*Oleh Dinda Putri Anggriani, S.T.
The midnight library atau dalam terjemahan diartikan perpustakaan tengah malam merupakan salah satu novel fantasi karya Matt Haig, penulis ternama asli Inggris. Novel ini dinobatkan sebagai buku terlaris oleh The New York Times, The Boston Globe, dan The Washington Post. Selain itu, novel ini juga berhasil membawa Matt Haig mendapatkan berbagai penghargaan, seperti pemenang di Goodreads Choice Award kategori Best Fiction 2020.
The Midnight Library menceritakan kisah seorang gadis bernama Nora Seed yang berada di antara kehidupan dan kematian, di sebuah latar perpustakaan yang memiliki buku tak terhingga jumlahnya. Di mana setiap buku menyediakan satu kehidupan lain, supaya dia bisa melihat kisah hidup lain jika dia membuat keputusan berbeda. Nora yang merasakan banyak penyelesaan akan hidupnya, kini di perpustakaan tengah malam dia mencoba menemukan kehidupan yang paling dia harapkan dan dia sukai.
Semasa hidup Nora merasa bahwa hidupnya sangat payah dan tidak memiliki alasan untuk bertahan hidup lagi. Tak satu pun apa yang telah ia lakukan berjalan dengan baik. Setiap tindakan yang dia ambil akan berujung kesalahan, menjadi bencana, dan berakhir dengan penyesalan. Untuk itu di perpustakaan tengah malam inilah dia memiliki kesempatan untuk memperbaiki semuanya.
Nora gagal menikah dengan kekasihnya. Dia mengecewakan ayahnya karena berhenti menjadi atlet renang, dan menjauh dari mimpinya untuk bisa berenang di olimpiade. Dia mundur sebagai vokalis The Labyrint, sebuah band yang dibentuk oleh kakaknya Joe dan temannya Ravi, menolak tawaran dari label rekaman hingga hubungan mereka menjadi renggang. Bahkan, Nora dipecat dari pekerjaannya sebgai penjaga toko dan murid les pianonya mengundurkan diri di hari yang sama. Mr. Banerjee, tetangganya seorang kakek tua yang biasanya meminta bantuannya untuk mengambilkan obat pun tiba-tiba memberitahunya bahwa ada orang lain yang bisa mengambilkan obat untuknya. Dari berbagai kejadian itulah Nora berpikir bahwa hidupnya tidak memiliki arti lagi dan ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya saja.
Setelah mencoba mengakhiri hidupnya dia terbangun di sebuah perpustakaan. Dalam benaknya dia mengira telah meninggal. Ketika Nora mengamati sekeliling dan mendapati banyaknya buku dan tak ada jalan, justru dia bertemu dengan Ny. Elm penjaga perpustakaan ketika ia masih sekolah.
Ny. Elm menjelaskan bahwa di perpustakaan ini dia bisa menjalani kehidupan berbeda seandainya dia membuat keputusan secara berbeda. Nora mencoba menemukan kehidupan di mana dia paling puas. Misalnya, satu kemungkinan kehidupan di mana dia mencoba bersatu kembali dan menikah dengan pacarnya. Tetapi kehidupan tersebut tidak seperti apa yang dia harapkan.
Nora juga melihat kehidupan dirinya sebagai seorang ahli glasiologi yang melakukan penelitian di kutub utara, tetapi ternyata juga bukan kehidupan yang ia harapakan. Kehidupan yang sangat berbeda dari kehidupan yang dia coba hindari, ternyata juga bukan pilihan yang lebih baik.
Begitu banyak buku yang dia ambil untuk melihat kesempatan memperbaiki kehidupannya, dia berubah dengan menjelajah waktu dan masuk dalam berbagai kehidupan untuk melihat keputusan mana yang dia harapkan untuk kehidupannya yang lebih baik. Sudah tak terhitungkan berapa kali dia masuk dan keluar pada setiap kemungkinan keputusan akan hidupnya yang ternyata begitu melelahkan.
Pada akhirnya, Nora belajar bahwa tidak ada kehidupan yang benar-benar sempurna sesuai dengan apa yang kita harapkan. Setiap versi kehidupan selalu ada lebih dan kurangnya. Nora menyadari bahwa bukan hidupnya yang tidak sempurna, tetapi membanding-bandingkan serta berandai-andailah yang menjadikan kehidupan terasa tidak pernah sempurna.
Lewat perpustakaan tengah malam inilah dia menyadari bahwa kehidupan terbaiknya adalah kehidupan yang sedang dijalaninya saat ini, bukan yang lain. Setiap keputusan selalu ada dampaknya, bahkan hal sekecil apapun akan membuat perubahan yang kita tidak pernah tahu persis akan berujung di mana. Tetapi yang paling utama adalah menghargai dan mencintai hidup yang tengah dianugerahkan kepadanya saat ini. Kita akan selalu dan pernah membuat keputusan yang keliru dan bertindak salah, tetapi ya begitulah hidup. (*/ykib).
Pada buku ini Matt Haig menggambarkan sebuah fiksi fantasi yang sangat menarik. Dengan terjemahan bahasa Indonesia juga baik dan mudah dipahami tentunya. Meskipun bergenre fantasi tetapi masih berkisah yang sangat realistis sehingga tetap menjadi kisah yang menginspirasi, menjadi pelajaran hidup dan perenungan.
Namun pada beberapa bagian cerita terdapat plot yang berulang dan terlalu panjang. Tetapi tidak begitu mempengaruhi kisahnya. Mungkin novel ini juga tidak cocok untuk mereka yang memiliki trauma tertentu.
Identitas Buku:
Judul buku: The Midnight Library (Perpustakaan Tengah Malam)
Penulis: Matt Haig
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Tahun terbit: 2021
No ISBN: 978-602-06-4932-0
Deskripsi Fisik (Tebal): 368 halaman
*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Kalitidu.

