Istanbul: Kenangan Sebuah Kota

*Oleh Rita Anggraeni, S.S.,M.A.

Buku Istanbul menjadi salah satu karya Orhan Pamuk yang terbit tahun 2015. Orhan Pamuk merupakan novelis terkemuka asal Turki dan menjadi pemenang hadiah Nobel Sastra 2006. Novelis kelahiran 7 Juni 1952 ini merupakan anak laki-laki yang selalu ingin tahu. Ia memulai menulis novel ketika berumur 22 tahun. Pamuk menghasilkan beberapa novel terkenal, di antaranya New Life, The White Castle, My Name is Red, dan Snow. Pada tahun 2003, Pamuk memenangkan International IMPAC Award atas karyanya yang berjudul My Name is Red.

Buku ini merupakan memoar tentang kota kelahiran Pamuk, yaitu Istanbul yang berisi catatan dan kenangan yang dialami olehnya dari masa kecil sampai dewasa. Pamuk berasal dari keluarga kaya, tinggal di apartemen bernama Pamuk yang setiap lantainya dihuni oleh masing-masing keluarga besarnya. Seperti rumah keluarga Istanbul kaya lainnya, rumah keluarga Pamuk dihiasi pernak-pernik dan perabotan bergaya Barat yang tersimpan rapi dan terjaga. Keluarga besar Pamuk hidup rukun dan harmonis. Latar belakang pendidikan keluarganya juga tinggi. Orang tua Pamuk dan saudara-saudaranya belajar keilmuan yang beragam dan bisa dikatakan bergengsi. Ayah Pamuk belajar teknik sipil, sedangkan paman-pamannya belajar ilmu kedokteran di Amerika. Hal ini juga diikuti oleh beberapa saudara yang lain. Ketika berumur lima tahun, Pamuk tinggal bersama Bibi dan Paman di Cihangir, sedangkan Abangnya tinggal bersama Neneknya di apartemen Pamuk. Sementara orang tua mereka memilih tinggal di Paris.

Dahulu Istanbul pernah diramalkan akan menjadi ibu kota dunia ketika Kesultanan Usmani (Ottoman) masih berjaya. Istanbul pernah menjadi rebutan karena kekayaan yang ia miliki dan posisinya yang strategis. Akan tetapi, setelah Kesultanan Usmani ambruk, dunia nyaris lupa bahwa Istanbul itu pernah ada. Keadaan Kota Istanbul sekarang lebih miskin, lebih kumuh, lebih terasing dari sebelumnya. Kejayaan dan kegemilangan Kota Istanbul perlahan memudar dan menjadi kota penuh reruntuhan dan kemurungan pada masa akhir kesultanan. Begitu pun keadaan masyarakat yang hidup dalam kemiskinan dan penderitaan.

Bagi Pamuk, Kota Istanbul adalah kota yang membuatnya selalu ingat akan kenangan masa lalu tentang kehidupannya dan kota kelahiran tercintanya. Pamuk mengakui bahwa dirinya dan Istanbul sudah tidak bisa dipisahkan. Menurutnya, Istanbul adalah takdirnya, karena Istanbul yang telah menjadikan dirinya menjadi seperti sekarang. Pamuk dan Kota Istanbul telah menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain.

Dari sisi religius, Pamuk memaparkan pengalaman masa kecilnya yang masih samar mengenai Tuhan. Ia pernah beranggapan bahwa yang tertarik dan peduli terhadap Tuhan hanya orang-orang miskin. Adapun anak kelas menengah dan dari keluarga kaya tidak tertarik dan memperhatikan agama. Pamuk mengakui secara terbuka bahwa ia dan keluarganya tidak pernah melaksanakan kewajibannya, seperti salat dan puasa. Ia juga mengakui bahwa keluarganya sama seperti keluarga borjuis Barat yang tidak percaya adanya Tuhan. Pamuk mengakui bahwa agama menjadi sesuatu yang asing dan aneh. Agama merupakan masa lalu yang runtuh bersamaan dengan jatuhnya Kesultanan Usmani, dan sekarang digantikan rezim republik sekulerisme yang meninggalkan agama.

Pandangan Pamuk tentang agama perlahan mulai berubah saat ia mulai dewasa. Pada suatu hari, ketika rumah sedang sepi dan ia merasa bosan, Pamuk diajak oleh pembantunya yang taat untuk pergi ke masjid. Inilah pertama kalinya Pamuk ke masjid. Ketika orang-orang sedang melaksanakan salat, ia justru berlari ke sana kemari. Akan tetapi ia heran, karena tidak ada satu pun dari mereka yang memarahinya, bahkan orang-orang tersenyum kepadanya. Hal inilah yang mengubah prasangkanya terhadap agama. Ia menyadari bahwa orang-orang yang beragama tidaklah berbahaya dan sangat menyenangkan. Selain itu, ia semakin terbuka pemikirannya terhadap agama ketika banyak orang-orang beragama yang kaya mulai datang ke Istanbul. Hal inilah yang mengubahnya, bahwa agama tidaklah identik dengan orang-orang miskin.

Pamuk mampu bercerita dengan apik. Ia mampu membuat penceritaan memoar tersebut jauh dari kata membosankan, kendati ia bercerita tentang hal-hal sederhana dan kenangan masa silam kota kelahirannya. Pamuk mampu menghubungkan benda-benda lanskap, penanda kota, bangunan kuno, sungai, rumah, buku-buku, dan jalanan bisu dengan berbagai dongeng, mitos, kisah fantasi, legenda, fakta historis, tragedi kehidupan, sengketa politik, dan kisah-kisah cinta, termasuk kisah cinta pertamanya.

Buku ini bisa dikatakan unik karena berisi memoar dari penulis yang dikaitkan dengan kota tempat kelahirannya. Dengan demikian, kita tidak hanya akan mengetahui memoar penulisnya, tetapi dapat mengetahui memoar sebuah kota besar yang memiliki sejarah besar dan panjang dalam peradaban dunia. Buku ini menarik untuk dibaca karena kita seakan diajak membaca sebuah kumpulan cerita yang mengasyikkan dan seolah menjelajahi Kota Istanbul melalui alur ceritanya. Selain itu, buku ini juga menyiratkan sebuah perenungan yang mendalam tentang hubungan unik antara manusia, ruang, dan waktu. (*ykib/rita).  

Identitas buku:

Judul buku                  : Istanbul: Kenangan Sebuah Kota

                                    Diterjemahkan dari Istanbul : Memories of a City

Penulis buku               : Orhan Pamuk

Penerjemah                 : Rahmani Astuti

ISBN                           : 978-602-290-036-8

Penerbit buku              : Serambi Ilmu Semesta

Kota terbit                  : Jakarta

Tahun terbit                : 2015

Tebal buku                  : 564 + xii halaman

 

*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Cepu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *