Putri Niweri Gading

*Oleh Qoniatul Qismah, S.Pd.

Buku karya Yudhistira Ikranegara menceritakan tentang cerita rakyat Nusantara. Nusantara atau sekarang  lebih dikenal dengan nama Indonesia memiliki ribuan cerita rakyat. Bukan hanya tiap provinsi bahkan tiap kabupaten dan kecamatan mempunyai cerita rakyat yang baik.  Salah satu cerita dalam buku ini adalah kisah Putri Niweri Gading.

Puteri Niweri Gading

Alkisah, dahulu di negeri alas termasuk wilayah Nanggroe Aceh Darussalam, ada seorang raja yang bijaksana, sehari-hari pikirannya dicurahkan untuk memajukan negeri dan kemakmuran rakyatnya. Namun sayang Sang Raja tidak mempunyai putra. Mereka sedih  namun dibalik kesedihannya Raja senantiasa  ikhitiar dan selalu berdoa dan Raja pun selalu melakukan puasa. Hingga beberapa lama kemudian Permaisuri mengandung dan melahirkan anak laki-laki yang diberi nama Amat Mude.

Belum genap setahun umur Amat Mude, ayahnya meninggal dunia, karena masih bayi maka adik Sang Raja atau Paman (Pakcik) Amat Mude diangkat menjadi Raja sementara. Paman Amat Mude bernama Raja Muda. Setelah diangkat menjadi Raja ia  malah bertindak kejam kepada Amat Mude dan ibunya.  Mereka diasingkan di sebuah hutan terpencil. Raja Muda ingin menguasai sepenuhnya kerajaan yang sesungguhnya menjadi hak Amat Mude.

Walau dibuang jauh dari istana Permaisuri tidak mengeluh, ia terima cobaan itu dengan sabar dan tabah. Ia besarkan Amat Mude dengan kasih sayang. Tahun demi tahun berlalu, tak terasa Amat Mude tumbuh menjadi anak yang cerdas dan tampan. Amat Mude suka memancing ikan. Pada suatau hari Permaisuri dan Amat Mude pergi ke desa di pingggir hutan untuk menjual ikan. Tanpa disangka, ia bertemu dengan saudagar kaya. Ternyata dia dulu sahabat suaminya. “ Mengapa Tuan Putri dan putra mahkota berada di tempat ini? “tanya saudagar kaya itu keheranan. Permaisuri menceritakan semua kejadian yang menimpanya. Mendengar hal itu, Sang Saudagar segera mengajak ke rumahnya dan membeli semua ikannya. Setibanya di rumah, Saudagar itu menyuruh istrinya untuk segera memasak ikan tersebut. Ketika sedang memotong perut ikan, istri Saudagar merasa heran karena dari perut ikan keluar telur ikan yang berupa emas murni. Kemudian butiran telur itu dijual ke pasar oleh istri saudagar. Uangnya digunakan untuk membagun rumah Permaisuri dan Amat Mude. Sejak saat itu Permaisuri dan Amat Mude telah berubah manjadi orang kaya berkat telur-telur emas dari ikan.

Cerita tentang kekayaan Permaisuri dan Amat Mude sampai ke telinga  Raja Muda. Pada suatu hari. Raja muda memanggil Amat Mude ke istana. Ia memerintahkan Amat Mude memetik kelapa gading untuk mengobati penyakit istri Raja Muda di sebuah pulau yang terletak di tengah laut. Konon lautan di sekitar pulau itu dihuni oleh binatang-binatang buas. Siapa pun yang melewati pulau itu pasti celaka. Raja muda mengancam jika tidak berhasil, ia akan dihukum mati.

Singkat cerita, Amat Mude telah menemukan pohon kelapa gading dengan bantuan Silenggang Raye, raja buaya, dan seekor naga. Selanjutnya Amat Mude memanjat pohon. Ketika sedang memetik buah kelapa gading, tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan. “Siapa pun yang berhasil memetik buah kelapa gading, dia akan menjadi suamiku”.

“Siapakah engkau” tanya Amat Mude

“ Aku Putri Niwer Gading” jawabnya suara dari bawah pohon kelapa.

Amat Mude cepat-cepat memetik kelapa gading. Setelah turun dari atas pohon kelapa. Alangkah takjubnya Amat Mude melihat kecantikan Putri Niwer Gading, akhirnya Amat Mude mengajak sang putri pulang ke rumahnya untuk dipersunting. Setelah menikah, Amat Mude beserta istri dan ibunya berangkat ke istana untuk menyerahkan buah kelapa gading. Kedatangan Amat Mude membuat Raja Muda terheran-heran. Orang yang berhasil melewati rintangan di pulau angker pastilah orang sakti. Ia tidak mau main-main lagi . kini tidak ada alasan untuk menghukum mati keponakannya itu. Akhirnya Raja Muda sadar akan kesalahannya. Ia memohon maaf kepada Permaisuri dan Amat Mude, beberapa hari kemudian Amat Mude dinobatkan menjadi raja atas angin.

Pesan dalam cerita ini adalah ketika musibah terjadi diperlukan kesabaran dan ketabahan. Dan dengan bekerja keras kita akan sampai pada perbaikan nasib.

               Buku ini mengandung pesan moral dalam setiap cerita yang patut ditiru agar tidak bersikap buruk.  Buku ini disusun dengan illustrasi yang menarik dan cerita di dalamnya cukup sistematis sehigga mudah dipahami bila dibaca.

               Kekurangan buku ini yakni jenis kertas yang digunakan kurang bagus dan perlu adanya penambahan jumlah cerita mengingat Nusantara memiliki banyak cerita rakyat sehingga dapat menambah wawasan. (*/ykib)

Identitas Buku:

Judul:  Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara

Penulis: Yudhistira Ikranegara

Penerbit Utama: Dua Media

Tahun Terbit: 2017

Lembar Halaman: 128

*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Padanga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *