Retno Si Cabe Rawit

*Oleh Ainun Dyan Suttie P, S.Pd.

Buku ini menceritakan tentang perjalanan seorang anak yang bernama Retno, dia naik kelas 6. Dia anak dari pak Wigyo  dan ibu Nurul.  Mereka tiga bersaudara,  anak pertama bernama  Retno, anak kedua bernama Dewi dan yang terakhir bernama Vitri.

Pada  liburan kenaikan kelas, Retno dan Dewi  di  minta Bude  Sinah  yang merupakan kakak  dari ayahnya untuk  berkunjung ke Surabaya.  Karena Bude Sinah  sibuk  sehingga  tidak  bisa  mengunjungi  keponakannya  tersebut.

Untuk  mendapatkan izin dari ayahnya  Retno  diberikan tantangan  kalau  nilainya bagus pada rapor  kenaikan kelas  nanti,  ia dan  Dewi  boleh  berlibur ke ruma Bude Sinah. Mereka sangat senang  dan antusias  sekali.  Mereka membuktikan bahwa nilai mereka sangat memuaskan sehingga izin dari ayahnya pun mereka dapatkan.

Tepat pada liburan pertama Retno dan Dewi  melakukan perjalanan menuju rumah Bude Sinah yang ada di Surabaya hanya berdua saja karena orang tua mereka yang bekerja tidak bisa mengantarkan sampai  ke Surabaya.

Mereka diantar  ayahnya  menuju tempat  pemberhentian mobil angkutan pedesaan yang terletak di depan pasar. Kebetulan tidak terlalu lama mereka menanti mobil datang dan berjalan menuju terminal kota yang jaraknya lebih 20 kilometer.

Tidak sampai 30 menit mobil tersebut sampai di terminal. Retno  dan  Dewi  turun dan menunggu bus yang akan mengantar mereka ke Surabaya.  Retno  sudah berada di bus antar kota,  ia memilih tempat duduk agak ke depan agar bisa melihat pemandangan dengan leluasa. Pukul 10.07 WIB bus memasuki Terminal Bungurasih yang sukunya Terminal Jayabaya.

Mereka menunggu Mas Nano, anak dari  Bude  Sinah.  Sempat merasakan kekhawatiran kalau Mas Nano  tidak  menjemput mereka.  Mereka akan ke mana  mencari  rumah  Bude  Sinah.  Bude  Sinah  adalah  seorang janda  yang  memiliki  seorang anak lelaki. Suami  Bude  Sinah meninggal  karena  kecelakaan.

Pernikahan  Bude  Sinah  tidak  direstui  oleh  Kakek  Retno  karena tidak  sesuai  kriteria  beliau. Bude  Sinah  dianggap  anak  tidak tahu  diri  karena tidak  mau  menikah  dengan pilihan orang tua  makanya  jadi  terkena musibah.

Merasa selalu  disudutkan  dan  dianggap menumpang di rumah  orang tua,  semenjak kematian suaminya  Bude Sinah memutuskan bekerja di Surabaya dan menitipkan Mas Nano  di rumah  Nenek. Bekerja sebagai  pembantu rumah tangga dan setiap bulannya mengirimkan uang untuk keperluan Mas Nano. Hingga akhirnya Bude Sinah bekerja di sebuah  pabrik  makanan  yang  ramai  sekali.  Karena sudah memiliki  keahlian dan langganan Bude Sinah memutuskan untuk keluar bekerja dan memulai usahanya  sendiri dengan modalnya sendiri dari  hasil menabung sehingga  bisa sukses dan memiliki rumah,  mobil dan beberapa karyawan seperti saat ini.

Sesampainya di rumah Bude Sinah, Retno  dan Dewi  sangat senang  bisa  melepas kerinduan  kepada Bude. Mereka  bercerita,  menonton televisi dan makan bersama. Hingga akhirnya Bude Sinah berucap  akan  memberikan sesuatu yang berharga untuk keponakannya.  Besok mereka akan diajak jalan-jalan membeli sesuatu tersebut.

