Senin Bersama Rasulullah

*Oleh Ananda Silviana Putri, S.Kom. 

Buku ini terdiri dari bab-bab singkat  mengkisahkan teladan kita yang agung, kekasih Allah  baginda Muhammad SAW. Pada setiap lembarnya  terdapat motivasi yang mampu meningkatkan semangat beribadah bagi jiwa yang sudah mulai lalai.

Pemuda itu berbisik, “Setidaknya jika aku meninggal sekarang, aku meninggal dalam keadaan sedang menabung untuk memberangkatkan Bapak dan Ibu ke Tanah Suci. Walau hanya lima  ribu rupiah setiap pekan,” ujarnya.

Setidaknya jika aku meninggal sekarang, aku meninggal dalam keadaan sedang berjuang menghafal Al-Qur’an. Walau hanya satu ayat setiap hari.
Iya, aku paham aku memang miskin, lemah, bodoh, nakal, meski begitu aku berharap mudah-mudahan Allah berkenan menerima niat baikku ini, walau tak seberapa.

Terkadang tugas kita bukan sampai pada tujuan, tapi bagaimana kita bisa masih di atas jalan menuju tujuan tersebut. Bukan untuk menjadi hafiz tiga  puluh juz tapi bagaimana agar bisa mati di atas jalan mulia itu. Tugas kita  bukan untuk  menjadi orang paling sholeh di dunia, tapi bagaiman mati dalam kesolehan. Karena menuju baik, itu baik.

Banyak orang  yang mengatakan begitu cinta dengan Rasulullah tapi tidak mengikuti ibadah dan kebiasaan beliau. Bukankah cinta itu dilakukan bukan sekedar diucapkan?

“Barangsiapa yang mengerjakan shalat 12 raka’at (sunnah rawatib) sehari semalam, akan dibangunkan baginya rumah di surga.” (HR. Muslim).

Maka dipikir-pikir jika meninggalkan salat rawatib sama saja diharamkan memiliki rumah di surga?. Rugi sekali.

“Wahai anak Adam, janganlah engkau tinggalkan empat rakaat shalat di awal siang (di waktu Dhuha). Maka itu akan mencukupimu di akhir siang.” (HR. Ahmad).

Maka jika sengaja meninggalkan salat dhuha, sama saja diharamkan mendapatkan kebaikan Allah berupa kecukupan hidup. Miris sekali.

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa mengucapkan subhanallah wabihamdihi seratus kali dalam sehari, ia akan diampuni segala dosanya sekalipun dosanya itu sebanyak buih di laut.” (HR. Muslim dan Tirmidzi). Maka jika bermalas-malasan membaca dzikir  sama saja aku diharamkan pengampunan dosa sebanyak buih lautan. Malang sekali.

Memang benar secara tinjuan ilmu fikih. Meninggalkan sunnah tidak menyebabkan dosa. Tapi secara kedekatan  sungguh kita melewatkan kesempatan yang dekat kepada Allah.

Tepatnya hari Senin menjadi hari yang ditunggu-tunggu, hari Senin adalah hari lahirnya Rasulullah.  Kita harus ikut gembira atas kehadiran Rasulullah dan menjalankan ibadah puasa yang telah disunahkan pada hari Senin dan Kamis. Rasulullah bersabda, “Berbagai amalan dihadapkan (pada Allah) pada hari Senin dan Kamis, maka aku suka jika amalanku dihadapkan sedangkan aku sedang puasa”. (HR. Tirmidzi).

Jika menganggap hari Ahad  adalah hari bermalas-malasan, sungguh nahas nian akhirat kita kelak. Hari Ahad di mana biasanya sekolah/kantor diliburkan. Tapi bukan berarti  ibadah juga diliburkan. Banyak umat Islam  yang menggunakan waktu liburnya berleha-leha seperti   menonton televisi seharian, tidur seharian, main telepon seluler seharian dan lain-lain. Padahal hari Ahad merupakan kesempatan.  Jika pada enam hari sebelumnya kita sibuk berkegiatan hingga tidak sempat mengaji, dhuha tertinggal, tidak sempat ikut kajian, maka hari libur  kesempatan kita membayar semuanya.

Terlalu banyak arus godaan, terlalu sedikit pegangan untuk bertahan. Perubahan, haruslah diusahakan. Digali mati-matian untuk kemudian diikat dengan sekuat-kuatnya kekangan. Perubahan  itu harus bertahap haruslah ada strategi haruslah ada grafik.

Kenapa kita sering dikecewakan?

Agar kita terluka dan meringis kesakitan, lantas berjanji esok lusa  tidak akan melakukan hal yang sama kepada orang lain agar mengerti bahwa sehebat-hebatnya manusia  pasti ada kekurangan yang disembunyikan, pasti ada sudut lemah dalam dirinya. Terkadang kita di kecewakan bukan karena kita pantas dikecewakan. Hanya saja itu cara Allah untuk mendewasakan kita.

Kesimpulan dari buku ini, sebagaimana suasana hati yang kadang bimbang, begitu pula kondisi iman dan takwa seorang hamba.  Ketika hidayah sudah diraih, maka bagian tersulit setelahnya adalah istiqomah. Tapi jika kita terus mengusahakan Insyaallah besok lusa kita akan sampai pada titik dimana semua itu adalah kebutuhan, bukan lagi beban. (*ykib/silvi).

Identitas buku  

Judul buku      : Senin Bersama Rasulullah

Penulis            : Febriawan Jauhari

Penerbit            : Redaksi magenta media

Tahun penerbit  : 2019

Tebal halaman   : 154

*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Padangan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *