*Oleh Rita Anggraeni, S.S.,M.A.
Buku Ceria Ramadan di 5 Benua dan 25 Negara ini ditulis oleh Wulan Mulya P, Efa Refnita, Dian Akbas, dkk. Beberapa penulis ada yang bermukim di negara tersebut karena alasan studi, pekerjaan, dan mengikuti suami. Beberapa penulis dalam buku ini melakukan riset yang cukup mendalam mengenai kondisi negara yang mereka tulis. Dengan demikian, cerita-cerita yang disajikan menjadi lebih hidup karena digambarkan dalam kondisi yang sesungguhnya.
Buku ini merupakan kumpulan dari 25 cerita pendek tentang pengalaman anak-anak Muslim yang menjalankan ibadah puasa dengan latar tempat dari 5 benua yang berbeda (Asia, Afrika, Eropa, Amerika, dan Australia) dan 25 negara (Indonesia, Malaysia, Arab Saudi, Dubai, Taiwan, China, Jepang, Australia, New Zealand, Argentina, Belanda, Finlandia, Inggris, Irlandia, Italia, Norwegia, Republik Ceko, Rusia, Swedia, Spanyol, Turki, Afrika Selatan, Mauritania, Amerika Serikat, dan Kanada). Setiap cerita dalam buku ini berisi tentang tradisi unik di bulan puasa dari tiap negara, makanan khas ketika berbuka puasa dan sahur, lama waktu puasa, bagaimana cuaca/iklim ketika bulan puasa, dan tips sukses puasa dari masing-masing negara.
Bulan Ramadan adalah bulan yang dinanti-nantikan kedatangannya oleh seluruh umat Muslim di dunia. Meskipun ibadah wajibnya sama, yaitu berpuasa, tetapi perbedaan letak geografis dan budaya setempat membuat ibadah puasa memiliki tantangan tersendiri bagi umat di tiap negara, khususnya anak-anak Muslim yang baru belajar menjalankan ibadah puasa. Hal ini seperti yang dialami oleh Hafidz dalam cerita Misteri di Subuh Ramadan yang ditulis oleh Wulan Mulya Pratiwi. Hafidz adalah anak Muslim Indonesia yang baru pertama kali menjalankan puasa Ramadan di usia 6 tahun. Pada hari pertama Hafidz belajar berpuasa, ia pun masih sulit untuk bangun sahur. Akan tetapi, ayah, ibu, dan Kak Hanifa mencoba untuk menyemangati Hafidz dalam menjalankan puasa pertama kalinya. Mereka pun tidak lupa memberitahu Hafidz bahwa sahur mempunyai banyak keutamaan, salah satunya adalah mendapat keberkahan dari Allah, begitu pun ketika berbuka puasa. Dengan demikian, membuat Hafidz menjadi semangat hingga mampu menyelesaikan puasanya.
Setelah melewati hari ketiga puasa Ramadan, selama ini Hafidz memendam sesuatu di dalam hatinya. Akan tetapi, Hafidz masih ragu untuk bertanya kepada ayah dan ibu, apalagi Kak Hanifah. Semenjak Ramadan datang, Hafidz selalu mendengar bunyi kentongan di malam hari. Ketika Hafidz memberanikan diri mengintip ke jendela, tetapi tidak ditemukan siapapun dan justru membuatnya semakin takut. Selain itu, ketika Hafidz mencuci muka untuk makan sahur, ia selalu mencium bau wewangian, seperti bau bunga kamboja yang tumbuh di kuburan. Akhirnya, Hafidz mengetahui bahwa bunyi kentongan itu sengaja dibunyikan oleh penduduk kampung belakang dengan tujuan membangunkan orang-orang untuk makan sahur. Ini merupakan tradisi kekeluargaan untuk saling mengingatkan yang selalu dijalankan selama bulan Ramadan. Adapun untuk bau wewangian itu berasal dari tradisi yang dilakukan oleh Kak Hanifah atau dikenal dengan nama Balimau. Balimau merupakan salah satu tradisi adat Minang, Nak, yaitu membersihkan diri dengan campuran bunga melati, mawar, kamboja, dan jeruk nipis. Tujuan tradisi ini adalah agar selalu bersih selama bulan Ramadan.
Cerita lain berasal dari kisah Malikha dalam cerita Ramadan Malikha di Makkah (Arab Saudi) karya Dian Ikha Pramayanti. Malikha sangat senang dan selalu menunggu kedatangan bulan Ramadan, apalagi ketika membayangkan banyaknya hidangan khas yang selalu tersedia ketika berbuka puasa di Arab Saudia yang sangat beragam, di antaranya adalah nasi mandhi, asir khamarudin, legemat manis, dan sambosa. Dua tahun yang lalu, Malikha sangat senang bisa menjalankan puasa Ramadan di Tanah Suci ketika ia masih berusia sembilan tahun. Pada tahun ini, ia berharap bisa kembali ke Tanah Suci dan menjalankan puasa sebulan penuh. Meskipun cuaca di sana cukup panas dan menyengat hingga suhu 40-45 derajat celcius dan waktu puasa yang bisa mencapai 15 jam, tetapi tidak menyurutkan niat Malikha untuk tetap berpuasa di Tanah Suci.
