Putri Pandan Berduri

*Oleh Tsamrotul Ulum, S.P.

Buku seri legenda Nusantara yang ditulis oleh G. Wu (Gatot Wuryadi) dan hak cipta dari PT PGN Persero Tbk merupakan buku yang menceritakan tentang legenda Nusantara dari berbagai provinsi yang ada di Indonesia. Buku ini diterbitkan sebagai wujud komitmen (PGN) terhadap kemajuan dunia pendidikan. Buku ini disajikan sebanyak 33 judul yang diambil dari 33 provinsi yang ada di Indonesia. Buku ini dibuat dalam bentuk cerita bergambar dan penuh warna agar menarik minat baca anak-anak sehingga lebih mudah dalam mempelajari dan memahami budaya dan legenda Indonesia.

Pada kesempatan kali ini, penulis akan meresensi cerita dari provinsi Kepulauan Riau yang berjudul “Putri Pandan Berduri”. Kepulauan Riau terkenal dengan floranya yaitu pinang merah dan faunanya yaitu harimau Sumatera. Selain itu Kepulauan Riau juga terkenal dengan hasil hutannya yaitu kayu, karet, kopi dan cassanova. Ada pun beberapa suku yang mendiami daerah ini adalah suku Kubu, Melayu, Kerinci, Banjau, Batin, Penghulu dan Suku Laut.

Alkisah, di Pulau Bintan ada orang Sampan orang suku Laut yang bermukim dan dipimpin oleh ketua suku yang bernama Batin Lagoi. Beliau dan sang istri belum dikaruniai seorang anak. Tetapi Batin Lagoi sangat peduli kepada rakyatnya sehingga beliau begitu dihormati dan dicintai rakyat.

Pada suatu hari ketika Batin Lagoi melihat pemandangan di bibir pantai, terdengarlah suara tangisan bayi. Beliau mencarinya, ternyata bayi itu ada di semak belukar. Bayi perempuan dengan paras yang cantik itu pun akhirnya dibawa pulang untuk dijadikan anak angkatnya, karena tidak ada seorang pun yang berada di pantai itu, entah darimana asal bayi itu, entah sengaja dibuang atau bagaimana tidak ada yang tahu. Sesampainya di rumah, istri Batin Lagoi merasa sangat senang dengan bayi itu dan akhirnya diberi nama Pandan Berduri.

Pandan tumbuh menjadi remaja yang cantik jelita, berbudi baik dan penuh kasih sayang. Tak heran jika Pandan menjadi primadona di kampungnya. Semua pemuda berharap dapat meminangnya, tetapi ternyata Batin Lagoi mempunyai niat untuk menikahkan Pandan dengan seorang megat (salah satu orang bergelar bangsawan).

Sementara itu di Pulau Galang, tinggalah seorang megat yang baik hati bersama kedua anak laki-lakinya yaitu Julela dan adiknya Jenang Perkasa. Karena Julela adalah anak sulung maka dia yang akan menggantikan posisi ayahnya sebagai seorang Batin (Ketua Suku). Ternyata hal tersebut membuat Julela berubah drastis, kini ia menjadi orang yang arogan dan berperilaku semena-mena bahkan terhadap adiknya sendiri, Jenang Perkasa. Karena tidak tahan dengan kelakuan kakanya, Jenang akhirnya memilih pergi meninggalkan pulau tersebut.

Jenang Perkasa memilih untuk tinggal di Pulau Bintan, di rumah kenalan ayahnya. Di sana ia diterima dengan baik oleh warga karena budi pekertinya yang baik dan suka menolong. Mendengar hal tersebut, Batin Lagoi tertarik untuk mengundangnya ke  jamuan makan suku Bintan nanti malam agar dapat mengenalnya lebih dekat. Saat acara perjamuan semua rakyat berkumpul dan makan bersama, termasuk Jenang Perkasa juga hadir di sana. Saat acara berlangsung pun, Jenang Perkasa selalu menunjukkan sikapnya yang penyayang dan baik hati. Hal ini membuat Batin Lagoi semakin tertarik dan menyukai pemuda ini, akhirnya Batin Lagoi meminta Jenang untuk menjadi menantunya. Dengan segala kerendahan hati Jenang pun menerima Pandan menjadi istrinya. Seminggu kemudian, pesta pernikahan antara Pandan Berduri dan Jenang Perkasa dilangsungkan dengan sangat meriah, aneka makanan dan minuman dihidangkan. Tari-tarian juga dipergelarkan untuk menghibur para tamu undangan.

Setelah sah menjadi suami dari Pandan, Jenang pun diangkat menjadi Batin di Pulau tersebut, untuk menggantikan ayah mertuanya yaitu Batin Lagoi. Jenang memimpin rakyatnya dengan adil, suka menolong, dan bijaksana sehingga dia dicintai dan dihormati oleh rakyatnya. Jenang dan Pandan dikarunia 3 anak laki-laki yang bernama Mantang, Mapoi dan Kelong. Saat beranjak dewasa, ketiga anak Pandan dan Jenang diangkat menjadi Batin dan memimpin suku-sukunya untuk berhijrah ke daerah lain. Akhirnya Pandan dan Jenang meninggal dunia, tetapi karena anak cucu meraka banyak, sehingga adat kesukuan terus berlanjut dan menjadi suku terbesar di Pulau Bintan. (*/ykib).

Kelebihan buku:

  1. Ceritanya sangat menarik dan edukatif. Sehingga cocok untuk pendidikan karakter anak-anak.
  2. Disertai dengan gambar-gambar yang menarik, alur yang mudah dipahami dan bahasa yang ringan. Disertai tentang informasi daerah dari legenda tersebut berasal.
  3. Ada beberapa pesan moral yang sangat baik yaitu:
  1. Pemimpin yang arif, suka menolong rakyatnya dan bijaksana akan dihormati dan dicintai oleh rakyatnya.
  2. Ketika kita berbuat baik kepada orang lain, maka orang lain juga akan membalas perbuatan baik pada kita.
  3. Kesabaran dan kerja keras akan membuahkan hasil manis.

Kelemahan Buku:

Pada cerita, gambar penokohan orang-orangnya memiliki wajah yang hampir sama, sehingga butuh ketelitian untuk membedakan antar tokoh.

Identitas Buku

Judul               : Seri Legenda Nusantara “PUTRI PANDAN BERDURI”

Penulis             : G. Wu

Editor              : Kum Soe, Soebagiono, Khum, Talha, Andie.

Penerbit           : Balai Pustaka

Tahun Dicetak : 2016 (cetakan kedua, Desember 2016)

Hak Cipta        : PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk

ISBN               : 979-690-756-9

EAN                : 978-979-690-756-4

*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Purwosari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *