Jalan Bandungan

*Oleh Dinda Putri Anggriani, S.T.

Jalan Bandungan merupakan salah satu karya terbaik Nurhayati Sri Hardini atau lebih dikenal dengan nama Nh. Dini. Cara bercerita Nh. Dini masih seperti biasanya, sederhana tapi selalu mengena. Pada Jalan Bandungan, sebuah wilayah di Semarang mengisahkan sosok Muryati yang kerap dipanggil Mur menjadi saksi keteguhan sebagai manusia yang diuji oleh-Nya. Dalam kurun waktu yang cepat Mur diberikan kenangan manis dan pahit sebagai tanda akan kebesaran-Nya. Sosok Mur yang tangguh yang mampu membuat kita ikut benci dengan Widodo, juga serba bingung akan karakter Handoko yang merasa seperti korban padahal jelas di sini Mur lah yang paling tersakiti. Pada buku ini Nh. Dini tidak menghilangkan ciri khas dalam penulisannya yang selalu membuat para pembacanya dengan mudah mengenali dengan jelas akan gaya bahasanya.

Muryati seorang janda yang harus menghidupi ketiga anaknya dan mengabdikan dirinya pada pendidikan. Menjadi janda tidaklah ada pada skenario hidup Mur, tapi apa boleh buat ia dipaksa hidup tanpa kehadiran pasangannya selama empat belas tahun dan menghidupi keluarganya seorang diri. Widodo-suaminya-yang menjadi tahanan politik pada masa itu akibat ulahnya sendiri.

Bukan dari mulut suaminya tapi dari mulut orang-orang sekitarlah Mur tahu bahwa suaminya terlibat partai yang seharusnya tak disentuhnya. Mana ia tahu bahwa suaminya terperosok pada jurang sedalam itu. Layaknya seorang istri pada zaman revolusi Mur harus meninggalkan pekerjaan awalnya dan menuruti semua perkataan suaminya. Seorang istri haruslah berbakti pada sang suami, mengurus rumah, dan tidak lebih tinggi derajatnya dibanding suami, katanya. Tapi dari semua tuntutan itu suaminya amatlah tidak terbuka pada Mur, itulah sifat yang tidak bisa disukai Mur. Pernikahan yang dimulai dari keinginan ayah Mur tidak berjalan dengan apa yang diinginkan. Widodo berubah ketika ayah Mur telah meninggal dunia. Prahara-prahara masalah rumah tangga kerap datang pada mereka, hingga pada puncaknya.

Mulai sejak kata “terlibat” itu mampu membuat hidup Mur jungkir balik. Seperti penyakit tertular ia dan keluarga kecilnya dikucilkan. Bahkan saudara kerabat sendiripun mengucilkannya. Perkara menjadi seorang istri yang terlibat bukan hal yang mudah, ia dipersulit dalam segala hal yang berhubungan dengan lembaga. Bantuan untuknya tertutup, muka masam, kalimat sindiran, penolakan mentah-mentah akan pekerjaan: ya mereka khawatir bahwa seorang istri yang terlibat pasti juga terlibat!.

Perjuangan Mur kian membuahkan hasil, sahabat-sahabat Mur tidak meninggalkan Mur di jalan yang kelam, mereka mendorong kemajuan Mur baik secara moril maupun materil. Ganik dan keluarganya salah satu sahabat Mur yang begitu baik padanya sangat membantu Mur dalam mensukseskan karirnya. Ketika ia berhasil menjadi salah satu perwakilan dari Indonesia dengan mendapatkan beasiswa untuk mendapatkan kuliah singkat di Negeri Belanda. Ganik lah yang selalu senantiasa memberi perhatian kepada Mur hingga Mur sendiri sudah menganggap Ganik dan keluarganya sebagai keluarga kedua Mur.

Di perjalanan itulah Mur bertemu dengan sosok Handoko, yang ternyata adik mantan suaminya. Mur tidak pernah tahu seluk beluk keluarga Widodo, mantan suaminya itu begitu tertutup bahkan tidak menceritakan keluarganya sendiri. Namun Mur tidak berpikiran sempit seperti mantan suami, demi ketiga anaknya Mur rela mencari keluarga mertua. Ia tak ingin anak-anaknya tidak mengenal sosok keluarga ayahnya, biarlah Mur sendiri yang membenci mantan suaminya. Mantan suaminya tetaplah ayah bagi anak-anaknya apapun yang terjadi.

Nahas, kesedihan kembali datang pada Mur. Orang tua Ganik meninggal dalam sebuah kecelakaan, dan Ganik sendiri ternyata mengidap penyakit kanker. Sebagai kepedulian Mur, ia merawat Ganik dengan baiknya di rumah Ganik di Jalan Bandungan. Ia dan sahabat-sahabatnya silih berganti merawat Ganik hingga Ganik menyusul kedua orang tuanya.

Singkat cerita, di Jalan Bandungan peninggalan Ganik ini lah Mur memulai kehidupan barunya bersama Handoko. Tapi ketenangan Mur diusik kembali karena sang mantan Tapol alias mantan suaminya telah bebas setelah mendekam di penjara.

“Ah, manusia!. Selalu tergiur oleh ‘seandainya’. seolah-olah dengan kata itu kita bisa membentuk dunia baru atau kehidupan yang sesuai dengan keinginan masing-masing.” kata Murhayati ketika berita tawanan Pulau Buru akan dibebaskan. (*/ykib).

Buku ini mampu membuat kita sebagai pembaca melihat kehidupan rumah tangga dari sudut pandang Muryati. Selalu ada hal baik yang datang ketika hal susah terjadi pada kita, dan sebaliknya. Tapi sebagai hamba-Nya tidak patutlah kita merasa paling tersakiti, usaha dan ketangguhan mampu membuat kita kembali berdiri tegak kembali.

Pada buku Nh. Dini ini kelebihannya selalu terlihat dengan gaya bahasa yang unik, gaya bahasa sang penulis yang bisa membuat kita seakaan mengalami kejadian itu sendiri. Penggambaran emosi Mur sangat terlihat jelas dan kuat. Konflik dan cerita yang dibawakan tidak berlebihan untuk latar cerita tahun 50-70an.

Namun, pembaca mungkin akan dibuat bingung akan alurnya yang campur. Dan sebagai pemula yang mulai membaca mungkin akan sempat bosan pada bab awal.

Identitas Buku:

Judul buku: Jalan Bandungan

Penulis: Nh. Dini

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Tahun terbit: 2009

No ISBN: 978-979-22-5085-5

Deskripsi Fisik (Tebal): 437 halaman

*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Kalitidu.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *