*Oleh Min Qurin Amaliya Qoria, S.Pd.
Perubahan akan terjadi dan perubahan juga pasti dibutuhkan. Bicara tentang perubahan, tidak semua orang gampang menerima perubahan yang tiba-tiba terjadi. Mau tidak mau, kita harus siap kapan perubahan itu datang. Hal yang ditakuti, saat perubahan itu tiba, kita minim persiapan yang akhirnya bisa berujung pada depresi, takut untuk melangkah dan memilih untuk mempertahankan apa yang pernah didapat.
Buku karangan Spencer Johnson, seorang sarjana Psikologi dari University of Southern California membuai para pembacanya melalui fenomena Who Moved My Cheese?. Betapa tidak, kisah ini diciptakan oleh Spencer untuk membantunya mengatasi sulitnya perubahan dalam hidupnya. Who moved my cheese, adalah sebuah perumpamaan sederhana yang mengungkapkan kebenaran tentang perubahan. Kapan kita harus sigap dan tau cheese kita mulai busuk bahkan menghilang.
Ada 4 tokoh yang diceritakan, yaitu 2 tokoh tikus yang bernama “Sniff” dan “Scurry” dan dua lainnya adalah kurcaci sebesar tikus dan bertindak sama seperti manusia, mereka bernama “Hem” dan “Haw”. Kemudian “Cheese” dilambangkan seperti apa yang kita inginkan bisa berupa pekerjaan, tahta, maupun harta atau kekayaan. Terakhir adalah “Labirin”, digambarkan seperti tempat di mana kita mencari sesuatu yang kita inginkan. Keempat tokoh tadi dihadapkan kepada suatu perubahan yang tidak terduga, tapi di antara mereka ada yang berhasil mengatasinya dan menuliskan pelajaran berharga yang diperoleh saat berada di labirin untuk menemukan cheese.
Buku ini bercerita tentang dua tikus dan masalah yang mereka alami ketika keju tidak lagi muncul di tempat biasanya. Tak lama kemudian, tikus-tikus itu lapar, jadi mereka membicarakan apa yang harus dilakukan dengan keju mereka. Seperti kita semua, mereka mempunyai gagasan yang berbeda mengenai pro dan kontra dari setiap solusi yang mungkin serta tingkat kenyamanan yang berbeda terhadap risiko yang menyertai masing-masing solusi. Mereka memutuskan untuk menangani masalah ini dengan cara yang berbeda. Yang satu memutuskan untuk menunggu sampai keju hariannya kembali seperti biasanya, dan yang lain memutuskan untuk mencari lebih banyak keju di tempat lain. Beginilah cara buku ini menunjukkan bagaimana menghadapi hal-hal yang akan selalu terjadi dalam hidup, tidak hanya pada tikus yang kelaparan tetapi juga pada kita semua.
Sniff (Endus) dan Scurry (Lacak), dua ekor tikus yang hidup di dalam sebuah labirin yang rumit dan luas. Di sana, di suatu tempat yang terpisah-pisah, terdapat keju-keju lezat dan beraneka ragam, yang selalu diburu oleh kedua tikus ini. Tak hanya mereka, dua kurcaci Hem (Kaku) dan Haw (Aman) juga tinggal di sana dan sama-sama berburu cheese. Setiap pagi, keempat makhluk ini sudah bangun dan bergegas mencari keju di dalam labirin, menyisir lorong demi lorong dan banyak ruangan. Kadang mereka menemukan cheese yang lezat, tapi seringnya pulang dengan tangan hampa.
Suatu ketika, mereka menemukan Station C dengan banyak sekali cheese. Sniff dan Scurry sangat senang dan mulai menggunakan Station C itu sebagai gudang cheese mereka. Begitu juga dengan Hem dan Haw yang menganggap gunung-gunung Cheese tersebut sebagai milik mereka. Bedanya, Sniff dan Scurry selalu memerhatikan perubahan-perubahan yang terjadi di sekitar cheese Station C, sedangkan Hem dan Haw tidak. Hem dan Haw merasa bahwa tempat itu adalah tempat menetap mereka selamanya sehingga mereka tanpa pikir panjang memakan cheese sepuasnya, mengundang teman-teman dan mengadakan pesta cheese. Bagi Sniff dan Scurry yang selalu memerhatikan perubahan-perubahan kecil, mereka tidak pernah berpikir untuk menetap. Mereka tetap mencium dan melacak cheese lain di labirin itu karena mereka sadar kalau cheese di Station C suatu saat akan habis. Perkiraan mereka ternyata tepat. Cheese Station C habis. Yang tersisa di sana hanyalah keju-keju berjamur dan tak layak makan.
Hem dan Haw kebingungan ketika itu terjadi. Meskipun begitu, mereka tetap yakin kalau cheese mereka hanya pindah sementara dan akan kembali lagi. Mereka tak mau bergerak seperti Sniff dan Scurry. Mereka menunggu dan menunggu, sampai akhirnya tubuh mereka lemah karena lapar, barulah kemudian Haw tersadar kalau ia harus bergerak maju mencari cheese lain. Ya, hanya Haw. Sementara itu, Sniff dan Scurry yang sejak awal sudah rajin berburu sekarang sudah menemukan Station N dengan lebih banyak cheese dibanding Station C. Bagaimana dengan Hem?. Apakah ia akhirnya memutuskan mengikuti Haw atau tetap di Station C menunggu cheese-nya kembali?. Lantas berhasilkah Haw menemukan Cheese barunya?.
Sniff, Scurry, Hem dan Haw adalah tokoh imajiner yang menggambarkan sikap-sikap di dalam diri kita masing-masing. Sniff mampu mencium adanya perubahan dengan cepat. Scurry dengan cepat bergegas mengambil tindakan atas perubahan. Haw adalah kurcaci yang baru mulai menyesuaikan diri dengan perubahan bila ternyata perubahan itu mendatangkan sesuatu yang baik bagi dirinya. Sedangkan Hem, ia menolak setiap perubahan karena perubahan akan selalu mendatangkan sesuatu yang buruk. Empat sikap ini selalu ada di dalam setiap diri manusia. (*ykib/amel).
Identitas buku:
Judul buku : Who Moved My Cheese?
Pengarang : Spencer Johnson, M.D.
Penerbit : PT Elex Media Komputindo
ISBN : 978-602-04-8860-8
*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Purwosari

