Anak Semua Bangsa

Oleh Listiowati

Novel karya Pramoedya Ananta Toer berjudul “Anak Semua Bangsa” ini merupakan lanjutan dari novel sebelumnya yaitu “Bumi Manusia”. Novel ini adalah bagian dari tetralogi Buru karya Pram, sapaan Pramoedya Ananta Toer. Buku ini bercerita tentang kelanjutan kisah Minke dan penderitaan rakyat Indonesia di bawah kekuasaan pemerintahan Belanda yang jahat dan rakus akan kekuasaan.

Pada bagian awal novel ini menceritakan Minke yang kehilangan istrinya, Annelies Mellema di Nederland untuk selama-lamanya karena sakit. Berita kematian istrinya itu ia dapat melalui surat-surat yang dikirim dari sahabatnya bernama Panji Darman alias Robert Jan Dapperste. Mama dan Minke berduka atas kepergian Annelies. Setelah itu hubungan mereka menjadi dekat. Mereka saling mendukung dan menguatkan untuk lepas dari duka cita tersebut. Mama semakin menyayangi Minke.

Kehidupan Minke kemudian berlanjut tanpa Annelis. Ia kembali melakukan aktivitas sehari-hari dengan membaca buku, koran, menulis dan mengarang juga membantu perusahaan Mama. Ia menaruh perhatian pada bangsa Jepang yang memperoleh kehormatan internasional begitu tinggi di antara bangsa-bangsa termaju di dunia. Yang diakui sama sedarajatnya dengan Eropa.

Suatu hari sahabatnya orang Prancis bernama Jean Marais menyarankannya untuk menulis dalam Bahasa Melayu, Bahasa bangsanya sendiri.  Dengan maksud biar pribumi bisa tahu dan jadi terpelajar. Tapi, justru itu malah disalahpahimi oleh Minke.  Ia merasa direndahkan oleh sahabatnya sendiri karena disuruh menulis Bahasa Melayu. Menurutnya menulis Bahasa Melayu akan membuat tulisannya tidak dibaca  dan hanya orang yang kurang atau tidak berpendidikan saja  yang membaca dengan bahasa Melayu. Mereka kemudian bertengkar, tapi pada akhirnya bisa berbaikan karena Maysaroh, anaknya Jean Marais.

Minke kemudian dipertemukan  dengan anak muda berkebangsaan Tionghoa bernama Khouw Ah Soe di kantor Nijman. Rupanya  pemuda  itu yang dimaksud untuk diinterview dan  mencatat hasilnya menggunakan Bahasa Inggris. Beberapa hari setelah tulisannya terbit, ia terkejut karena isinya tidak sesuai denga apa yang ia tulis ketika wawancara. Mama kemudian menasihatinya utuk jangan sentimen. Minke menanyakan bagaimana orang bisa berbohong di koran.

Pada suatu malam kemudian pemuda itu datang untuk meminta perlindungan dan bantuan kepada Nyai Ontosoroh (Mama) dan Minke. Mereka membantunya ketika itu pula Minke banyak mengobrol dengan Khouw Ah Soe tentang banyak hal. Tentang pelariannya dari negerinya sendiri dan berita tentang Filipina. Ia banyak belajar dan tahu. Tapi pada akhirnya pemuda Cina itu mati dibunuh.

Minke kemudian bertemu dengan Kommer yang pemikirannya luar biasa. Ia juga memanas-manasi Minke untuk menulis dengan bahasa Melayu.

“Takkan lama, Tuan Minke. Sekali Tuan mulai menulis melayu Tuan akan cepat dapat menemukan kunci. Bahwa Tuan mahir berbahasa Belanda memang mengagumkan. Tetapi bahwa tuan menulis Melayu bahasa negeri Tuan sendiri, itulah tanda kecintaan Tuan pada negeri dan bangsa sendiri”.

Kommer itu bahkan mengatakan bahwa Minke  tidak mengenal bangsanya sendiri. Cerita berlanjut ketika Minke dan Nyai Ontosoroh berangkat ke Sidoarjo  daerah Tulangan yang merupakan kampung halaman Nyai Ontosoroh. Mereka berangkat naik kereta bersama Kommer. Tujuannya adalah ke rumah Sastro Kassier alias Paiman, kakaknya Nyai. Pengalaman di Tulangan inilah membuat Minke mulai belajar mengenal bangsanya sendiri. Melalui persoalan pribumi dengan Eropa.

Di sana dia menulis kisah tentang Surati anak Sastro Kassier yang terpaksa harus menikah dengan Tuan Administratur bernama Plikemboh. Perempuan itu sampai rela terkena penyakit cacar demi membunuh Plikemboh dan supaya tidak ada lagi korban dari kejahatan Tuan Eropa itu. Tak hanya itu Minke juga belajar mengenal bangsanya sendiri dengan turun ke pedalaman kampung dan bertemu dengan seorang petani bernama Trunodongso. Petani yang mendapat ketidakadilan atas kerakusan orang Eropa yang merebut lahannya dengan adanya pabrik gula. Sampai-sampai ia harus menginap di rumah petani tersebut dan merasakan hidup seperti Trunodongso dan keluarganya.

Sepulang dari Tulangan ia kembali ke Surabaya dan berniat menerbitkan tulisannya tentang Surati dan Trunodongso ke Nijman. Akan tetapi  Nijman malah menuduh tulisannya hanya khayalan dan tulisannya ditolak. Minke kemudian sadar bahwa Koran Nijman itu koran gula. Dibiayai oleh pabrik gula.

Suatu kali kemudian Minke memutuskan untuk pergi dari rumah Nyai Ontosoroh naik kapal. Di sana dia bertemu dengan Ter Haar, seorang Belanda. Di atas kapal Minke berbicara banyak tentang modal dan tujuan penjajahan Eropa.

Pada akhirnya Minke malah kembali ke rumah Nyai. Dan pada bagian cerita akhir dari novel ini adalah yang paling saya sukai. Mengagumkan bagaimana ketika mereka, Minke, Kommer juga Jean membantu Mama (Nyai Ontosoroh) melawan Ir Maurist Mellema meski hanya dengan kata-kata. Tapi setiap kata atau opini yang dilontarkan dari setiap tokoh sungguh mengagumkan.

“Semua yang terjadi di bawah kolong langit adalah urusan setiap orang yang berpikir”.

Membaca novel ini akan menemukan banyak pelajaran dan pemikiran yang luar biasa dari setiap tokohnya. (*/ykib).

Identitas buku :

Judul Novel: Anak Semua Bangsa

Penulis: Pramoedya Ananta Toer

Penerbit: Lentera Dipantara

Hal Buku: 539.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *