Menjadi Cerdas Dengan Jalan Kenabian

Oleh Reza Umami Khoirunisa’, S.Si.

Buku berjudul “Prophetic Learning : Menjadi Cerdas dengan Jalan Kenabian” ini menjelaskan bagaimana menjadi Muslim pembelajar yang selalu semangat dalam mencari ilmu pengetahuan. Bila dibandingkan dengan zaman para sahabat, semangat generasi pemuda Islam saat ini tentu masih jauh tertinggal semangatnya. Banyak pemuda-pemudi Islam dalam mencari ilmu mengalami kepayahan semangat. Keingintahuan mereka cenderung berbatas pada rasa ingin tahu yang tidak terealisasikan. Di dalam buku ini juga banyak disuguhkan tentang kisah-kisah para sahabat dan ulama-ulama besar yang begitu tangguh dan semangat dalam mencari ilmu, yang mampu menjadi motivasi agar kita juga lebih giat dan mencintai ilmu.  Bukan hanya kisah-kisah Islami yang menggugah jiwa, buku ini juga memberikan tips serta langkah-langkah kita untuk menjadi Muslim
pembelajar yang baik. Serta menjadi guru yang inspiratif.

Dalam buku ini menjelaskan bahwa ada tiga hal yang harus dilakukan agar belajar menjadi berkah, yaitu:

  1. Motivasi yang ikhlas (ikhlash an-niyyah)

Dalam belajar motivasi yang harus melandasi adalah mencari keridhaan Allah, bukan karena dorongan faktor lain. Lihatlah mereka yang belajar karena sekadar terdorong untuk mendapat kerja. Apa pun dilakukan sekadar memperoleh kerja. Kita senang digunakan, tetapi tidak pernah berpikir untuk kreatif dan mandiri, meski kita memiliki ilmu.

  1. Belajar dengan sebaik-baiknya (itqan al-‘amal)

Aktivitas belajar harus dilakukan sebaik mungkin. Jika akan ujian, dipersiapkan dengan baik dan tidak pernah terbesit untuk menyontek, karena selain ia merupakan kemaksiatan, menyontek tidak mengukur kemampuan kita sesungguhnya.

  1. Pemanfaatan hasil usaha (belajar) dengan tepat (jaudah al-ada’)

Setelah seorang Muslim berhasil melalui dua tahap sebelumnya, yaitu motivasi yang ikhlas semata-mata mencari ridha Allah, lalu belajar yang rajin, gigih, dan disiplin maka setelah mendapatkan ilmu, bagaimana ia memanfaatkan ilmu itu dengan tepat. Apakah sekadar untuk dirinya sendiri atau dimanfaatkan untuk kepentingan Islam dan umat Islam serta kepentingan masyarakat secara umum?

Menurut buku ini ada skema proses belajar generasi salaf yang terbagi menjadi 4:

  1. Cerdas menata pikiran
    Semua berawal dari pikiran. Apa yang kita pikirkan, itulah yang akan terjadi. Jika kita berpikir bisa, maka akan bisa, dan sebaliknya. Untuk menata pikiran, kita bisa melakukan 4 hal berikut: eliminasi (menghilangkan pikiran-pikiran negatif yang ada dalam diri), substitusi (mengganti pikiran negatif dengan pikiran positif, visualisasi/membuat gambaran nyata tentang keinginan-keinginan kita), dan ekspektasi rabbani (mengharap pada Allah melalui doa).
  2. Cerdas dengan menata mental
    Pikiran menentukan arah, sementara mental memberikan suntikan energi yang akan menghasilkan tindakan. Empat hal yang dapat dilakukan untuk menata mental adalah menumbuhkan kemauan, melahirkan efikasi diri/keinginan yang kuat untuk sukses, mendayakan kesabaran (sabar dalam menghadapi kekurangan sarana, sabar dalam menangkal godaan selama belajar, dan sabar dalam memahami materi), dan menciptakan zona nyaman.
  3. Cerdas menata fisik
    Ketika jiwa begitu menggelora, maka fisik pun harus kuat mengikutinya. Sebab itu kita harus memperhatikan makanan yang dimakan, mengoptimalkan gerakan untuk kecerdasan, dan istirahat yang cukup.
  4. Cerdas menjadi guru
    Cara tercepat untuk belajar adalah dengan mengajarkan. Sebab fitrah manusia ingin menampilkan yang terbaik dari dirinya di hadapan orang lain (self presentation).

Kesuksesan dalam bidang apa pun ternyata tidak lahir secara instan. Ia lahir dari kebiasaan-kebiasaan sukses yang dilakukan secara istiqamah. Berikut kebiasaan Muslim pembelajar yang akan mendorong munculnya tradisi-tradisi Muslim pembelajar :
1. Pada mulanya adalah membaca

  1. Sebuah buku adalah setetes ilmu
  2. Raudhah itu bernama perpustakaan dan toko buku
  3. Tentang efektivitas baca (rumusnya: jumlah kaya/waktu baca (detik) x 60
  4. Menulis, tradisi mengikat gagasan
  5. Mencatat ide yang berserakan
  6. Menulis materi kuliah (belajar mengungkap pemahaman)
  7. Menulis dengan “Gaya Bertutur”
  8. Rihlah ilmiah
  9. Tradisi berpikir (tafakur)

Rasulullah telah melejitkan para shahabat menjadi manusia-manusia unggul dan berkarakter baik. Beliau tidak sekadar mentransfer pengetahuan kepada para sahabat, tetapi sekaligus menanamkan metode berpikir ilmiah. Berikut merupakan gambaran tentang garis-garis besar pengajaran yang dilakukan Rasulullah.
1. Beliau menanamkan struktur berpikir ilmiah yang berpijak pada alasan dan dasar hukum yang valid (salih) dan jelas (wadhih)
2. Memberi jawaban tidak sekadar pada pertanyaan, tetapi menjawab dengan kaidah umum
3. Memberi perhatian terhadap potensi murid atau mitra belajar
4. Menghubungkan materi dengan kenyataan sehari-hari
5. Memberi apresiasi positif bagi mitra belajar
6. Menyampaikan materi dengan menarik dan variatif

Kelebihan :
Buku ini menyuguhkan kisah-kisah luar biasa yang inspiratif, pembaca juga diajak untuk lebih berinteraksi lewat program tafakur dan ikhtisar. Selain mudah dipahami, buku ini juga mengemas permasalahan yang sering dialami para Muslim pembelajar, sehingga konteksnya sesuai dan juga menarik.

Identitas buku :
Judul Buku      : Prophetic Learning, Menjadi Cerdas dengan Jalan Kenabian
Penulis              : Dwi Budiyanto
Penerbit            : Pro-U Media
Jumlah hlm       : 268 hlm
Jumlah bab       : 9 bab

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *