Sayangi Dirimu, Berhentilah Menyenangkan Semua Orang

*Oleh Ainun Dyan Suttie P, S.Pd.

Buku ini menceritakan tentang kisah- kisah hidup yang dialami sehari- hari mengenai bagaimana kita menghadapi masalah, tentang dunia yang tidak ramah, sampai dengan menghadapi hidup kita agar bahagia.

Penulis menceritakan banyak hal di sini yaitu tentang hati seseorang yang kebanyakan hanya menjadi tempat singgah, di mana nama- nama yang berkamar di sana bisa pergi lalu berganti nama lain.

Apakah kita layak untuk dipertahankan sebagai orang penting untuk tetap menjadi teman dekat, ataukah status kita harus berubah menjadi teman lama yang dijumpai hanya untuk mengenang masa- masa bahagia di masa lalu.

Dalam hidup tidak sedikit teman- teman yang sangat dekat berubah menjadi asing. Sementara orang asing yang tidak pernah muncul di kehidupan kita akan menjadi orang terdekat. Kadang kala, kita akan merindukan masa- masa terbaik dengan mereka. Namun, jika kembali pada kenyataannya yang sedang dihadapi, bahwa posisi itu tak mungkin abadi di hati seseorang. Hanya saja, entah kenapa rasa tergantikan itulah yang bikin hati kita menyakitkan.

Dari sekian banyak teman atau orang terdekat bisa menjadi orang yang memiliki hobi mengoreksi hidup orang lain. Karena mereka berpikir bahwa kita sudah tidak lagi menjadi hal yang menguntungkan di hidupnya. Dan orang seperti itu adalah orang yang berlebihan energi dalam mengurusi hidup orang karena dia telah lelah mengurusi masalahnya sendiri yang terlalu rumit. Ini menjadi sebuah pelarian dari semua permasalahan yang ia hadapi agar hatinya merasa sedikit puas melihat orang lain juga susah.

Hindari toxic people adalah jalan terbaik agar kamu tidak berada di lingkungan yang justru memperkeruh permasalahan yang sedang kamu hadapi. Bisa jadi masalah yang kamu hadapi akan semakin melebar kemana- mana karena omongan- omongan yang diciptakan dari teman toxic tersebut.

 Ciri- ciri orang toxic adalah ia sering manipulatif, memanfaatkan seseorang demi keuntungan pribadi. Mudah menyakiti hati sesorang, mereka tidak segan- segan menyakiti dengan dalil demi kebaikan kita. Egois, mereka adalah teman terdekat kita namun tidak pernah memikirkan kita. Tidak bisa bersimpati dan empati. Sulit mengakui kesalahan juga merupakan orang toxic.

Dalam sebuah kehidupan kita juga tidak bisa memilih dari keluarga mana kita dilahirkan. Karena takdir adalah hasil akhir dari sebuah pilihan yang harus dijalani. Dari sebuah keluarga kita juga akan menemui banyak permasalahan misalkan tidak akan mudah bagi anak yang terlahir dari keluarga pas- pasan untuk menentukan masa depannya. Akan susah untuk menentukan tempat sekolah ataupun kuliah karena terhalang biaya.

Sebuah kata yang tepat untuk menggambarkan semua itu adalah “tingginya pendidikan seseorang maka penghasilan materinya akan mengikuti”. Bila tidak punya apa- apa, dan kekayaan yang dihimpunnya bukan berupa materiil, maka tak berartilah seseorang itu mesti ia mampu bertahan dari gulungan ujian yang menghantam hidupnya. Tak jadi berartilah seseorang itu meski hatinya diliputi kebahagiaan karena standar bahagia seseorang terlihat dari kekayaannya.

Banyak dari kita memandang masalah yang datang adalah sebagai benang kusut yang saat melihatnya saja sudah membuat kepala kita sakit, apalagi harus mengurainya agar semua kembali lurus dan rapi.

Namun sebenarnya untuk mengurai benang kusut bukan hal yang mustahil dilakukan. Kita bisa melakukannya meskipun harus memutuskan benang tersebut, digunting, atau bahkan harus membuang benang yang kusut tersebut.

Masalah hidup sedemikian rupa akan bisa kita selesaikan meskipun harus patah, sulit mengurai dan menyambung patahan lagi harus kita jalani. Kita juga bisa menekan masalah dengan cara menurunkan ekspetasi kita akan sebuah masalah yang terjadi.

Yang harus kita ingat adalah bahwasanya setiap orang punya pemikiran yang berbeda dengan apa yang kita pikirkan. Kita berpikir bahwa dia adalah seorang teman yang baik, yang mampu menerima kita dengan segala kekurangan kita namun ternyata dia hanya berpura- pura baik karena kita menguntungkan bagi dia. Atau dia pura- pura baik dengan kita karena kita berada di lingkup yang sama yang mengharuskan kita setiap hari bertemu dan bekerja sama.

Jadi sebaiknya setiap kita mendapatkan permasalahan sebisa mungkin untuk mencoba menyelesaikan sendiri tanpa menceritakan kepada teman. Karena tidak semua teman itu mengerti dan memberikan solusi bijak. Ketika kita sedang patah, janganlah lantah nyampah ke orang yang salah. Sebab di lain hari, sampah- sampah itu pasti kembali ke muka sendiri.

Namun ada juga teman yang mengerti dan mampu menemani saat kita patah dan merasa hidup sudah tidak berarti. Ketika kita fokus pada penderitaan sendiri, akan membuat kita merasa paling menderita. Letakkan semua permasalahan yang ada dan percayakan kepada seorang teman untuk ikut serta menanggung walau hanya mampu menjadi tempat pendengar saja.

Bila menatap kebahagiaan orang lain membuat diri kita semakin merasa terpuruk, tidak ada salahnya kita letakkan masalah itu sejenak untuk kemudian melihat kesulitan-kesuliatan orang lain yanga ada di bawah kita.

Bisa jadi sebuah kebahagiaan seseorang itu ada pada sebuah pengakuan dari anggota keluarga atau bahkan pasangannya. Kita butuh seseorang yang mampu membuat kita semangat dalam menjalani kehidupan meskipun akan tetap dihadapkan pada sebuah kesulitan. Pil kebahagiaan seseorang tentunya berbeda- beda.

Padahal sebenarnya hidup adalah tentang persepsi. Seperti kita menganggap hubungan tanpa konflik adalah sesuatu yang indah namun tidak banyak orang juga menganggap bahwa hubungan tanpa konflik akan hambar dan kurang menantang. Bila masih dalam batasan- batasan yang wajar, adanya konflik justru dapat menghidupkan jiwa demokratis kita.

Akan ada banyak faktor yang menjadikan transfer kebahagiaan dari seseorang tidak sampai kepada yang diharapkan. Hal yang berhubungan dengan standar yang berbeda- beda, kebutuhan yang berbeda, harapan yang berbeda dan pola pikir yang mempengaruhi.

Setiap orang bebas memilih jalan kebahagiaannya sendiri. Kita punya versi berbeda yang bila di perdebatkan hanya akan memunculkan pembenaran-pembenaran dan penghakiman yang tiada berujung. Maka nikmatilah hidup kita. Apapun versi kebahagiaan itu.

Maka mulai sekarang belajar mencintai diri sendiri. Kita harus bahagia dengan apa yang ada pada diri kita sendiri. Bukan tugas seseorang yang membahagiakan kita tapi tugas kita untuk membahagiakan diri kita sendiri dengan pikiran terbuka.

Bagaimana kita mencintai diri kita sendiri, berikut cara dan tipsnya :

  1. Kenali diri sendiri : luangkan waktu untuk sekedar mengikuti apa yang sedang tubuh kita inginkan. Misalnya kita butuh tidur untuk mengembalikan tenaga di siang hari di hari libur.
  2. Terima apa adanya : jangan ada kata insecure untuk diri kita, abaikan apa kata orang dan nikmati hidup kita dengan segala bentuk tubuh yang kita miliki
  3. Tidak perlu merasa sempurna
  4. Fokus pada dunia kita
  5. Menghargai diri sendiri
  6. Tidak membandingkan diri kita dengan orang lain
  7. Tidak perlu terbawa arus kehidupan orang lain

 

Jadilah orang yang bahagia menurut versimu sendiri, tidak perlu memikirkan pendapat orang lain tentang dirimu. Lakukan apapun yang kamu mau selagi itu bukan menyalahi aturan dan tidak merugikan orang lain.

Kelebihan buku : memberikan wawasan tentang bagaimana kita seharusnya menghadapi setiap permasalahan yang sedang dijalani

Kekurangan buku : buku ini terdiri dari beberapa judul cerita

Identitas buku :

Judul : Sayangi Dirimu, Berhentilah Menyenangkan Semua Orang

Penulis : Sabrina Ara

Penerbit : Syalmahat Publishing

Jumlah halaman : 170 lembar

*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Purwosari

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *