*Oleh Silvia Firgiyani Agustina, S.Pd.
Novel Bumi Manusia mengambil latar belakang zaman penjajahan Belanda di Indonesia pada awal abad ke-20 tepatnya di Kota Surabaya, Blora, dan Wonokromo serta beberapa kota lain di provinsi Jawa Timur. Bercerita tentang seorang pemuda keturunan Pribumi Jawa bernama Minke yang bersekolah di H.B.S, sekolah setara SMA yang tidak semua pribumi dapat bersekolah di situ. Minke merupakan anak Bupati Kota Blora, karena itu ia dapat bersekoah di H.B.S. Meskipun bapaknya seorang bupati, namun Minke tidak menganggap darah bangsawannya itu sebagai anugerah. Dia mengkritisi kebiasaan priyayi Jawa yang terlalu mengagung-agungkan kekuasaan, jabatan, atau kedudukan pria atas wanita. Dia lebih suka menggunakan ilmu pengetahuannya untuk memutuskan hal yang baik dan buruk.
Selama menuntut ilmu, Minke banyak bergaul dengan orang-orang campuran Eropa/Belanda. Ia memiliki seorang sahabat seorang pelukis, totok berkebangsaan Perancis bernama Jean Marais. Hidup di tengah-tengah pergaulan orang Eropa, membuat Minke memiliki pandangan yang berbeda dan menjadi pengagum Eropa, pada novel ini Minke mengalami pencarian jati dirinya. Minke juga memiliki teman sekelas bernama Robert Suurhof. Namun temannya ini memiliki karakter yang licik. Pada suatu hari Robert Suurhof menantang Minke untuk menaklukkan hati seorang gadis peranakan Indo-Belanda bernama Annelies Mellema, putri bungsu dari Nyai Ontorosoh dan Herman Mellema.
Nyai Ontorosoh tampil sebagai seorang ibu yang cerdas. Ia mendidik Annelies untuk mengurusi perkebunan dan peternakan serta membantu Nyai mengurus perusahaan sejak kecil. Kakak laki-laki Annelies yakni Robert Mellema memiliki sifat yang sama dengan ayahnya, juga tidak suka melihat keberadaan Pribumi di dalam rumahnya. Awalnya Minke gugup saat berkunjung ke rumah Annelies karena dia hanya seorang Pribumi Jawa sedangkan Annelies adalah gadis peranakan Indo-Belanda. Dia juga ketakutan saat bertemu dengan ibu dari Annelies, yaitu Nyai Ontorosoh atau biasa dipanggil Mama. Ketakutan tersebut berangsur-angsur menghilang karena seringnya Minke berkunjung ke rumah Annelies. Rasa takut Minke kapada Mama berubah menjadi kagum karena kemandirian yang dimiliki oleh Mama. Namun, kunjungan Mink ke rumah Annelies mendatangkan masalah, sebab Ayah dan kakak Annelies menolak kehadiran Minke karena dia seorang Pribumi. Walau Begitu Nyai Ontorosoh selalu membela Minke.
Pertemuan pertama Minke dengan Annelies menimbulkan benih cinta di antara kedua remaja tersebut. Minke yang merupakan seorang terpelajar serta fasih berbahasa Belanda meluluhkan hati Nyai Ontorosoh dan tidak ragu menyetujui hubungan mereka berdua. Namun, hubungan Minke dan Annelies tidak mendapatkan restu dari ayah dan kakaknya. Selain mendapat pertentangan dari ayah dan kakak Annelies, Minke juga mendapat masalah dari Robert Suurhof. Robert Suurhof ternyata juga mencintai Annelies. Dia berusaha dengan berbagai macam cara supaya menyingkirkan Minke. Bahkan Minke terpaksa harus keluar dari sekolah karena isu mengenai hubungannya dengan Mama yang digulirkan oleh Robbert Suurhof. Padahal sesungguhnya, Minke sedang menjalin hubungan dengan Annelies, bukan Mama.
Seiring berjalannya waktu, Annelies semakin bergantung kepada Minke. Pernah suatu saat Annelies jatuh sakit dan memberika surat kepada Minke agar kembali ke rumah Nyai untuk berkunjung bahkan tinggal di rumahnya. Awalnya Minke tidak mau karena stigma buruk dalam masyarakat. Namun, setelah bercerita dengan Jean Marais, pikiran Minke pun terbuka. Akhirnya Minke pun menginap di rumah Annelies. Agar tidak terjadi persepsi buruk oleh masyarakat akhirnya Nyai Ontorosoh meminta Minke untuk menikahi Annelies. Dan akhirnya Minke dengan Annelies pun menikah.
Semua berjalan seperti biasanya sampai persoalan muncul saat sebuah surat datang dari anak kandung Herman Mellema yang bernama Ir. Maurits Mellema (anak sah dari Herman Mellema dengan Amelia Mellema-Hammers) yang berisi kabar bahwa Tuan Herman Mellema meninggal. Maurits mengambil seluruh kekayaan perusahaan di Wonokromo yang selama ini dikelola susah payah oleh Nyai Ontorosoh. Tak hanya itu, ia pun meminta hak asuh dan membawa Annelies ke Belanda. Kasus perkara hak asuh dan kekayaan pun berlanjut di pengadilan. Walau begitu semua orang sudah tahu hasilnya bahwa tak ada pribumi yang akan menang melawan Belanda. Di tengah kasus ini Minke tetap setia menemani dan membantu Nyai Ontorosoh sampai akhirnya ia dikeluarkan dari H.B.S dengan tuduhan membahayakan gadis-gadis sekolah karena ia serumah dengan seorang Nyai (simpanan Belanda).
Tidak cukup itu saja penderitaan yang dialami oleh Minke, ia pun harus melepas kepergian Annelies ke negeri Belanda walau segala cara telah ia lakukan bersama dengan Nyai dan Darsam (pembantu Nyai) yang rela berjaga di depan rumah sehingga kerusuhan pecah dan dimenangkan pihak Belanda. Di akhir perjuangan Minke, Nyai Ontorosoh berkata padanya “Kita telah melawan Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya”.
Kelebihan buku:
- Tokoh memiliki karakter dan ciri khas masing-masing
- Tokoh pendamping juga memiliki peran yang penting dan memiliki makna serta tujuannya masing-masing
- Meskipun halamannya banyak, namun cerita yang dituliskan tidak bertele-tele
- Terdapat banyak kosakata bahasa Belanda, sehingga pembaca dapat juga belajar dan memahami bahasa Belanda
- Terdapat kisah romansa yang menyentuh antara gadis Belanda dengan pemuda Pribumi di masa kolonial Belanda, kisah tersebut tidak dikisahkan secara berlebihan namun sangat elegan.
Kekurangan buku:
- Pemilihan diksi yang terkadang terdengar asing bagi pembaca, diksi yang diambil berasal dari bahasa Belanda sehingga sedikit susah untuk dipahami
- Gambar yang terdapat pada sampul kurang menarik untuk anak remaja
- Bahasa yang dipakai cukup puitis sehingga kurang dimengerti dan kurang digemari oleh kalangan awam.
Tentang penulis:
Pramoedya Ananta Toer adalah seorang kritikus dan tahanan politik pada masa pemerintahan presiden Soeharto. Beliau sempat dibuang ke Pulau Buru karena kritik pedasnya kepada pemerintah. Di Pulau Buru beliau menghabiskan masa pengasingannya dengan menulis. Salah satu karyanya adalah Bumi Manusia, novel pertama dari roman Tetralogi Buru. (*ykib/via).
Identitas buku :
Judul : Bumi Manusia
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara, Jakarta Timur
Sampul : Hijau dan Kuning
Tahun : 2011
Tebal : 551 halaman
*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Padangan

