Oleh Arum Nila Nadiya, S.Pd.
Buah Strawberry itu sangat menarik warnanya, unik bentuknya, mahal harganya, dan disukai banyak orang. Namun dibalik kecantikan buah Strawberry, ada satu keadaan yang sangat mengecewakan bagi banyak orang. Buah Strawberry adalah buah yang sangat rapuh dan mudah terluka ataupun terkoyak.
Strawberry Generation yaitu perubahan yang terjadi di generasi muda kita. Buku ini mengingatkan anak muda agar tidak menjadi “generasi strawberry” yaitu generasi yang memiliki banyak ide dan gagasan kreatif tapi mudah menyerah dan gampang sakit hati.
Kita tahu generasi anak-anak masa kini memiliki kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang lebih hebat dari pada generasi sebelumnya. Karena mereka terlahir ketika perkembangan teknologi digital dan arus informasi berkembang pesat. Namun ketika mereka dihadapkan dengan suatu permasalahan mereka mudah menyerah dengan keadaan. Daya juang untuk bertahan pada posisi yang tidak nyaman belum mereka kuasai, sehingga mereka bisa diibaratkan seperti buah strawberry mudah terluka.
Hidup itu pada dasarnya adalah tantangan. Dan untuk menghadapi tantangan dibutuhkan manusia-manusia yang terlatih secara mental untuk menghadapinya, bukan menghindarinya. Dalam buku ini dijelaskan bahwa mindset ada dua yaitu mindset penerobos, disebut growth mindset yaitu orang yang punya daya juang didik, terbiasa menghadapi kesulitan untuk menang. Sebaliknya generasi yang “manja”, yang menjadi strawberry itu, yang mudah hancur digerus kompetisi dan ketidakpastian di sebut fixed mindset.
Menurut Carol Dweck karakter orang dengan setiing-an itu menolak tantangan-tantangan baru , menganggap kerja keras sia-sia, tidak senang menerima kritik, dia sangat sinis jika melihat orang lain lebih hebat dari dirinya dan menggangap sebagai ancaman baginya. Dan biasanya orang-orang seprti ini biasanya menjadi sering membaggakan “apa yang sudah dia capai”. Pada dasarnya pintar yang kita butuhkan bukanlah pintar yang sudah selesai, melainkan yang di-setting untuk tumbuh (growth mindset).
Bila ingin anak lebih maju sebaiknya orangtua dan pendidik mengenal kemajuan kualitas keterampilan working memory anak-anaknya. Sebab, mereka dilahirkan dan dibesarkan dengan kualitas yang berbeda-beda, dan tentu tidak dapat dituntut hasil yang sama.
Jadilah driver yaitu orang yang berpikir, sedangkan penumpang orang yang tidak perlu berpikir. Pada dasarnya “belajar” adalah berpikir sedangkan menghafal bukanlah berpikir melainkan menuju jalan yang sama terus menurus dan tidak ingin mencari jalan pintas di saat kemacetan melanda karena dia menganggap jalan baru itu sebagai a dead end (jalan mati). Sedagkan menurut driver adalah detour (perputaran).
Genius atau manusia berbakat bukanlah dilahirkan, melainkan dibentuk melalui sejumlah latihan. Dilihat pada Mozart dan kakaknya Anna Maria sudah menjadi bagian dari sosialita Australia yang berkumpul dengan Eropa, mempertontonkan bakatnya yaitu bermain piano. Ternyata ayahnya Leopold Mozart telah melatihnya sejak usia tiga tahun dan menjalani latihan lebih dari 3.500 jam dan pasrtinya jika orang melihatnya pasti berdecak kagum dan mengatakan anak ini berbakat dan anda sendirilah penemu bakat itu bukan sidik jari anda, bukan pula getaran-getaran lain yang bisa dilihat dari jejak sejarah atau desain darah anda. Dan anda bisa memulai dari mana saja.
Siapakah guru terbaik itu? Jawabannya adalah alam semesta. Mengapa demikian? Karena alam semestalah yang membuat pikiran manusia itu bekerja untuk menelaah hukum kausalitas. Realitas kehidupan saat ini membutuhkan penalaran yang logis untuk memecahkan persoalan-persoalan kehidupan yang semakin kompleks. Dan semakin berubah setiap harinya. Sebagai orang dewasa kita harus bisa memberikan contoh keteladanan bagi generasi sekarang, untuk melanjutkan estafet sebagai Khalifah di muka bumi. Perubahan tatanan kehidupaan saat ini bergerak dengan sangat cepat. Dinamika perubahan harus diimbangi dengan kekuatan ataupun daya juang untuk bertahan pada kondisi yang tidak stabil (hal 223).
Manusia hebat bukanlah manusia yang memperoeh nilai mata pelajaran yang tinggi, melainkan manusia yang berkarakter kuat, dapat dipercaya, mudah diterima, memiliki growth mindset, berjiwa terbuka, dan pandai mengungkapkan isi pikiranya dengan baik.
Latihlah mulai dari sekarang anak-anak kita untuk terbiasa mengerjakan dan menyelesaikan persoalannya sendiri. Kita sebagai orang dewasa hanya berperan untuk mendampingi dan mengevaluasi kemajuan yang ada pada diri mereka. Karena sifat bergantung pada orang lain akan membentuk karakter anak menjadi tidak mandiri, bermental passenger, dan tidak berpikir kreatif. Semua bisa diperoleh dengan cara instan, akhirnya ketika dihadapkan pada suatu persoalan dalam kehidupannya langsung menyerah.
Buku Strawberry Generation Mengubah Generasi Rapuh Menjadi Generasi Tangguh sangat cocok untuk bacaan dalam keluarga. Orang tua, Pendidik, dan anak-anak kalangan menegah, kita bisa belajar mengambil intisari dari buku tersebut sebagai acuan untuk mengevaluasi. Apakah kita selama menjadi orang tua atau pendidik sudah tepat dalam mendidik anak-anak kita untuk menjadi generasi yang tangguh?
Kelebihan: Ulasan dalam buku ini sangat enak untuk dibaca oleh siapapun. Mudah dipahami, dan dimengerti, serta ringkas penjelasaannya, dan ada kata kunci di setiap bab halaman. Anak-anak kalangan menengah sangat disarankan untuk membaca buku ini agar bisa menata masa depannya mulai dari sekarang.
Kekurangan: Campuran bahasa asing atau Inggris, akan tetapi orang yang kurang paham mungkin kesulitan dalam mengartikan bahasanya. (*/ykib).
Identitas buku :
Judul buku : Strawberry Generation
Penulis : Rhenal Kasali
Jumlah halaman: 280 hlm.
Penerbit : Mizan

