggelam dalam cerita-cerita yang dikisahkannya.
Dalam novel ini juga menceritakan kegiatan-kegiatan yang dilakukan selama berada di Tanah Pertanian Keluarga King, tentang Peter yang menyukai Felicity, virus campak yang menular, misteri peti biru, sekolah minggu, lomba khotbah, Peg Bowen yang eksesntrik dan menurut desas-desus katanya seorang penyihir, ketakutan karena berita kiamat di koran lokal, dan masih banyak lagi.
Novel yang terdiri dari 32 bab ini adalah buku yang mengingatkan tentang kenangan masa kanak-kanak. Dengan terjemahan yang memuaskan, kisah Gadis Pendongeng yang mengagumkan, saya seperti menjadi anak kecil lagi yang turut serta dalam kelompok Beverly di Keluarga King. Membayangkan bertatap muka langsung dengan Gadis Pendongeng, saya suka bagaimana dia selalu optimis, berani, perhatian dan kadang juga bersikap nakal seperti anak-anak lainnya.
Novel ini juga memiliki kesan religius Kristiani khas pedesaan. Dalam novel ini juga menceritakan banyak kata indah meskipun sulit untuk dipahami seperti “Dewa-dewa pun tak bisa meminta kembali hadiah mereka. Mereka mungkin merampok masa depan kami dan melukai masa kini kami, tapi mereka tak bisa menyentuh masa lalu kami. Dengan semua tawa dan kebahagiaan dan keindahannya, masa lalu akan menjadi milik kami yang abadi.” (*/ykib).
Kelebihan buku ini:
- Dari segi bahasa, penerjemah mampu melakukan alih bahasa tanpa menghilangkan kesan klasik dalam novel aslinya.
- Kisah yang berlatarkan dengan suasana desa yang penuh dengan deskripsi membuat pembaca dapat membayangkan keadaan desa.
Kelemahan buku ini:
- keberadaan beberapa kata-kata yang terkesan agak tidak sesuai dengan konteks asli kalimat, dan kalimat-kalimat yang sangat formal.
Identitas buku:
Judul buku : The Story Girl Gadis Pendongeng
Penulis : Lucy Maud Montgomery
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Kedua 2019
Tebal : 368 Halaman
ISBN : 9789792257014
*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Purwosari