Retno  mengajak  Mas Nano, Dewi dan Bude Sinah untuk mengunjungi Kebun Binatang Surabaya.  Setelah dari sana mereka mampir ke toko perhiasan untuk membeli  kalung.  Setelah melakukan pembayaran ternyata toko  emas tersebut ditodong beberapa perampok yang menggunakan pistol.  Kami semua yang ada di toko sangat ketakutan.  Semua perhiasan dan uang dibawa oleh perampok tersebut.

Namun ketika perampok itu hendak lari membawa semua barang hasil rampokannya,  salah satu perampok tersebut secara tidak sengaja bertatap mata  dengan Retno  dan  Dewi. Mereka berdua merasa mengenali  sorot mata tersebut namun belum tahu siapa perampok itu.

Setelah perampok  hilang dari pandangannya,  Bude Sinah dan Mas Nano  mengajak  Retno  dan Dewi untuk pulang ke ruma karena merasa syok atas kejadian yang mereka alami.  Tidak memungkiri bahwa  kejadian perampokan di Surabaya memang sangat banyak dan sudah merajalela. Beberapa hari kemudian Retno  dan Dewi  memutuskan untuk izin pulang ke desa meskipun liburan belum selesai.  Mereka sudah merindukan suasana desa tercinta dan keluarga.

Retno  dan Dewi  diantar Mas Nano  ke  Stasiun Gubeng  dan ingin pulang dengan menaiki  kereta api. Ketika mereka menaiki gerbong kereta secara tidak sengaja mereka melihat sesosok pria sama yang menurutnya  ia adalah pria komplotan perampok ketika di toko emas. Dengan hati cemas Retno  mengajak  Dewi pindah tempat duduk agar tidak dekat dengan lelaki tersebut.

Ingatan  demi  ingatan kejadian perampokan tersebut terbuang di pikiran Retno,  ia ingat juga oleh sorot mata yang  kemarin sempat beradu dengannya.  Sorot mata tersebut mirip dengan suami tetangganya yaitu Pak Edi Durjana.

Dewi  pun berpikir hal yang sama bahwa perampok di Surabaya adalah suami dari tetangganya tersebut. Namun mereka  tidak berani berbuat lebih. Sesampainya di rumah  Retno  tidak menceritakan hal tersebut ke orang tuanya. Tidak ingin mereka mencemaskan apa yang sudah terjadi.

Retno  ingin menceritakan kejadian ini hanya dengan Rohana teman seperjuangan. Ia berpendapat untuk sementara waktu memang Rohana lah yang pantas mengetahui rahasia tersebut. Tidak ketinggalan  Retno  membawa foto lama berisi gambar Edi Durjana dan Rusminah istrinya yang  sedang bermesraan.

Karena sudah siang Retno mengayuh  sepedanya  meninggalkan rumah  sahabatnya. Dalam  perjalanan  pulang bayangan Pak Edi  selalu  mengahantuinya  sehingga ia merasakan ketakutan. Tepat  di siang yang terik itu Mak Rusmi dan Pak  Edi  datang ke rumah dan yang membukakan adalah Dewi. Mereka mencari Pak Wignyo  dan Ibu  Nurul. Mereka terlibat pembicaraan  ringan sampai terlihat ada sebuah mobil cokelat yang melintas di sekitar rumahnya dan tidak tahu itu mobil punya siapa.

Ternyata mobil itu adalah mobil yang menculik  Retno namun  mereka tidak mengetahui.  Ayah,  ibu dan adik khawatir mencari Retno yang tak kunjung pulang hingga akhirnya Hartanti menemukan sepeda  Retno  namun  orangnya sudah tidak ada.

Perasaan sahabat Retno tidak enak,  Rohana berpikir bahwa Retno diculik oleh Edi Durjana  yang merasa bahwa rahasianya  sudah  diketahui oleh Retno sehingga ia menculik Retno  dan ingin  menyingkirkannya  sehingga tidak ada lagi saksi  kunci mengenai  perampokan tersebut.

