Pengantin Surga

Oleh Arum Nila Nadiya, S.Pd.

Qays adalah seorang anak yang diimpikan sudah lama oleh Raja Arabia yang berkuasa di Tanah Arab. Pengantin Surga, yang naskah aslinya berjudul The Story of  Layli and Majnun adalah cinta klasik turun temurun yang dikisahkan di tanah Arab sejak masa Dinasti Umayyah berkuasa.

Diceritakan seorang penguasa Badui bernama Syed Omri yang sangat kaya dan dermawan dia berkuasa atas Bani Amir. Ia memiliki seorang putra yang telah lama dinantinya. Anak itu bernama Qays. Qays tumbuh menjadi anak yang rupawan dan menjadi salah satu murid terbaik di sekolah bangsawannya. Qays pun cepat menguasai seni baca tulis. Apapun yang keluar dari mulutnya bak mutiara indah didengar.

Suatu hari sekolah itu kedatangan murid baru, seorang perempuan yang jelita. Kecantikannya memabukkan bagi siapapun yang melihatnya, tak terkecuali Qays.

Qays dan Layla-nama anak perempuan itu-kemudian saling tertarik.  Kedekatan mereka kemudian diketahui oleh guru, teman dan orang tua Layla. Orang tua Layla membawa gadis itu pulang ke rumah dan mengurungnya. Sejak itu Qays tidak dapat lagi bertemu dan melihat Layla. Qays menjadi gila oleh karena kerinduan dan cintanya pada Layla. Sementara Layla hanya memendam kesedihannya sendiri.

Hidup Qays menjadi tidak karu-karuan. Ia larut dalam pemujaannya terhadap kekasih hatinya. Ia melantunkan syair-syair cinta dan kerinduan untuk Layla. Syair-syair indah itu membuat siapapun yang mendengarnya begitu tersentuh. Mereka mencerap dalam-dalam dan mendendangkannya kembali. Tak jarang dari mereka kemudian menjadi pecinta.

Qays tak lagi peduli pada sekitarnya. Segenap jiwa dan hatinya hanya dipenuhi oleh Layla seorang. Karena itu kemudian orang-orang memanggilnya dengan Majnun (dalam bahasa arab artinya gila). Segala upaya ayah, keluarga, dan teman-temannya agar Qays melupakan Layla tidak berhasil. Sebaliknya, cintanya semakin kuat. Ia bahkan tidak menghiraukan kesedihan dirinya sendiri.

“Seorang manusia yang dilanda cinta tak akan mencemaskan hidupnya. Manusia yang mencari kekasihnya tak akan jera dengan dunia sama sekali. Di manakah pedang itu? Biarlah pedang itu melukaiku sebagaimana awan menelan rembulanku. Jiwaku telah jatuh ke dalam pelukan api. Sekalipun harus sakit terbakar di dalamnya, aku tidaklah memedulikannya.” (hal 55).

Kedua sejoli itu bercakap dengan alam. Syair-syair Qays untuk Layla didendangkan oleh banyak orang. Layla mendengar syair-syair itu dan mengirimkan balasan melalui carik-carik kertas yang ia tulis dan membiarkan angin menyampaikannya untuk Qays.

“Aku tetap milikmu, betapapun jauh dirimu!
Deritamu, bila kau bersedih, juga akan menyedihkanku.
Tiada tiupan angin yang tak menghantarkan bau tubuhmu.
Semua burung seperti memanggil-manggil namamu.
Setiap kenangan yang meninggalkan jejaknya bersamaku,
Bertahan selamanya, seakan menjadi bagian dari diriku.” (hal 102).

Waktu berlalu dan Layla kemudian dinikahkan dengan Ibnu Salam. Namun sampai akhir hayatnya, Layla tetap setia kepada Qays. Sementara itu Qays kehilangan unsur kemanusiaan dalam dirinya. Ia berkawan dengan binatang-binatang. Mereka pun menjaga dan melindunginya. Jiwa Qays sepenuhnya lebur ke dalam bayang-bayang kekasihnya.

“Bila kau tahu hakikat seorang pecinta, kau akan menyadari bahwa ketunggalan harus meniadakan dirinya, untuk musnah ke dalam pelukan kekasihnya.” (hal 146)

Kelebihan novel ini :  

Dalam novel ini terdapat banyak puisi sehingga dapat menjadi daya tarik bagi pembacanya. Selain menceritakan kisah cinta novel ini juga menceritak tentang kisah kekeluargaan.

Kekurangan novel ini :

Novel ini pada dasarnya tidak cocok untuk dibaca kalangan di bawah umur cinta tentang Layla dan Majnun.

Identitas buku :

Judul asli              : The Story of Layli and Majnun

Penulis                 : Nizami Ganjavi

Penerbit              : Dolphin

Tebal                     : 250 halaman

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *