Langkah Belum Usai

*Oleh Arthamara Devina A. S.Psi.

Hidup bukan hanya tentang bertahan, memperoleh ketenaran atau mengumpulkan kekayaan. Hidup juga bukan hanya tentang mencari kebahagiaan, karena kebahagiaan itu datang dengan sendiri jika hidup kita mempunyai suatu tujuan. Salah satunya seorang Muslim yang mempunyai tujuan yaitu beribadah kepada Allah SWT. Jika kita menjalani kehidupan sesuai dengan tujuan yang kita ciptakan, maka kehidupan kita akan dipenuhi dengan kedamaian dan kebahagiaan.

Setiap manusia pasti mempunyai ujian masing-masing dan bentuk ujiannya sangat beragam sesuai kondisi dan kapasitasnya masing-masing, contohnya ada yang diuji gagal masuk perguruan tinggi negeri, ada yang diuji gagal menikah atau patah hati yang menyebabkan jiwa (hatinya) yang terpengaruh, ada juga yang diuji dengan diberhentikan dari tempat kerjanya yang menyebabkan mengguncangkan hati dan fisik seseorang. Semua ujian itu sudah Allah tetapkan sesuai dengan kadar kesanggupan masing-masing orang, pasti bisa terselesaikan dan tidak akan mungkin diberikan di luar kemampuan orang tersebut. Sesuai yang dijelaskan dalam surah Al-Baqarah:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah:286).

Allah adalah Al-Hakim (Mahabijaksana) dan Al-Adil  (Mahaadil) yang artinya Allah pasti selalu adil dan bijaksana dalam mengatur kadar ujian dan beban masing-masing orang.

Kita sebagai manusia juga tidak boleh sombong atas segala pujian, misalnya ketika kita berada di titik teratas atau atas keberhasilan yang telah diperoleh, maka kita sebaiknya bersyukur dan selalu bertawakal karena sudah mendapatkan apa yang kita inginkan bahwa semua itu berkat adanya usaha dan selalu berdoa kepada Allah SWT.

Hampir semua manusia suka dengan pujian ketika seseorang tersebut menampakkan kesalihan bukan karena keikhlasan untuk berbuat baik tetapi hanya karena atas pujian orang lain, misalnya sedekah agar teman mengira kita orang yang dermawan, atau bersedekah lalu menceritakannya agar mendapat pujian, inilah yang menyebabkan seseorang mendapatkan dosa batin yang tidak disadari yaitu riya’ dan sum’ah atau musuh terbesar dari keikhlasan. 

Menurut Al-Hafidz Ibnu Hajar,  riya’ berarti memperlihatkan amalan di hadapan manusia agar dipuji, sementara sum’ah berarti memperdengarkan amalan di hadapan manusia agar dipuji. Kedua dosa ini memiliki inti yang sama yaitu mengharapkan pujian dari manusia. Bahayanya jika kita mengerjakan suatu amalan yang ternodai sedikit saja bentuk kesyirikan (riya’) maka Allah akan meninggalkan kita dengan pujian yang kita harapkan bukan diganjar dengan pahala ataupun ridha-Nya. Tetapi tidak semua orang juga yang ingin atas pujian, ada juga orang yang memperlihatkan suatu amalan yang baik dengan tujuan (niat) untuk memotivasi orang lain misalnya berdonasi di depan orang lain agar mereka juga ikut termotivasi.

“Barang siapa dapat  suatu kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya.” (HR. Muslim). Karena tujuan utama kita bukan untuk menjadi tidak terlihat oleh manusia, tetapi menjadikan pandangan dan komentar manusia itu tidak berpengaruh kepada performa ibadah kita, maksudnya ketika kita disanjung atau dihina oleh orang lain, kita tidak terpengaruh dengan perkataan orang tersebut. Jika ada seseorang yang memuji kita saat melakukan amal baik tanpa kita harapkan, sebenarnya itu belum tentu riya’, bisa jadi itu adalah balasan dari Allah atas keikhlasan yang sudah kita lakukan, asalkan kita tidak terpengaruh dan terlena dengan pujian itu.

Salah satu amalan terberat adalah ikhlas, amalan hati yang paling dasar yang harus selalu kita kerjakan sebagai salah satu syarat diterimanya ibadah. Langkah meraih keikhlasan antara lain; pertama berusaha menyembunyikan amalan yaitu langkah ini merupakan langkah awal yang efektif dalam menjaga keikhlasan karena pada dasarnya amalan yang disembunyikan akan luput dari perhatian orang lain dan memiliki peluang yang sangat kecil untuk dipuji, lalu yang kedua, yaitu memahami kesia-siaan. Maksudnya kita harus menyadari bahwa pujian dan hinaan manusia hanya sampai sepanjang lidah saja dan tidak ada dampak yang mempengaruhi terhadap hidup kita, yang ketiga yaitu mengetahui manfaat keikhlasan  yang artinya kita ingin mendapatkan balasan pahala dari amalan yang kita lakukan, yang keempat yaitu konsisten di saat sendiri dan di depan umum yang artinya untuk bisa meraih keikhlasan kita harus membiasakan diri untuk beribadah secara konsisten di waktu sendiri dan di depan umum, kelima yaitu mengevaluasi dan memperbarui niat yaitu dengan mengevaluasi secara berkala niatan dalam hati kita  untuk selalu ikhlas, dan yang terakhir keenam yaitu memperbanyak berdoa meminta keikhlasan karena sejatinya hati kita adalah orang yang labil, selalu berubah dari waktu ke waktu maka dari itu untuk meraih keikhlasan yaitu dengan meminta pertolongan dan berdoa kepada Allah SWT.

Setelah kita mendalami mengenai ikhlas, selanjutnya yaitu bertawakal, tawakal merupakan salah satu amalan hati yang paling dibutuhkan seseorang dalam meraih kesuksesan. Dalam bertawakal kita harus memahami bahwa dalam menjalani suatu urusan dunia maupun akhirat maka fisik dan hati mempunyai peranan yaitu fisik adalah berusaha (berikhtiar), jadi saat kita menjalankan sebuah urusan, kerahkanlah segala upaya fisik dengan maksimal dan juga jalankan hati dengan menyerahkan segala hal yang tidak dapat kita kontrol kepada Allah SWT. Ketika seseorang tidak bertawakal, maka segala urusannya terasa lebih berat.

Setelah berupaya maksimal dan bertawakal dalam suatu urusan, maka mulailah berbaik sangka dengan takdir yang Allah berikan. Takdir tak selalu berbentuk kekayaan, kesembuhan atau penerimaan, namun apapun takdir yang diberikan oleh-Nya, itulah takdir terbaik untuk kondisi kita pada saat itu.  Maka dari itu kita harus bersyukur dengan segala takdir yang sudah ditentukan oleh Allah. Saat urusan kita berjalan sesuai rencana, berarti Allah telah menyetujui dan meridhai rencana kita, tetapi saat urusan kita tidak berjalan sesuai rencana, berarti Allah sedang mengambil alih urusan kita.

Perjalanan hidup bukanlah perjalanan yang singkat. Ketika terjatuh, kita butuh berpegangan pada ilmu-ilmu yang bermanfaat. Kita berjuang butuh alasan untuk bertahan, tak mungkin kita mengikuti perkataan teman, apalagi melihat postingan di instagram, ingat perjalanan hidup itu berat dan panjang, kita juga perlu bekal ilmu untuk bisa memperbaiki niatan.

Buku ini sangat bagus untuk dibaca yang membuat kita untuk berhati besar dalam menghadapi ujian kehidupan yang sukar dan membuat kita selalu tegar dalam menghadapi apapun. (*/ykib).  

Identitas buku:

Judul : Langkah Belum Usai

Karya : @hijratime

Penerbit : PT. Magenta Media

*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Padangan

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *