Oleh Ananda Silviana Putri, S. Kom.
Bojonegoro – Study tour siswa-siswi Kampung Ilmu di Museum Angkut, Batu – Malang, dan Masjid Cheng Ho, pada hari Minggu, 03 Maret 2024, berlangsung seru. Para siswa belajar sambil mengamati langsung berbagai alat dan kendaraan angkut yang dikoleksi oleh museum di Kota Batu tersebut.
Rombongan siswa, orangtua siswa, dan para guru Kampung Ilmu berangkat dari Bojonegoro pada Minggu pagi dan tiba di Kota Batu pada pukul 08.00 WIB. Mereka langsung disambut dengan hawa dingin dan sejuk Kota Batu yang berada di lereng Gunung Arjuno dan lereng Gunung Panderman tersebut.

Rombongan study tour Kampung Ilmu yang menggunakan dua bus ini berhenti untuk beristirahat, berganti pakaian, dan sarapan di kawasan Royal oleh – oleh khas Batu. Semua siswa dan guru Kampung Ilmu lalu memakai kaus Kampung Ilmu yang berwarna merah bata. Setelah sarapan, mereka berfoto bersama di depan Royal oleh – oleh Khas Batu.

Selanjutnya, rombongan study tour Kampung Ilmu menuju ke Museum Angkut. Cuaca mendung dan hujan tidak menghalangi antusias siswa untuk belajar di Museum Angkut. Siswa, orangtua siswa, dan guru mengantre di loket dan kemudian masuk secara bergiliran. Saat masuk di museum, mereka langsung diperlihatkan dengan deretan mobil klasik di etalase yang sangat menarik dan terawat. Mobil – mobil klasik produksi luar negeri terpajang. Bahkan, ada mobil klasik yang dulu dipakai oleh Presiden pertama RI, Soekarno, juga terpajang dalam kondisi masih sangat bagus. Mobil – mobil kuno rakitan pabrikan Amerika Serikat, Jerman, dan negara – negara Eropa itu pernah dipakai di masa kolonial Belanda, masa pergerakan, hingga masa Orde Lama, dan Orde Baru.

Selain itu, juga ada koleksi sepeda motor klasik buatan pabrikan Jepang. Tidak hanya itu, sepeda ontel yang dulu sering dipakai oleh penduduk Indonesia di masa perjuangan, masa kemerdekaan, dan masa Orde lama juga terpajang dengan rapi dan bagus.

Rombongan siswa study tour lalu melanjutkan melihat koleksi kendaraan angkut di lantai dua. Di tempat ini banyak dipajang alat angkut pada masa dulu yakni gerobak yang menggunakan sapi atau kerbau untuk menariknya. Gerobak angkut itu dipakai untuk mengangkut hasil pertanian. Selain itu juga dipajang berbagai perahu-perahu kuno yang pernah dipakai oleh para nelayan di pesisir pantai di Indonesia.

Di rute selanjutnya para siswa menyaksikan video yang memutar sejarah transportasi di Indonesia dan di dunia. Yang menarik para siswa juga diajak untuk masuk dan menjadi penumpang salah satu pesawat yang dibuat oleh Indonesia. Mereka juga diperbolehkan untuk duduk dan seolah-olah menikmati hidangan yang disediakan di kabin pesawat. Ada pilot dan pramugari yang memandu rombongan siswa di dalam pesawat ini.

Rute selanjutnya, para siswa Kampung Ilmu masuk di kawasan Pecinan, Stasiun Kota Tua Jakarta, kawasan Sunda Kelapa, dan kawasan Eropa. Di setiap kawasan ini siswa seolah diajak merasakan dan menikmati suasana pada masa dulu serta berbagai koleksi kendaraan yang melekat dengan kawasan itu.

Menurut Ketua Panitia Study Tour Kampung Ilmu, Tsamrotul Ulum, S.P., para siswa diajak untuk belajar dengan menyaksikan dan mengamati langsung berbagai alat angkut, kendaraan angkut, dan moda transportasi dunia yang menjadi koleksi Museum Angkut ini.
“Study tour ini mengajak siswa belajar secara menyenangkan di luar kelas, yakni belajar berbagai alat angkut dan kendaraan angkut yang menjadi koleksi Museum Angkut,” ujar guru Kampung Ilmu Purwosari ini.

Selain itu, kata dia, study tour ini juga mengajak orangtua siswa untuk ikut mendampingi putra-putrinya selama menjelajah kawasan di museum terbesar di Kota Batu ini. Tidak hanya itu, di kawasan ini juga ada pasar apung yang menyediakan berbagai menu makanan dan minuman untuk dinikmati dan bersantai setelah berkeliling museum.

Naila, salah satu siswi kelas 6 Kampung Ilmu Purwosari, mengaku sangat senang bisa mengikuti study tour ini. “Saya bisa belajar banyak tentang alat angkut dan transportasi dunia. Sangat seru belajar di museum ini,” ujarnya.
Menurut Iza, siswi kelas 5 Kampung Ilmu Kalitidu, mengaku sangat terkesan dengan study tour di museum ini. Sebab, kata dia, baru kali ini ia melihat ada ribuan koleksi alat angkut yang dipajang di dalam museum.
“Seru sekali dan bisa banyak belajar tentang kendaraan angkut di dunia,” ujarnya.
Sementara itu menurut Filio, siswa kelas 4 Kampung Ilmu Padangan, mengaku sangat menikmati perjalanan selama study tour ini dan banyak belajar. “Saya ingin nanti kalau ada study tour lagi saya ingin ikut,” ujarnya.
Selama empat jam siswa Kampung Ilmu berada di Museum Angkut ini. Setelah merasa sudah cukup dan waktu menunjukkan pukul empat sore, rombongan study tour melanjutkan perjalanan ke tempat oleh – oleh dan sekaligus untuk salat dan makan. Selanjutnya, rombongan melanjutkan perjalanan ke Masjid Cheng Ho dan sekaligus berbelanja oleh-oleh di kawasan itu. Setelah itu, rombongan melanjutkan perjalanan pulang dan sampai di Bojonegoro pukul 24.00 WIB. (*/silvi).