Di Arab Saudi, khususnya Makkah terdapat tradisi unik, yaitu ketika tiba waktu berbuka puasa, bersamaan dengan azan Magrib berkumandang di Masjidil Haram, terdengar suara menggelegar. Suara itu berasal dari meriam yang diletakkan di sebuah gunung sebelah timur Masjidil Haram atau Jabal Midfa atau gunung Meriam. Dentuman meriam ini menjadi tradisi khas Makkah setiap bulan Ramadan.
Masjidil Haram adalah salah satu tempat paling ramai ketika Ramadan. Umat Islam di seluruh dunia banyak berkumpul di sana. Di Masjidil Haram ketika berbuka puasa, terdapat larangan membawa makanan berat seperti nasi. Hal ini dikarenakan, biasanya di masjid sudah dibuatkan shaf-shaf yang diberi tatakan plastik, lalu dibagikan yogurt, kurma, roti, air zam-zam, dan lain-lain. Meskipun banyak makanan yang telah disediakan, tetapi jamaah di Masjidil Haram sangat disiplin. Ketika akan dimulai salat Magrib, shaf-shaf tatakan plastik sudah dibersihkan dengan rapi dan tidak terlihat sama sekali di barisan tempat salat.
Adapun tradisi orang Arab ketika makan sahur adalah dengan makan nasi Khusri, yaitu nasi yang dimasak dengan kacang hijau atau bisa juga nasi yang disiram dengan yogurt. Menurut kebiasaan orang Arab, nasi kacang hijau yang disiram yogurt dapat membantu menjaga pencernaan agar perut tidak panas setelah seharian menjalankan ibadah puasa. Selain itu dilengkapi dengan beberapa butir kurma muda, roti lamis, dan laban.
Adapun cerita dengan latar benua Amerika ditulis oleh Dian Restu Agustina dalam cerita yang berjudul Tak Ada Libur hari raya di Amerika. Maher adalah anak Muslim yang tinggal di Amerika. Meskipun ia baru kelas 3 SD, Maher sudah terbiasa bangun pagi sendiri, begitu pun saat sahur pada bulan Ramadan. Maher sadar bahwa ia tidak akan mendengar seruan sahur atau pun azan berkumandang di kota tempat tinggalnya saat ini. Agama Islam memang bukanlah agama sebagian besar penduduk Amerika. Meskipun demikian, Maher merasa lega karena di sekolah ia tidak berpuasa sendirian. Ia ditemani oleh tujuh teman yang lain, sehingga ia menjadi lebih semangat untuk menjalankan puasa. Ketika berbuka puasa Maher bersama keluarganya pergi ke Masjid Abu Bakar al Siddique yang berada di wilayah Kenner. Masjid terletak berdekatan dengan beberapa tempat ibadah agama lain. Meskipun berbeda-beda keyakinan, tetapi masyarakat di sana hidup rukun dan saling menghargai satu sama lain.
Buku ini sangat cocok dibaca oleh anak-anak, khususnya yang ingin belajar berpuasa di usia belia. Buku ini semakin menarik karena dilengkapi dengan gambar berwarna yang sangat disukai anak-anak. Buku ini memberikan pelajaran yang sangat berharga melalui tiap bagian cerita yang ditulis oleh para penulis. Oleh karena itu, buku ini dapat dijadikan sebagai acuan dan motivasi anak-anak Muslim di Indonesia dalam menjalani ibadah di bulan Ramadan seperti halnya teman-teman Muslim yang ada di benua lainnya.
Setiap kata dalam cerita disuguhkan dengan bahasa yang sangat ringan dan mudah dipahami oleh semua kalangan. Buku ini tidak hanya memberikan pengetahuan tentang kegiatan ibadah selama bulan Ramadan di berbagai negara, tetapi juga dilengkapi dengan pengetahuan kebudayaan dan kebiasaan penduduk setempat. Bahkan, di beberapa cerita dicantumkan juga bagaimana sejarah Islam bisa tumbuh dan berkembang di negara-negara tersebut. Oleh karena itu, buku ini sangat kaya informasi dan pengetahuan yang belum banyak diketahui oleh anak-anak Indonesia. (*/ykib)
Identitas buku:
Judul Buku : Ceria Ramadhan di 5 Benua-25 Negara
Pengarang : Wulan Mulya P, Efa Refnita, Dian Akbas, dkk
Penerbit : Ziyad Books, Surakarta
Tahun Terbit : 2018
Tebal Halaman: 306 halaman
ISBN : 978-602-317-440-9
*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Padangan

