Oleh Puguh Prianggoro, S.Pd.
Novel Saksi Mata merupakan sebuah novel karya Seno Gumira Ajidarma yang berisikan kumpulan-kumpulan cerpen yang pernah secara luas dimuat di media masa. Novel Saksi Mata ini diterbitkan PT Bentang Pustaka pada tahun 1994. Kumpulan cerpen karya Seno Gumira Ajidarma yang sering disingkat panggilannya menjadi SGA ini merupakan kumpulan cerpen yang berkisah tentang perjuangan manusia untuk mempertahankan atau menyempurnakan kemanusiaan lewat berbagai konflik berdarah, teror, hilangnya harapan, dan kesepian yang mencekam. Novel ini berisikan cerita yang kebanyakan berkisah tentang orang-orang yang terjajah dan ditindas oleh serdadu pemerintahan atau anggota militer yang dikirim ke daerah yang bersangkutan. Banyak hal yang dapat kita temukan dalam setiap cerpen yang kita baca mengenai rasa kengerian, rasa kesadisan, rasa akan hilangnya empati sesama manusia, dan kesedihan yang begitu mendalam. Novel Saksi Mata ini berlatar di Timor Leste semasa masih menjadi bagian dari Indonesia.
Novel Saksi Mata ini berisikan 16 buah cerpen yang yang di keseluruhan cerita membahas tentang kengerian hidup yang dialami orang-orang pada masa itu. Judul pertama cerpen ini merupakan judul yang sama dengan judul novel ini yaitu Saksi Mata. Dari sini kita bisa membayangkan bahwa peristiwa yang terjadi di cerpen ini merupakan kisah yang diceritakan oleh tokoh yang menjadi saksi mata atas kejadian-kejadian mengerikan tersebut. Dari 16 judul cerpen yang ada dalam novel ini adalah : Saksi Mata, Telinga, Manuel, Maria, Salvador, Rosario, Listrik, Perjalanan Sejarah, Misteri Kota Ningi, Klandestin, Darah itu Merah, Jendral, Seruling Kesunyian, Salazar, Junior, Kepala di Pagar Da Silva, dan Sebuah Pohon di Luar Desa. Dari keseluruh cerpen ini memiliki cerita yang berbeda-beda namun semua memliki kesamaan yang menceritakan kengerian dan kesedihan yang mendalam.
Dalam novel Saksi Mata ini terdapat cerpen yang sangat menarik yaitu berjudul Saksi Mata. Cerpen yang berjudul Saksi Mata memiliki cerita yang unik dan seru yang pastinya membuat pembacanya tertarik untuk membayangkan kejadian seperti apa yang sebenarnya terjadi saat itu karena dalam cerita, pada awalnya ada seorang saksi mata yang datang untuk melaporkan bahwa matanya telah hilang. Sang pelapor atau saksi mata ini melaporkan bahwa matanya telah hilang karena telah diambil oleh orang yang tidak dikenal. Dengan darah yang masih merembes dari kain perban yang menutup matanya yang sekarang tidak ada matanya. Saksi mata ini ketakutan dan keheranan kenapa bisa matanya diambil oleh orang-orang yang bahkan dia tidak kenal. Menurut penjelasannya di pengadilan saat dia tertidur dia bermimpi ada orang-orang yang datang dan tiba-tiba mengeluarkan sendok dan mencongkel matanya, saat itu dia hanya berpikir itu hanya mimpi, namun saat bangun ternyata matanya benar-benar hilang. orang yang mengambil matanya adalah orang-orang yang berbadan tegap, berpakaian serba hitam, dan memakai penutup kepala. Saat orang-orang itu mengambil matanya mereka tertawa terbahak-bahak dan berkata kalau matanya yang dicongkel itu akan dimasak tengkleng. Hakim yang mendengar penjelasan dari saksi mata yang sekarang tidak punya mata ini heran dengan penjelasannya dan berusaha berpikir siapa para pelaku itu karena sang pelapor juga tidak tahu karena dia sudah tidak punya mata lagi dan akhirnya hakim menyimpulkan, mereka yang telah mencongkel mata dari saksi mata itu adalah ninja. Dalam persidangan hakim sangat takjub dengan saksi mata tanpa mata ini karena dari sekian banyak saksi mata yang mengetahui kejadian itu hanya saksi mata tanpa mata ini yang berani bersuara dan menuntut keadilan. Dalam perjalanan pulang bapak hakim mulai memuji saksi mata tanpa mata ini kepada sopirnya, dengan menghilangkan rasa bersalah dia pun menanggapinya dengan berkata keadilan tidak buta.
Novel Saksi Mata ini berisikan cerpen yang sangat menarik dan memberikan wawasan kepada kita tentang sebuah pelajaran hidup bahwa pada masa itu harus dilewati dengan perjuangan yang sungguh tidak ringan bahkan terlampau berat bagi siapapun, terlebih lagi bagi orang-orang yang ada dalam pusaran konflik tersebut. Bagi kita yang telah hidup dalam kedamaian dan tidak mengalami kejadian-kejadian dalam novel sudah seharusnya kita harus terus bersyukur karena kehidupan sekarang sudah jauh berbeda dengan masa itu. Dalam novel ini juga memiliki sebuah kekurangan karena kita harus benar-benar fokus saat membacanya, harus dengan teliti saat membaca karena cerita dalam novel ini susah untuk kita pahami jika sekali membaca. Untuk keseluruhan novel ini benar-benar novel yang menyuguhkan cerpen-cerpen yang bagus. (*/ykib).