Rohana tidak menceritakan apa pun kepada orang tua Retno tentang kejadian yang dialami Retno.  Namun untuk  membantu  temannya Rohana menulis surat  di selembar kertas untuk polisi agar menangkap  Edi  Durjana  kalau ingin  menemukan Retno anak dari Pak Wignyo. Dalam surat tersebut tertulis penulis Si Cabe Rawit. Surat dilipat dan tidak mencantumkan alamat pengirim.  Mendekati kantor polisi Rohana meminta tolong anak kecil yang sedang bermain  kelereng untuk memberikan surat tersebut kepada Pak Polisi.

Dalam surat tersebut juga terdapat foto Edi Durjana.  Sehingga memudahkan polisi mencari.  Setelah polisi mendapatkan surat tersebut segera dibuka dan membaca,  tak lama kemudian komandan memerintahkan anak buahnya untuk mencari dan menangkap Edi Durjana. Berita penangkapan Edi Durjana sudah menyebar, namun Pak Wignyo tidak tahu bahwa penangkapan tersebut karena indikasi Edi sudah menculik Retno.

Meskipun Edi Durjana sudah ditangkap namun mereka belum menemukan Retno karena Edi tidak mengakui bahwa ia telah menculik Retno.  Retno  dibius oleh Jo Basong dan Ran Munyuk dibawa menggunakan mobil cokelat. Mereka membawa mobil menuju rumah besar yang memiliki halaman luas dikelilingi tembok besar di dekat sungai.

Edi Durjana  mengelabui polisi bahwa ia tidak terlibat dalam penculikan Retno dan dengan terpaksa pihak polisi membebaskan Edi karena bukti belum cukup akurat. Edi sangat senang, dia lalu menelepon Jo Basong  dan ingin berbicara dengan Retno yang sudah menjadi tawanannya.  Edi bercerita tentang sebuah rahasia besar perusahaan yang semua karyawannya adalah komplotan perampok.  Edi  menceritakan semua tanpa ada yang ditutupi karena memang besok  ia menyuruh Ko Badong dan Rum untuk membunuh Retno.

Retno  sangat takut  namun  ia  tidak mau mati konyol dengan penjahat itu. Retno  mempunyai ide  dan  membangun  keberanian  untuk menyusun rencana kabur. Pagi hari ketika Rum Munyuk izin keluar tinggalan Jo Basong datang memberikan makanan kepada Retno. Dengan sigap Retno  melilitkan kabel  ke Jo Basong sehingga ia terkapar lemas tak berdaya.  Retno  dengan hati-hati melangkah keluar dan memutuskan untuk berlari menuju arah barat melewati Sungai Berantas ke Kota Blitar karena takut Munyuk ada di daerah selatan.

Belum sempat menyeberang sungai Retno  dikejutkan oleh sorot lampu,  ia merasa cemas takut kalau itu Rum  Munyuk. Namun ternyata salah itu adalah Bu Guru dengan keberanian  penuh  Retno  mengahadang  dan  ingin  membonceng  Bu Guru. Retno  membonceng sampai di sekolahan Rejotangan.

Sampai di sekolahan bu Demi memberikan Retno uang untuk ia bisa kembali pulang ke rumah.  Dengan segera akhirnya Retno menuju terminal  bus  dan melanjutkan perjalanannya. Namun sampai di pasar Ngunut bus berhenti agak lama Retno memutuskan untuk telepon polisi  menggunakan telepon umum dan menceritakan semua yang terjadi dan tentang Edi Durjana. Akhirnya polisi menangkap  Edi Durjana dan komplotannya. Berita ini menyebar di seluruh  media cetak. Dan semua orang tau siapa Si Cabe Rawit itu.

Amanat : Kekuatan tidak harus dilawan dengan kekuatan juga melainkan pergunakan akal agar semua masalah terselesaikan dengan baik. (*/ykib)

Resensi Buku Terno Si Cabe Rawit

Pengarang : Suwigyo Adi

Halaman : 116

*Penulis resensi buku adalah Guru Kampung Ilmu Purwosari

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *